“KULTURAL” PASTI BERLALU?

0
95

Oleh : Dharma Setyawan
Direktur LSO Badan Wakaf Nasional KAMMI

KAMMI Kultural akan hilang dan hanya menjadi gerakan pragmatisme –mungkin itu yang ada pada sebagian kelompok-kelompok faksi di tubuh KAMMI –karena dianggap sebagai alat untuk menuju posisi-posisi kekuasaan Pimpinan Pusat. Banyak beberapa kalangan menyebut bahwa konflik yang terjadi antara kubu Andriyana dan Fikri Aziz telah menjadikan KAMMI Kultural akhirnya diberi ruang Struktural. Secara pribadi saya tidak pernah berfikir sejauh itu. Perlu kita bahas bersama atau melakukan re-definisi tentang hakikat kekuasaan –lebih khusus memaknai amanah struktural—yang menjadi perebutan beberapa kawan-kawan menuju PP KAMMI.
Banyak beberapa kalangan menyebut KAMMI masih disebut sebagai gerakan moralis. Gerakan mahasiswa yang selama ini dikenal dengan kesantunan, kesolidan, dan militansi kader yang cukup dipandang dalam gerakan ekstra-kampus. Tapi bagi pelaku-pelaku gerakan di tubuh KAMMI sendiri, stigma ini sulit untuk dipercayai mengingat semakin pragmatisme tercium dengan LPJ PP KAMMI yang penuh manipulasi. Banyaknya uang yang masuk di tubuh gerakan ini tanpa tanggungjawab yang jelas dengan pelaporan tidak sesuai dengan anggaran yang masuk di organisasi. Ibarat Ikan yang sudah busuk di bagian “kepala” perlu dilakukan amputasi agar tidak membusuk sampai ke ekor, demikian wajah yang terjadi di KAMMI hari ini. Gerakan kritik beberapa kali pernah di lakukan sebagaimana diketahui ada gerakan “Daulat KAMMI, kaum Nihil-isme KAMMI, Kritik per Individu dari tokoh KAMMI, hingga hadirnya gerakan KAMMI Kultural. Gerakan Kultural sendiri berawal bukan kehendak kawan-kawan Jogja, tapi pihak PP KAMMI yang hadir melakukan sarasehan lintas generasi dalam upaya solusi dan dialektika yang adil. Sikap kritis yang ter-fasilitasi dengan baik sebagai upaya perbaikan sampai berlanjut dengan kawan-kawan Jogja menuliskan ide-ide pembaharuan gerakan dan menyebut gerakan ini sebagai www.kammikultural.org.
Kini yang terjadi adalah stigma lain dari perdebatan beberapa kubu di KAMMI dan sepertinya akan terus berlanjut, hingga tuduhan bahwa gerakan Kultural mulai masuk ke ruang struktural untuk menikmati kekuasaan. Bisa di sebut “kultural” seperti badai yang tidak diharapkan datang membuat keributan, kemudian diprediksi akan berlalu begitu saja karena telah ada beberapa yang masuk ke struktural. Gerakan Kultural adalah sisi lain dari pluralitas berfikir KAMMI yang selama ini merasa didominasi oleh ideologi tertentu, diatur oleh struktur tertentu, dan hampir dipastikan sulit mencari ruang dialektika di tubuh KAMMI kecuali beberapa KAMMI Daerah –terutama bagian Jawa—dari seluruh KAMMI daerah cenderung sangat konservatif sampai fundamentalis yang ada di Indonesia.
KAMMI Kultural bukan sekedar alat politik untuk kritis bahkan alat pragmatis untuk berkuasa, tapi KAMMI Kultural adalah upaya kemenangan kekuasaan pada tingkat berfikir kader. Kita pernah mengingat Al-Farabi seorang tukang kebun dan bekerja siang hari untuk tuannya, tapi kita juga melihat Al-Farabi adalah penguasa di jagad pemikiran dan dirinya dalam hidupnya sejak mulai baligh hanya tidak menulis saat dua hari –yaitu saat malam pertama menikah dan saat Ayahnya meninggal—selain dua hari itu Al-Farabi menulis sampai akhir hayatnya. Muhammad Natsir dalam “Capita Selecta” menyebut Al-Farabi adalah Penguasa di jagad Ruh walaupun budak di jagad materi. Begitulah saya menafsirkan gerakan kultural adalah sebuah gerakan kehendak bebas untuk memberi ruang kepada seluruh kader KAMMI dalam memberikan sumbangsih berfikir dengan dialektika ruang-ruang kultural –bergerak tanpa kasta dan berjuang tanpa nama.Bisa terjadi seorang kader KAMMI dalam wilayah struktural bukan siapa-siapa, hanya seorang jundi komisariat dan bukan orang yang menempati struktural yang strategis. Namun di jagad berfikir dialah yang paling baik amal ibadahnya, lebih luas membaca bukunya, tinggi kefahaman ilmunya, berkarya lebih progresif. Di sinilah KAMMI Kultural berupaya memberi ruang adil agar kader-kader KAMMI di tingkat pusat dapat mengakomodir bahkan mengakui proses tumbuhnya ilmu di tubuh KAMMI sampai di tingkat komisariat.
