Humanisme Nelson Mandela

0
51

Oleh : Dharma Setyawan
Pengurus Pusat KAMMI 2013-2015, Alumnus S2 UGM
Ketika kita membuat cahaya kita bersinar, kita membuat orang lain melakukan hal yang sama. Ketika kita terbebas dari ketakutan kita, kehadiran kita membebaskan orang lain.” (Nelson Mandela)
Dalam hidup ini ada yang lebih kita rindui dari sekedar kejayaan. Mengingat perjuangan orang-orang besar, tentang perjuangannya, pengorbanannya, pemikirannya dan semua tinta sejarah yang tertulis untuknya. Lebih dari itu, tentang ‘humanisme’ menyadarkan kita akan nilai pengorbanan, nilai kemanusiaan dan nilai luhur nurani memandang benci menjadi cinta. Sosok Humanisme mengajari kita untuk terus merawat kebaikan. Sosok tersebut, dengan individu-nya yang lemah dia mengajak orang lain untuk kuat. Dengan individunya yang terbatas dia mengajak kita semua untuk melampaui diri lebih dari optimisme. Orang-orang yang memiliki pemikiran dan perjuangan besar seperti ini memberikan semangat untuk maju sepayah apapun perjuangan itu.
Nelson Rolihlahla Mandela lahir di Mvezo, Afrika Selatan, 18 Juli 1918. Tokoh besar abad ini yang menorehkan perjuangan persamaan kelas, melawan politik “apartheid” kini telah tutup usia. Banyak buku, film, cerita yang telah menggambarkan narasi besar perjuangan Mandela. Tokoh yang berumur 95 tahun ini meninggalkan dunia dengan pesona kemanusiaannya. Terpilih menjadi presiden tahun 1994 dan 1999 sebagai presiden pertama terpilih dari golongan kulit hitam di Afrika Selatan. Nelson Mandela mendapat novel perdamaian pada tahun 1993. Perjuangan Mandela dalam penolakan terhadap politik ‘apartheid’ dianggap saat itu sebagai sesuatu yang mustahil. Perjuangan yang jelas melawan Undang-undang yang di atur oleh negara saat itu. Perlawanan Mandela jelas melawan konstitusi yang sah, dimana perlawanan terhadap Undang-undang yang meminggirkan hak-hak warga kulit hitam dalam mendapatkan fasilitas pendidikan, kesehatan dan fasilitas lainnya. Pada akhirnya Perjuangan Mandela yang menginginkan kesetaraan kulit hitam dan putih menjadikan Mandela mendapat lebih dari 250 pernghargaan dari kalangan Internasional.
Mandela di Penjara selama 27 tahun dengan tuduhan konspirasi. Di tangah penjara itu nilai-nilai humanisme tetap Mandela junjung sebagai sosok yang konsisten menebar damai. Di dalam penjara setiap hari disiksa dengan sangat keji. Kisah Mandela adalah kisah seorang manusia biasa yang mengajarkan semua orang untuk yakin dengan nilai-nilai kemanusiaan. Di Penjara itu Mandela berulang kali tubuhnya di tanam di dalam tanah. Tubuhnya dibiarkan diam dan kepalanya disengat matahari yang panas. Dengan sisa kepala yang lemah tersebut seorang sipir penjara mengencingi kepala Mandela. Tanpa caci maki bahkan tanpa kebencian Mandela tidak melihat hal itu sebagai permusuhan yang akut. Mandela yakin bahwa bangsanya hanya belum memiliki kesadaran untuk bersatu. Mandela telah mengerti bahwa sipir ini adalah orang pribumi yang takut akan rezim kulit putih. Sipir penjara hanyalah segelintir orang yang takut untuk berteriak setara terhadap kulit putih.
