Solidaritas Kota

Jika Pemerintah dengan uangnya membangun bangunan fisik yang megah itu hal lumrah. Pemerintah mengelola uang negara dan kemudian mengimplementasikan uang itu untuk pembangunan. Jika kita melihat pembangunan fisik diberbagai kota, hari ini memang sedang marak pembangunan daerah dimulai dari taman-taman kota, nama-nama kota, bahkan flyover dengan tujuan memecah kemacetan lalu lintas. Pembangunan taman kota dan nama tempat tersebut memang asyik buat selfie (baca: swafoto) warga yang berkunjung ke tempat tersebut. Asal dananya tersedia, saya kira tidak terlalu sulit hal itu dilakukan. Jika malaspun, kita bisa menyontoh pembangunan di berbagai kota lainnya mulai dari kota Bandung, Kota Surabaya, Yogyakarta, Solo, Banyuwangi dan lainnya.

Satu hal yang sulit dalam memberi edukasi pada rakyat banyak adalah membangun budaya solidaritas di tengah kota yang makin acuh. Budaya solidaritas ini lambat laun akan menjadi barang langka, mengingat semua pembangunan hari ini bertumpu pada Pemerintah. Semakin kita menyalahkan pemerintah jelas semakin rendah tingkat solidaritas kita. Namun kritik warga ini juga tidak serta merta keliru, warga kritis adalah upaya warga mencintai kotanya. Tapi jika semua warga menumpahkan kekesalan ke Pemerintah hal tersebut menjadi penanda tanda bahaya rendahnya solidaritas.

Pembangunan serta merta tidak hanya mengandalkan uang. Semakin hari kota akan semakin semrawut, jalanan makin macet, pohon ditumbangkan, sampah berserakan dan gotong royong menghilang. Ada yang salah dengan cara berpikir kita selama ini. Kita mengandalkan kota yang baik tapi kita rendah menggerakkan solidaritas kota. Yang ada adalah nafsu membangun fisik tanpa berupaya membangun mental. Misal, Anggaran pendidikan banyak dinikmati birokrat pendidikan bukan objek pendidikan. Gaji Guru honor direndahkan fasilitas dinas dimewahkan.

Organisasi-organisasi pun tidak berdaya jika melakukan perubahan kecuali mengandalkan dana pemerintah. Artinya jika tidak ada anggaran maka mereka tidak ada kegiatan. Ini seperti birokrat tua negeri ini yang diisi oleh orang-orang nir kreatif dan hanya pandai membuang anggaran dengan percuma. Kalau toh dilaksanakan kegiatan tersebut tidak menumbuhkan pemberdayaan, malah sebaliknya hanya akan memperdayai warga.

Komunitas-komunitas kreatif perlu diapresiasi oleh warga kota. Mereka harus melek bahwa Pemerintah tidak boleh sendiri. Pemerintah harus dibantu dengan cara menunjukkan kinerja-kinerja membangun budaya solidaritas kota. Adanya komunitas kreatif terutama yang cepat beradaptasi dengan tekhnologi akan banyak menolong dan mengisi kota dari kosongnya gagasan kreatif.

Saya mengenal dua senior Rahmatul Ummah dan Oki Hajiansyah Wahab yang tahan banting berupaya menghidupkan komunitas di luar cara berpikir mainstream. Mereka banyak mengajarkan saya bagaimana sabar, mendampingi dan menghidupkan solidaritas di komunitas. Dengan keterbatasan sebagai manusia biasa umumnya, tentu mereka juga banyak mengalami kendala-kendala. Namun sejauh ini, solidaritas mereka terus dilakukan untuk memberi perspektif lain bahwa di tengah fokus pemerintah membangun fisik mereka juga ikut membangkitkan solidaritas kota yang tengah mengalami reduksi akut dikalangan anak-anak muda.

Oki Hajiansyah Wahab banyak memberi pengalaman terkait dengan kebaruan ide dalam gerakan komunitas. Beliau selalu menekankan untuk tidak mudah bergantung dengan cuaca politik dan selalu bersabar untuk konsisten dalam menggubah kondisi. Rahmatul Ummah pun demikian, baru saja menyelesaikan kegiatan acara yang sangat meriah. Pertunjukan Putri Sumur Bandung bersama kawan kawan Metro Bergeliat. Kesabaran untuk menghidupkan kota yang kreatif dilakoni sebagai upaya menolak pudarnya budaya solidaritas kota. Terbukti 500 lebih peserta hadir dalam pertunjukkan tersebut dengan keswadayaan di komunitas Metro Bergeliat.

Tulisan ini hendak mengajak semua warga kota. Pemerintah, Swasta, Komunitas, Perguruan Tinggi untuk lebih banyak belajar bagaimana melakoni kembali hidup gotong royong. Tidak mungkin perubahan dilakukan lewat kutub-kutub yang saling berseberangan. Perubahan dilakukan dengan mengajak orang banyak melakukan hal-hal terkecil disekitarnya. Pemerintah juga jangan main asal beri bantuan yang pada akhirnya semakin melumpuhkan daya tahan dan daya solidaritas warga. Jika warganya sudah berdaya tidak perlu lagi menjanjikan harapan-harapan besar seolah warga lemah tidak berdaya. Sebaliknya apa yang akan dibangun oleh warga berdasar pada sumber lokalitas, tradisi atau kebudayaan masyarakat, maka hal tersebut adalah buah dari pemberdayaan itu sendiri.

Sebanyak apapun anggaran pemerintah jika tidak dibarengi dengan tanggungjawab bersama maka akan hilang seiring dengan habisnya program kegiatan. Sebaliknya, sekecil apapun anggaran warga jika diimbangi dengan konsistensi solidaritas warga maka upaya bersama itu akan membuahkan hasil yaitu kemandirian gerakan. Sudah saatnya semua berkolaborasi, bukan zamannya lagi pemerintah memainkan pola pembangunan top down bahkan berbasis proyek bukan project. Kolaborasi adalah solidaritas semua elemen untuk menumbuhkan kembali perilaku kolektif warga dan menjadikan semua program sebagai gerakan warga bukan lagi beban pemerintah. Bukankah dengan begitu tugas pemerintah dimasa depan akan semakin ringan?

Dharma Setyawan
Pegiat  #AyokeDamRaman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *