Masjid dan Perpustakaan

0
146
Oleh: Dharma Setyawan

Dharma Setyawan

Terjadi diskusi yang cukup menarik saat Dosen membahas soal Visi STAIN Metro tentang Socio-Eco-Tekhno-Preunership. Sebagai orang muda yang senang mendengarkan ide dan gagasan, saya lebih senang menuliskannya agar diskusi menjadi catatan-catatan penting. Kita juga tidak mengetahui di kepemimpinan siapa? ide dan gagasan yang berserak tersebut akan dilaksanakan secara real atau malah menguap itu.

Rencana aksi terkait visi tersebut membutuhkan orang-orang yang serius dalam inplementasi di lapangan. Pada rezim kepemimpinan siapakah hal itu akan terwujud? Adalah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan mudah oleh semua pihak. Setidaknya catatan-catatan penting ini kelak akan dibaca sebagai pengingat bersama.
Bahwa Visi dan Misi kampus ini harus digerakkan oleh banyak pihak dan optimis dijalankan oleh semua warga kampus. Berawal dari pernyataan dosen senior yang mengatakan bahwa visi Socio-Eco-Tekhno-Preunership hanya bisa dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa yang menjalankan studi di Ekonomi Islam.

Alasannya karena visi preunership sulit diterapkan di prodi pendidikan seperti PAI dan PBA. “Kalau ekonomi jelas bersentuhan dengan visi tersebut.”tegas salah satu dosen.

“Lalu bagaimana dengan Socio dan Eco Pak?” Tanya saya
“Ya sama saja itu sudah masuk keseluruhan.”jawab Dosen tersebut.

Saya kira visi tersebut dapat masuk dimana saja. Bahwa era keilmuan hari ini kita meyakini soal intregasi keilmuan. Sedikit saya memberi gambaran dalam hal socio-eco. Untuk membahas tekhno dan preunership bisa dibahas dengan tulisan lain. Kita memiliki masjid yang selama ini kita pakai sebagai tempat beribadah. Dalam pandangan saya pribadi, masjid yang Socio akan membuka diri menjadi tempat beribadah semua pihak. Memberikan kesempatan kepada masyarakat luas untuk melaksanakan ibadah di masjid kampus.

Sebenarnya masjid kita sudah membuka ruang itu walaupun tidak seluruhnya. Beberapa warga luar melaksanakan sholat di masjid kampus. Bahwa masjid tidak hanya difungsikan sebagai tempat sholat, tapi bisa menjadi tempat diskusi yang menarik dan menjadi rumah berpikir bagi dosen dan mahasiswa. Dalam konteks Eco, Masjid kampus perlu mendapat perhatian penting. Apakah ada konsep Masjid Ecologis yang ramah lingkungan dan dapat menyatu dengan alam. Masjid yang asri, tempat wudhu yang representatif, hemat air, toilet yang bersih dan lain sebagainya. Masjid yang jelas laporan keuangannya dan mampu memberikan pelayanan yang baik bagi jamaah.

Hal lain yang bisa kita pikirkan dalam membangun socio tentu adalah perpustakaan. Kampus kita memiliki buku yang saya katakan cukup lumayan untuk menjadi ruang baca. Dalam konsep Socio, kita harus membuka akses perpustkaan untuk masyarakta umum. Mendengar cerita kawan yang kuliah di UK bahwa perpustakaan kampus di sana buka 24 jam bagi saya pribadi adalah hal yang luar biasa.
Tidak perlu kita harus berkunjung ke sana terlebih dahulu, tapi kita bisa belajar dengan kampus yang paling baik perpustakaannya. Jika membandingkan dengan perpustakaan daerah Metro yang sepi peminat karena berjauhan dengan lingkungan pendidikan, maka dengan semangat socio kita harus membuka akses perpustakaan untuk publik. Tidak usah sampai 24 jam, tapi menjadikan perpustakaan di lantai 1 penting agar perpustakaan tidak menjadi tempat yang angker. Perpustakaan yang socio juga menjadi tempat menarik untuk belajar bagi siapapun. Dan STAIN Metro membantu pemerintah dalam membuka akses perpustakaan sebagai tempat belajar yang nyaman.

