LAMPUNG DAN SANG PEMULA

0
73

Oleh : Dharma Setyawan

Direktur Eksekutif Adzkiya Centre
Tidak banyak yang mengenal Tirto Adi Soerjo (TAS)–begitupun Lampung daerah yang pernah menjadi tempat pembuangannya di zaman kolonialisme—Seorang tokoh pergerakan yang gigih berjuang melalui tulisan. Pram memperkenalkan—mensisipkan karakter juang– tokoh ini dengan sosok “Minke” dalam Tetralogi Buru yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Karya masterpeace Pram ini menyulut semangat penggalian kembali sosok TAS untuk ditampilkan dalam arus pergerakan dalam putaran roda“menjadi Indonesia”. Satu yang menarik dari penggalian sosok TAS yaitu Pram mampu menyajikan dialektika novel yang mengajak kita kembali pada kehidupan era kolonial dan menyadari bangkitnya perlawanan kaum terdidik yaitu melawan dengan tulisan. Sebagaimana TAS beberapa kali mendirikan surat kabar sebagai alat propaganda mencerdaskan rakyat dan melawan hegemoni Pemerintah Hindia Belanda.
Hampir mayoritas sejarahwan “absen” mengangkat sosok TAS dalam panggung cerita kepahlawanan. Hal ini bukan karena kesengajaan, tapi data tentang TAS yang sulit untuk ditemukan kembali—mulai lahir, pendidikan, perjuangan, pembuangan di Lampung dan tahun kematian—sengaja dihilangkan oleh pihak Pemerintah Hindia Belanda. Orang-orang yang mengenalnya secara langsung mengakui peran TAS seperti Tjipto Mangoenkusoemo, Marco Kartodikromo dan orang yang mengenal tidak langsung pun mengakui seperti M. Hatta juga Ki Hadjar Dewantara. Sebagai seorang putra dari Bupati di Blora, TAS mendapat kesempatan dapat bersekolah dengan fsilitas pendidikan Belanda. Keistimewaan TAS adalah dia memiliki kemampuan menulis di atas rata-rata anak pribumi yang lain. Di tengah kesendiriannya menemukan kawan perjuangan—beda dengan zaman Soekarno, Hatta dan Sjahrir—semangat TAS menulis tetap mendarah daging. Proses pencapaian kesadaran ini seimbang dengan kesadaran Haji Agus Salim dalam membangun narasi jurnalistik bersama Hos Tjokroaminoto di Sarekat Islam. Hal itu terungkap apik dalam naskah “Sang Pemula” dimana TAS termasuk pendiri Sarekat Islam di Batavia.
Jejak TAS di Lampung
Akibat dari sangat tadjamnya sendjata penanja/Pendjadjah dengan kekuasaanja/Mendjatuhkan hukumannja/Marhum Torto Adi Soerjo diasingkan dari tempat kediamannja/Lampung adalah tempat tujuannja/Setibanja di pengasingan terus berdjuang/Tak ada tempo yang terluang/Untuk membela nusa dan bangsanja—Lentera kutipan Syair karya Priatman– dalam buku “Perdjoangan Indonesia dalam sejarah 1875-1917”. Akibat melawan Pemerintah Hindia Belanda dengan tulisan-tulisan yang tajam di sejumlah media saat itu–Pembrita Betawi, Soenda Berita, Medan Prijaji, Soeloeh Keadilan, Poetri Hindia—TAS harus mengalami hukuman pembuangan di Teluk Betung, Lampung dan juga di Ambon.
