Menggagas Eco-city di Lampung

0
70
Oleh : Dharma Setyawan

Ketua Komunitas Hijau, Dosen STAIN Metro Lampung

Terbit di Lampung Post 26 Juni 2014 http://lampost.co/berita/menggagas-eco-city-di-lampung 

SEJARAH hadirnya kota tidak ada yang memprediksi, kapan kota itu lahir di tengah masyarakat? Asal-muasal kota hampir tidak ada yang menjelaskan secara final. Namun, sejarawan seperti Luis Mumford menyatakan bahwa lahirnya kota adalah sebuah misteri.

Luis Mumford berteori bahwa kelahiran sebuah kota merupakan produk evolusi sejarah yang panjang. Arnold Toynbee menyatakan sebuah kota terbentuk karena adanya kaum minoritas kreatif (creative minority) yang menggerakkan kota itu. Namun, Max Weber-lah yang mengungkapkan lebih panjang bahwa kota dibentuk oleh proses perkembangan kapitalisme dan merkantilisme, khususnya dalam bentuk transaksi-transaksi perdagangan, proses ekspor-impor, hingga pembentukan sistem perbankan dan keuangan.

Dalam sejarah Islam kata madinah atau kota merupakan bentuk dari sebuah kata tamaddun yang berarti adalah peradaban. Muhammad saw. menjadi sosok pertama yang mampu menciptakan tatanan masyarakat yang berkualitas dan hidup berdampingan dengan alam. Etika hidup manusia dan alam dibangun sejajar tanpa saling menegasi (menghilangkan). Madinah kemudian dikenal sebagai kota modern di zamannya. Di sini manusia hidup dengan aturan-aturan dan sangat menghargai lingkungan hidup.

Masalah Kota Seiring dengan hadirnya revolusi industri, kota sebagai bagian transformasi pramegapolitan adalah bentuk keangkuhan struktur wilayah yang paling banyak merusak ekologis. Kota terlalu sombong untuk memberikan rasa nyaman bagi semua pihak yang mendiami wilayah tersebut. Di Jakarta sendiri sebagai kota atau megapolitan terbesar di Indonesia, sampai hari ini terus menuai polemik dan bencana.

Jakarta yang awalnya hanya sebuah desa kecil yang disebut sebagai Bandar Sunda Kelapa, abad ke-17 hanyalah kawasan biasa. Namun, ketika tahun 1602 Belanda datang Sunda Kelapa berubah menjadi Batavia. Kemudian Belanda membentuk Verenigde Ostindische Compagnie (VOC) dan menjadikan Batavia sebagai pusat perdagangan internasional yang berkumpul pedagang dari penjuru dunia, termasuk Tiongkok, Arab, dan Eropa. (Moerdiman Reksomarnoto: 2006)

Kemudian pascakemerdekaan nama Jakarta lebih dikenal dan menjadi ibu kota Indonesia. Perkembangan kota Jakarta seluas 661,62 km² telah sesak dipenuhi manusia. Penduduk yang menghuni lebih dari 9 juta jiwa menimbulkan risiko ekologis. Dampak kerusakan lingkungan kota-kota di Indonesia menjadi permasalahan serius, ditambah absennya negara dalam memperbaiki keadaaan kota. Permasalahan banjir, macet, sampah, tata ruang semrawut, anak jalanan, kriminalitas, kawasan kumuh adalah contoh nyata dari mayoritas masalah kota.

Pattrick Geddes (1915) menyatakan perencanaan kota harus didasarkan pada pengetahuan tentang alam dan sumber daya suatu wilayah. Misalnya secara khusus ia memandang kawasan lembah sungai sebagai unit alami untuk menguji berbagai aktivitas yang berbeda terkait dengan kota. Dan juga Geddes telah meramalkan adanya pengaruh yang penting tentang perkembangan kota yang terdesak oleh teknologi dan mode transportasi. Ramalan ini semakin benar dengan hadirnya teknologi dan mode transportasi modern, kota yang tidak sadar menjaga “napas alam” selalu saja menuai masalah lingkungan yang kian parah. Modernisme teknologi bahkan tidak dapat menjamin kenyamanan hidup sebagaimana nyamannya manusia berdampingan dengan alam.

Eco-city di Lampung?Eco-city merupakan tren baru pembangunan kota di masa depan. Kota yang menjadi impian semua orang. Eco-city digambarkan sebuah kota modern, kehidupan manusia dikembalikan lagi dengan semangat untuk mau hidup berdampingan dengan alam. Beberapa agenda pemerintah yang harus dilakukan dalam penerapan eco-city adalah penyediaaan ruang terbuka hijau (RTH) minimal 30% sebagaimana undang-undang.

Menjaga kualitas air, dengan hukuman berat bagi mereka yang membuang sampah di kawasan aliran air. Di Singapura, taman kota memberikan kran air gratis siap minum untuk rakyat. Kemudian hal ini telah diadopsi oleh Depok dan Bandung. Menanam pohon di pinggir jalan sebagai bentuk penghijauan kota. Di lingkungan pendidikan termasuk universitas dikenalkan pendidikan adiwiyata, lingkungan pendidikan menjadi contoh nyata bagaimana mengubah pola pikir generasi selanjutnya untuk mau hidup dengan alam.

Eco-city tidak hanya menjamin kehidupan kota yang menghargai lingkungan hidup, tetapi juga kota yang memberi ruang bagi semua penghuninya untuk menjaga kualitas kesehatan. Eco-city memberi ruang untuk berolahraga di taman-taman kota, menikmati makanan sehat dan kembali hidup alami. Urban farming (petani kota) mulai diminati dan menjadi gaya hidup penghuni eco-city. Harapan besar mereka yang hidup di kota mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan sayuran organik yang mereka tanam dengan cara hidroponik atau aquaponik.

Dalam respons teknologi eco-city mendorong pemerintah merencanakan mode transportasi yang efektif dan efisien. Transportasi massal yang ramah lingkungan menjadi kebijakan yang harus dilakukan. Penghematan terhadap energi dan kepastian mobilitas menjadi alasan kota harus mengubah transportasi pribadi ke transportasi massal sehingga integrasi dari kawasan kota satu dengan yang lain dapat dilakukan dengan cepat.

Di kota-kota besar di Korea Selatan, monorail transportation (MRT) bahkan subway kereta bawah tanah menjadi andalan untuk memudahkan mobilitas masyarakat. Di Indonesia, kereta dalam kota baru dihadirkan di Solo saat kepemimpinan Jokowi. Kereta produksi dalam negeri buatan Inka tersebut baru digunakan untuk kereta wisata dalam kota yang mampu menampung 400 orang. Di Jakarta dan Bandung baru akan dimulai pembangunan MRT. Pemerintah Bandung baru menyiasati kemacetan dalam kota dengan menggratiskan bus untuk pelajar dan pegawai pemerintah setiap pagi dan sore. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil memberi teladan dengan naik sepeda ke kantor wali kota.

Eco-city di Lampung seharusnya sudah dipikirkan sejak dini setidaknya oleh wali kota Bandar Lampung dan Metro. Dua kota di Lampung ini akan menjadi cikal bakal untuk kota-kota selanjutnya di Lampung tumbuh dan berbenah. Integrasi transportasi dan penghijauan kota harusnya menjadi agenda utama kedua kota bahkan memungkinkan menjadi blueprint eco-city di luar jawa. Apalagi Metro telah dinobatkan sebagai kota hijau terbaik se-Sumatera. Transportasi Metro—Bandar Lampung di masa depan semestinya sudah mengarah menggunakan kereta cepat. Eco-city di Lampung bukan mimpi, tapi seharusnya adalah misi untuk menghadirkan kehidupan kota yang hijau, sehat, dan modern. Semoga! n


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here