Selepas dari penjara dan mulai berjuang dalam politik. Dengan keyakinan kuat Mandela berbicara dari podium ke podium. Mandela merebut hati rakyat dengan kata-katanya yang optimis. Mandela tidak saja berdiri dalam satu golongan tapi Mandela berteriak untuk kekuasaan dunia yang harus memberi keadilan kepada siapapun. Mandela sadar bukan dengan kebencian untuk mengalahkan politik apartheid. Mandela meyakinkan ke rakyat bahwa perlawanan kulit hitam bukanlah untuk mengusir kulit putih dari bumi Afrika Selatan. Mandela mengajak semua golongan baik kulit hitam dan putih untuk hidup setara membangun Afrika Selatan. Kami, rakyat Afrika Selatan, menyatakan kepada seluruh negeri dan dunia: Bahwa Afrika Selatan adalah milik semua orang yang tinggal di dalamnya, hitam dan putih, dan tak satu pemerintahan pun yang dapat mengklaim kekuasaan kecuali berdasarkan keinginan rakyat.”(Kalimat pembuka Piagam Kebebasan)
Setelah menjadi presiden, Mandela mengunjungi penjara yang pernah menyiksa 27 tahun lamanya. Di carinya sipir yang pernah mengencingi kepalanya dengan tubuh tertanam di tanah. Mendengar dipanggil Mandela yang telah diangkat sebagai seorang presiden, sipir itu menggigil ketakutan. Sipir sudah pasrah dengan balasan yang akan diberikan oleh Mandela atas apa yang dilakukannya saat di penjara. Tanpa disangka Mandela langsung menjabat tangan sang Sipir dan mengajak duduk di sampingnya. Mandela kemudian berucap,”Mulai sekarang tidak ada lagi kebencian, mari kita bangun negara ini dengan cinta dan perjuangan”. Sipir meneteskan air mata dengan semua kesalahan yang pernah dilakukannya.
Begitulah Mandela terus melegenda sampai di usia tua, Mandela tetap bertahan ditengah kebencian ras yang melanda bangsa Afrika Selatan. Beberapa kali menjalani perawatan atas sakit paru-paru yang dideritanya, Mandela tetap menginspirasi semua orang. Kekuatan perekat Mandela setara dengan Mahatma Gandi, Soekarno, M. Hatta, Jawaharlal Nehru, Fidel Castro, dan tokoh lainnya yang gagah membangun optimisme kepada rakyatnya. Mandela adalah ‘Bapak Bangsa’ sekaligus pendiri demokrasi di Afrika Selatan. Mandela sadar walaupun pemikirannya sangat di pengaruhi oleh ide-ide ‘komunis’ tapi dirinya mampu menampilkan diri sebagai seorang demokrat yang sosialis. Mandela memegang keyakinan bahwa keterlibatan, pertanggungjawaban, dan kebebasan berbicara adalah dasar-dasar demokrasi dan didorong oleh kepercayaan akan hak alami dan hak asasi manusia.
Mandela berjuang tidak untuk me-menang-kan ‘dirinya’ tapi me-menang-kan ‘semua orang’. Mandela telah memenangkan seluruh golongan Afrika Selatan. Dengan pengalaman politik berpuluh-puluh tahun itu, ditengah kebencian golongan yang terus saling menegasikan, Mandela berhasil memberi jaminan kebebasan bagi siapapun. Jauh sebelum Amerika Serikat memiliki presiden berkulit hitam, Afrika Selatan oleh Nelson Mandela, dunia diajarkan untuk menghargai ras kulit dengan jalan demokrasi damai.
“Dengan cara yang belum pernah kupahami sebelumnya, aku menyadari peran yang kumainkan di pengadilan dan kemungkinan di hadapanku selaku terdakwa. Aku adalah simbol keadilan di pengadilan para penindas, perwakilan ide-ide agung kebebasan, keadilan, demokrasi di dalam masyarakat yang memandang rendah nilai-nilai tersebut. Aku kemudian sadar dan di sanalah aku dapat melanjutkan perjuangan meski berada di benteng musuh.”(Mandela, 1994). Dunia telah kehilangan tokoh lembut, yang dilahirkan oleh zaman yang sangat keras. Kepergian Nelson Mandela setara dengan rakyat Indonesia yang berduka atas kepergian tokoh proklamator Indonesia  yaitu Bung Karno dan Bung Hatta. Rakyat dengan suara hatinya begitu mencintai dan menghormati jasa-jasa perjuangan mereka. Begitupun rakyat Afrika Selatan hari ini, terus akan mengenang Nelson Mandela sebagai tokoh “humanisme” besar abad ini.  Selamat Jalan Mandela! selamat jalan Madiba!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here