Wakaf dan Sosial Enterprenuership

0
49

Oleh: Dharma Setyawan
Dosen STAIN Metro dan Peneliti Sai Wawai Institute
Rumah Bersama punya mimpi membangun 1 kelurahan 1 bank sampah. Persoalan sampah di Kota Metro diharapakan dapat dikurangi dengan adanya bank sampah di setiap kelurahan. Semangat menjaga lingkungan hidup berbasis pemberdayaan warga menjadi pilihan strategis untuk membangun Bank sampah sebagai bagian solusi. Lalu muncul ide tentang #Metro Urunan. Apa yang dimaksud #Metro Urunan? Yaitu sebuah gerakan wakaf tunai yang dilakukan warga Metro dan berbagai komunitas untuk dikelola menjadi dana abadi publik untuk membangun bank sampah tiap kelurahan. Kenapa harus menggunakan skema wakaf? Ada beberapa alasan; Pertama, dana wakaf adalah dana yang tidak boleh habis. Dana wakaf dikelola dengan kepemilikan publik dan hasilnya untuk membangun kesejahteraan umum. Kedua,Wakaf dapat dikumpulkan dengan gerakan kolektif yaitu ditentukan dengan berbagai cara. Bisa lewat individu yang menggunakan standar nilai per sertifikat wakaf juga bisa dengan kelompok yang membeli sertifikat wakaf dengan metode urunan (iuran) sampai nilai sertifikat wakaf memenuhi. Misal jika nilai sertifikat wakaf 1 juta rupiah maka dengan berkelompok 20 orang akan lebih mudah mengumpulkan nilai sertifikat wakaf tersebut. Ketiga, wakaf bukan hanya untuk kepentingan agama tertentu. Sebagaimana sejarah juga menyatakan bahwa wakaf sudah ada sebelum Nabi Muhammad menyebarkan Islam.
Pada tataran ide, wakaf memang bukan hal yang baru, pun dalam praktik organisasi keagamaan di Indonesia memang telah memiliki lembaga wakaf. Muhammadiyah misalnya dengan amal usaha terbesar di dunia banyak tanah wakaf yang sampai hari ini belum termaksimalkan secara manfaat, padahal dalam berbagai sumber disebutkan tanah wakaf ormas Muhammadiyah seluas tanah Singapura. Dalam hal pengelolaan wakaf tunai, negara Indonesia memang masih sekedar ide dan nyaris nihil dipraktikan jika diukur dengan jumlah penduduknya lebih dari 250 juta.
Memang yang menjadi kendala selama ini adalah proses penjelasan wakaf masih dipahami oleh segelintir orang, itu pun mereka yang terdidik secara baik dalam agama. Pekerjaan Rumah dalam gerakan wakaf yaitu Wakaf harus dipahami secara baru, untuk generasi muda yang baru dan dengan teknologi yang terbaru. Misal; gerakan wakaf sedang diusahakan oleh berbagai komunitas yang aktif di rumah bersama dengan membuat kampanye lewat lagu, dengan pamflet-pamflet bahasa anak muda, dengan melibatkan komunitas pemuda yang selama ini tidak disentuh oleh para kaum agamawan, dan mengemas wakaf untuk menyelesaikan persoalan sosial—seperti misal persoalan sampah—dan membangun ekonomi kreatif seperti halnya mendirikan bank sampah dengan wakaf, kemudian mengembangkan kerajinan dari tangan ibu-ibu disetiap kelurahan.
Sosial enterprenuership memang bukan hal yang baru, tapi dengan melakukan gerakan wakaf uang—dengan bahasa lokalitas yaitu #Metro Urunan—dapat menjadi gerakan baru untuk menyelesaikan sebagaian permasalahan kota. Dari ‘masalah’ kemudian mengubah kondisi menjadi ‘maslahah’ (manfaat).  Rumah Bersama sudah memulai membangun Bank Sampah di Rejomulyo, Metro Selatan maka melakukan ekspansi gerakan dengan mengajak komunitas lain menjadi keharusan. Dengan senang hati setelah bertemu dengan BMT At-Ta’awun STAIN Metro—bahkan sebelumnya BMT Adzkiya, BMT-Al-Mutaqien juga terlibat—menjadi kekuatan baru dengan melahirkan ide wakaf. Sudah saatnya kita membangun gerakan dengan bersama-sama, tidak zamannya lagi berkomunitas atau berorganisai hanya untuk memperbesar asobiyah (kelompok) politik an sich. Gerakan organik yang terus berfikir dan bergerak tanpa melihat momentum apapun—pilkada Metro misalnya—adalah tabiat gerakan yang sesungguhnya real. Dengan kampanye lewat pojoksamber.com, sinergi dengan sekolah dan perguruan tinggi, serta lembaga lainnya. Pada tanggal 05 Juni 2015 di halaman TK Pertiwi Taman Kota metro, komitmen ini kita bersama harus terus berikhtiar. Bertepatan dengan hari lingkungan hidup kita menonton film dokumenter yang kita buat bersama komunitas dan Kantor Lingkungan Hidup, kemudian meluncurkan lagu #Sayangi Metro, melounching buku Suara Anak Muda Metro dan juga lounching #Metro Urunan (Gerakan wakaf tunai untuk 1 kelurahan 1 Bank Sampah). Semoga kebaikan-kebaikan yang terus kita lakukan akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang lain. Saya menutup tulisan ini dengan ucapan Gus Dur,”Jika kau berbuat baik, orang tidak akan tanya apa agamamu”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here