Asa Pariwisata Lampung

0
59
Oleh: Dharma Setyawan

Dharma Setyawan

Saya bukan warga Lampung Timur. Saya menulis ini untuk berbagi semangat kepada orang-orang muda Lamtim dan kabupaten lainnya. Sebagai orang yang kesehariannya mengajar di kampus, saya melihat banyak mahasiswa-mahasiswa Lamtim yang kuliah di STAIN Metro. Mereka rata-rata mengeluh soal jalan di kabupaten mereka yang jelek dan belum mendapat perbaikan. Saya kira kalau semua orang mengeluh, kita tidak perlu berpendidikan sampai ke jenjang lebih tinggi. Jika saya melihat kondisi di Lampung, bukan hanya Lamtim, kabupaten lain juga sama jalannya juga parah. Pemuda kabupaten lain seperti Lampung Tengah juga banyak yang kuliah di STAIN Metro, Mereka juga mengeluh soal jalan.

Orang-orang muda ini harus diarahkan ke optimisme. Jangan sampai mereka menjadi kaum nihilisme dan tidak mempercayai bahwa ruang demokrasi adalah ruang yang bisa membuat mereka kreatif untuk membangun ide dan gagasan. Melihat cara pandang mereka mengenai pemimpin di Kabupaten, harapannya terlalu simple “jalan”, seolah upaya lain tidak penting dilakukan. Saya kira bupati-bupati di Lampung ini, sejak kampanye bicara mengenai perbaikan jalan. Lalu apakah iya, orang-orang muda ini sampai sekarang masih berharap hanya persoalan jalan di kabupatennya yang belum terbangun. Terlalu kecil ide orang-orang muda ini, ratusan anak Lamtim dan Lamteng ini perlu dibangun asa tentang mimpi kabupatennya.

Saya ingin ceritakan pemuda putra asli daerah di Lampung Timur. Mereka berinisial 3D yaitu Denny, Diyan, dan Dedy. Sebagai putra asli daerah mereka adalah orang muda umumnya yang juga punya mimpi dan jelas mencintai kabupatennya. Lalu apa yang membedakan 3D dengan anak muda lainnya, mereka mau belajar dan mencoba memperkenalkan Lamtim lewat media yang mereka kelola yaitu Ayokelamtim.com. Dengan bantuan website dari Kampus Universitas Muhammadiyah Metro, mereka setiap hari mengisi dan memikirkan konten berita terkait dengan pariwisata dan kearifan lokal di kabupaten Lamtim. Mereka mengerjakan itu semua sebagai bagian membangun optimis di tengah banyaknya orang-orang muda yang hanya bisa mengeluh. Sepengetahuan saya ada lagi website ukmlamtim.com yang berisi berita mengenai usaka kecil menengah.

Apakah 3D dibantu pemerintah? yaitu terkait honor dan sebagainya, jawabannya belum. Kalau saya jadi kepala dinas pariwisata Lampung Timur, saya yang akan cari mereka dan bekerjasama sebaik mungkin. Karena saya yakin birokrasi pemerintah di Lamtim tidak mungkin mampu mengurus website dengan kontent berita yang berkelanjutan seperti mereka. Kita tahu birokrasi di negeri ini sangat lambat, sialnya mereka juga tidak segera menyadari bahwa kolaborasi itu penting. 3D sejauh ini bergerak volunter, beruntung ada komunitas yang menguatkan mereka untuk setia berkontribusi pada kabupaten tempat mereka dilahirkan. Mereka dimotivasi oleh komunitas untuk mencintai kabupatennya secara maksimal.

Tidak banyak putra daerah asli yang mau menjalani seperti mereka. Tapi kreatifitas dan ketekunan tentu akan menjadikan mereka banyak pengalaman. Usaha mereka menghidupkan ayokelamtim.com memang bukan hanya untuk kalangan orang-orang di Lampung, yang lebih penting adalah mengenalkan Lamtim kepada orang-orang di luar Lampung. Apalagi jika kontent ayokelamtim.com kelak bisa 2 bahasa tentu orang-orang asing akan mengerti dan mempelajari tempat wisata menarik di Lampung Timur. Sewaktu pulang dari Surabaya kemarin, saya mendapati 2 warga asing membawa papan selancar besar ke Tanjung Setia di Pesisir Barat Eks Lampung Barat. Saya kira sudah banyak ulasan mengenai pantainya yang katanya terbaik no 3 di dunia. Ketika sama-sama keluar dari Bandara Raden Intan mereka bingung dan bertanya kendaraan ke arah wisata tersebut.