Saya mengingatkan kisah “Ruang Belajar Tanpa Dinding.” Begitulah kang Maman bicara di acara ‘Mata Najwa’. Lalu saya langsung memainkan jemari untuk menulis kisah ini di dinding FB lewat handphone. Ya, Kang Maman gerakannya menarik, selain tulisannya klosing Indonesia Lawak Club (ILC)-nya yang renyah, dia punya cerita soal perpustakaan. 
Perpustakaan yang dibangunnya di pelosok daerah bersama dua kawannya. Sosok Ridwan Alimudin dan Ridwan Sururi adalah contoh nyata orang-orang yang mencintai buku dan mengkampanyekan ‘buku’ supaya dan harus disukai segala usia. Mereka bergerilya menciptakan ekosystem baru dengan kebiasaan membaca buku. Menciptakan ekosystem dalam hal ruang baca jelas tidka mudah.

Kang Maman berjuang membuka perpustakaan di tempat-tempat yang unik. Di kampung, pegunungan dan pinggir pantai. Semua orang bebas membaca buku tanpa harus duduk teratur dan kaku. Mereka boleh duduk, berdiri bahkan tiduran. Perpustakaan bukan tempat aneh, Perpus adalah tempat yang asyik. Perpustakaan selama ini memang menjadi tempat angker selain kuburan. Perpustakaan kampus di kota ini–contohnya di kampus saya mengajar STAIN Jurai Siwo Metro–dibuat dengan kondisi berada di lantai dua, sedemikian rupa gelap, apek, lembab dan mahasiswa enggan memasukinya karena bukan tempat yang menyenangkan bagi mereka.

Kampus seharusnya membuat suasana perpustakaan seperti tempat nongkrong, bisa ngopi, dekat tempat makan dan suasana tentu terbuka lebar dan bisa dijadikan sebagai tempat diskusi. Penting menjadikan perpus sebagai tempat bincang pikir. Tidak harus sakral, bahwa perpus selalu ada aturan tidak boleh ribut, kecuali perpus itu hanya berukuran 3×4 meter. Ada ruang untuk diskusi, ngopi dan mendiskusikan buku-buku baru dan ada ruang santai untuk membaca tanpa keributan.
Pertanyaan kemudian, Apakah para pendidik juga mencintai buku? itu pertanyaan menarik. Apakah orang tua mendongeng atau bercerita ke anaknya? Tradisi lisan dan tulisan jelas berkait-kelindan dengan kondisi seseorang mencintai buku atau tidak. Yang berat lagi, Apakah walikota di Metro ini juga mencintai buku? ” Kalau susah untuk dijawab, maka pantas kalau ‘Car Free Day’ di Taman Kota hanya diisi aktifitas pokok’e joged tanpa mendorong pembangunan Intelektual sebagai kota pendidikan

Buku di perpustakaan daerah juga seperti benda pusaka di museum. Perpustakaan di kota Metro tidak ber-genre anak muda, aktifis kampus, hasil riset bermutu perguruan tinggi dan bacaan berbasis komunitas-komunitas. Bangunan, suasana, dan lokasi perpus bahkan sangat berjarak dengan lokasi universitas atau kawasan pendidikan. Setiap tahun dana bergulir, program dimainkan tapi tidak signifikan menggaet anak-anak muda untuk pergi ke perpustakaan sebagaimana anak muda sangat semangat pergi ke tempat nongkrong. Seperti halnya, Cafe, pojok lapangan samber,  taman kota, dan tempat nongkrong komunitas di kota ini.

Saya punya kawan yang setia membuka lapak baca di taman kota Metro. Mungkin banyak orang yang tidak mengindahkan ketelatenannya membuka ruang baca setiap hari Minggu. Perlu diketahui buku yang dibawanya termasuk buku-buku yang cukup bermutu untuk menambah wawasan penduduk kota ini. Walaupun tidak semua koleksi dirumahnya dibawa, tapi 100 judul buku cukup untuk menarik perhatian bagi mereka yang setia merawat bacaan.
Sepi pengunjung tak jadi masalah baginya. Tidak dianggap pemerintah pun bukan rintangan baginya. Maka, orang-orang kampus perlu membuka diri, mengoptimaklan anggaran perpustakaan untuk melayani orang banyak. Jika STAIN Metro memaknai perpustakaan sebagai gerakan socio, pelan atau pasti gerakan ini memberi contoh bagi banyak puhak. Anak-anak muda akan nyaman berada di masjid dan perpustakaan sebagai habitus baru berburu ilmu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here