KAMMI Kultural juga berupaya mengajak alumni-alumni yang selama ini menghilang dari sejarah gerakan akibat tidak aktif di struktur partai tertentu. Alumni KAMMI yang selama ini aktif di dunia luar –Pendidikan (Akademisi), Ekonomi, Budaya, dan lainnya– bukan di partai politik, hampir dipastikan tidak dihadirkan sebagai alumni yang cemerlang layaknya alumni yang menempati jabatan politik di partai tingkat nasional hingga daerah. KAMMI Kultural kemudian mulai mengakomodasi mereka-mereka yang menghilang dari sejarah gerakan masa-masa awal KAMMI. Sejak sarasehan Yogyakarta dan Jakarta mereka-meraka yang menghilang dihadirkan untuk berbicara tentang KAMMI; seperti Haryo Setyoko –Sekjend KAMMI 98– yang lebih dari 12 tahun tidak pernah berbicara tentang KAMMI, Mu’tamar Ma’ruf –salah satu pencetus “paradigma gerakan” yang 10 tahun tidak di undang memberi sumbangsih berfikir untuk KAMMI dan alumni lainnya yang dianggap keluar dari barisan tarbiyah dan tokoh alumni lainnya. Betapa ketidakadilan itu mencolok bahwa alumni yang dihargai adalah mereka yang di struktur politik bahkan khusus partai tertentu dalam definisi partai yang menjadi panglima dakwah khususnya di Indonesia. Kritik berlanjut tentang “Tarbiyah” yang seharusnya sebagai payung bersama –yang jelas tidak cukup untuk di jelaskan dalam tulisan yang bertujuan mengklarifikasi kembali atau memaknai kembali gerakan “KAMMI Kultural” ini. Hematnya KAMMI Kultural adalah kesadaran bersama kader-kader yang ingin memperbaiki gerakan KAMMI dengan cara memperbaiki proses cara berfikir yang benar tanpa ada hegemoni dari struktur tertentu. Jika struktur politik dianggap sebagai panglima dakwah dan menjadi payung bersama bagi gerakan dakwah maka posisi ini bukan dakwah yang syumul (menyeluruh) tapi sedang terjadi hegemoni peran dakwah oleh struktur politik sehingga ipoleksosbudhankam(ideologi,politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan) sedang di dominasi atau di atur oleh dakwah politik yang bisa melegitimasi kebenaran dakwah atas nama “jamaah’. “Impian Kultural setidaknya ada tarbiyah untuk para pengamat politik, ekonom, gerakan mahasiswa sehingga mereka mandiri tanpa takut mengkritik saudara mereka yang keblabasan di tingkat parlemen. Mereka-mereka yang melakukan kritik atas dakwah politik yang melenceng –korupsi, bermewah-mewah, dan lainnya– di anggap tidak paham bahkan di anggap murtad dari gerakan dakwah versi “tarbiyah Indonesia” sekali lagi versi “tarbiyah Indonesia”. KAMMI Kultural adalah gerakan yang beyond dari itu, gerakan ini adalah gerakan kembali pada hakikat kultural yaitu melepaskan sejenak ikatan-ikatan struktur yang sering menjajah dan melegitimasi kebenaran atas kekuasaan di tubuh gerakan.
KAMMI Kultural berupaya memberi ruang kepada alumni KAMMI yang tidak di partai politik untuk memberi sumbangsih pemikiran kembali. Dengan harapan ada mekanisme terarah untuk KAMMI bergerak merata di semua lini dan bergerak strategis lebih baik di masa depan. Sehingga ketika terjadi perdebatan tentang tafsir Paradigma Gerakan –terutama Sosial Independent dan Ekstraparlementer–, Pengelolaan anggaran KAMMI, Definisi Tarbiyah, Ideologi KAMMI dan lain sebagainya, maka kader diberikan ruang untuk berdebat secara intelektual bukan berdebat secara garis struktural. KAMMI Kultural tidak berhenti begitu saja, gerakan ini akan terus berusaha menghadirkan sisi egaliter dalm berbagai hal di tubuh KAMMI yang selama ini diselesaikan dengan cara-cara Top-down. KAMMI Kultural memberi kebebasan kepada kader untuk memberikan buah berfikir yang rasional, bergerak sadar untuk ummat –bukan golongan tertentu, dirasakan di masyarakat dan bukan gerakan “broker anggaran” yang jamak di ketahui di tubuh mayoritas gerakan mahasiswa pasca reformasi ini. KAMMI Kultural insyalah tidak berlalu, gerakan ini akan tetap ada bagi mereka-mereka yang sadar untuk memperluas gerakan dakwah tanpa kasta terutama saat struktur politik sudah offside dari makna dakwah itu sendiri. KAMMI Kultural akan terus melaju!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here