Sebenarnya, Jika Pemimpin daerah mau berkolaborasi, mereka bisa patungan menyediakan kendaraan untuk para turis asing untuk menikmati pariwisata di Lampung. Jika sendirian tentu hal ini akan sulit, perlu membangun kolaborasi secara menyeluruh, misal Turis pertama kali ingin ke Tanjung Setia untuk berselancar, Pemerintah sudah menyediakan kendaraan dengan logo yang dapat di pahami oleh turis, misal ‘Welcome to Tanjung Setia” dengan gambar pantai dan orang berselancar. Begitupun juga dengan pengenalan ‘Welcome to Way Kambas’, ‘Pahawang’, ‘Teluk Kiluan’, dan sebagainya. Untuk Metro yang tidak memiliki pantai bisa mengenalkan kuliner bagi turis yang lewat di kota ini.

Saya kira ayokelamtim.com adalah awal gerakan orang-orang muda bergerak mengenalkan daerahnya masing-masing. Kelak suatu hari orang-orang muda lain, akan ada yang berinisiatif dan berkolaborasi dengan pemerintah mengelola tempat wisata dengan bergotong-royong. Kita juga harus menolak keras pengelolaan pariwisata di negeri ini, seperti pengalaman film Dokumenter ‘Onde Mande’. Akibat dari masyarakat yang tidak solid, pariwisata mereka di kuasai orang Italia, mulai dari bangunan penginapan dan tempat makan di pinggiran pantai Mande. Saya mendengar dari seorang mahasiswa di Lampung Timur bahwa ada orang asing yang membuat rumah tinggal di dekat Way Kambas dengan menggunakan nama penduduk sekitar. Jika ini benar maka kita semua kecolongan.
Kita menolak pariwisata yang meminggirkan warganya sendiri. Kita semua harus mendorong pariwisata yang di kelola oleh masyarakat lokal, dilatih dengan serius agar bisa mengelola secara profesional. Kita belajar dari Jaringan Ekowisata Desa (JED) di Bali. Bahwa penduduk bali diajari mengelola pariwisata dengan tetap mempertahankan lokalitas. Akibat maraknya hotel yang dibangun oleh pihak asing dan pengusaha dari Jakarta, mereka melawan dengan pengelolaan berbasis masyarakat lokal. Ada yang menarik yang mereka tawarkan untuk warga asing, bahwa para turis tinggal di tempat warga, dan mereka menikmati budaya dan rona-lingkungan tempat mereka tinggal. Tentu warga juga sudah dilatih agar para turis merasa aman dan nyaman. Warga diajari bagaimana mereka menyediakan kamar di rumahnya dengan standar hotel, toilet dan tempat makan. Jika turis bangun tidur mereka mendapati pemandangan aktifitas warga lokal yang tidak bisa mereka dapatkan saat tinggal di hotel megah.

Apa yang dimulai oleh orang-orang muda dengan contoh ayokelamtim.com tidak hanya berhenti disitu saja. Pemerintah harus melek dalam pengembangan portal warga tersebut dan menjadikan inspirasi bagi pariwisata di kabupaten lainnya. Jika bukan melibatkan orang-orang muda, dengan siapa gerakan seperti itu bisa dilakukan? Kontraktor? Politisi? Birokrasi yang lama mengakar dan Tua? jelas mereka sibuk dengan agendanya masing-masing. Dan saya kira membangkitkan kecintaan orang muda terhadap kabupatennya juga butuh proses panjang. Hal tersebut dilakukan agar arus urbanisasi ke kota dapat berkurang. Pelan atau pasti pariwisata di Lampung akan semakin ramai dikunjungi, pertanyaan besar yang harus dijawab pemerintah dengan tindakan yaitu, apakah keuntungan pariwisata semua ini bisa mengalir ke kantong rakyat?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here