Para Sejarahwan tidak banyak yang mencari jejak, bagaimana peran TAS yang tetap berjuang untuk rakyat di Lampung? “Tetralogi Buru”—khususnya Bumi Manusia—yang telah diterjemahkan ke 42 bahasa itu pada sikap narasinya adalah untuk membuka tabir sejarah, siapa sosok TAS? Pram (1985) menceritakan dalam buku “Sang Pemula” saat TAS mendapat perlakuan yang kurang enak di awal kedatangannya di pembuangan, tapi atas sikap pengorbanannya yang menulang sumsum membuka mata hati masyarakat Lampung. “Turun dari kapal, perahu membawa Tirto kemudian ke darat. Tukang perahu memerasnya untuk membayar upah sebanyak f 4,- dan hanya seorang yang menyambut kedatangannya; Mahdie, pegawai perkebunan Eropa “Negara Ratu”. Dalam pembuangannya ia mondok di rumahnya. Dan dalam waktu pendek ia menjadi tempat orang-orang mengadukan penganiayaan dan pemerasan yang dilakukan oleh para pejabat. Perasaan keadilannya yang tersinggung dan tugas mulianya sebagai jurnalis mendorongnya mengangkat pena. Masih dalam pembuangan ia kirimkan tulisan-tulisannya ke Betawi, diumumkan dalam surat kabar Perniagaan (terbit : Batavia 1903-1930).
TAS di tempat pembuangan menjadi sandaran para warga untuk mendapat pembelaan. Sebagai seorang yang terdidik dari Pendidikan ‘politik etis’ TAS melawan dengan pena struktur kolonalisme yang panjang dan sangat menyiksa. Tulisan-tulisan TAS diberi judul “Oleh-oleh dari Tempat Pembuangan”. TAS begitu berani menuliskan tata kelola Pemerintah yang sangat buruk dan kejam terhadap pribumi di Lampung. Bahkan TAS juga berhasil membongkar penyalahgunaan kekuasaan mulai dari Kepala Kampung sampai Residen Lampung yang di isi oleh pegawai-pegawai Pribumi yang juga korup. Jadi memang sejak lama perilaku birokrat pribumi dan Penjajah Asing mengeksploitasi rakyat umumnya adalah demi keuantungan-keuntungan materi. Hanya dalam waktu dua bulan pembongkaran yang dilakukan TAS memaksa pemerintahan Pusat Hindia Belanda untuk memberi sanksi kepada Residen Lampung dan bawahannya.
Gubernur Jendral Idenburg Rinkes pada 19 Februari 1912 menyampaikan,” …Ketika di buang di Keresidenan Lampung, dari sana ia mengirimkan surat-surat ke Medan Prijaji, dimana diberitakan adanya penyalahgunaan kekuasaan adanya pemerasan yang tercela, ketidakadilan yang sangat keji dilakukan oleh orang Eropa terhadap diri mereka—masyarakat Lampung”. Mata batin TAS terbuka untuk tetap berjuang walaupun status dirinya sebagai seorang pembuangan. Jika saat di Lampung pertama kali dia datang hanya disambut oleh seorang saja bahkan diperas oleh tukang perahu, TAS saat pulang ke Jawa diantar oleh serombongan masyarakat Lampung yang telah dibelanya untuk mengantarkannya sampai di dermaga pelabuhan. Tukang-tukang perahu menyediakan sebuah perahu khusus yang terhias sangat indah dengan bendera, daun dan kembang berjenis-jenis untuk menguntapkannya dari dermaga ke kapal api. (Pram, Sang Pemula 1985).
Belum ada yang meneliti secara mendalam bagaimana jejak-jejak TAS di Bumi Ruwa Jurai saat pembuangan. TAS dalam pandangan sejarah adalah pioner Jurnalistik Indonesia yang lahir untuk memperjuangkan hak-hak rakyat pribumi yang dirampas oleh Pemerintah Hindia Belanda. S de Vries menyatakan,” dia memiliki daya kerja dahsyat, yang dapat mengerjakan sendirian apa yang sepuluh, seratus orang senegerinya tak mampu melakukan, setiap saat ia bekerja untuk kemajuan bangsanya, namun semua hasilnya dipersembahkannya pada umum, sehingga ia tidak mengenal kekayaan. Memberikan bantuan pada semua orang yang membutuhkan, akhirnya tidak mengherankan kalau orang datang mencarinya, dari Banten, Priangan, Banyumas, Kedu, Solo, Yogya dan sebagainya, dari keresidenan di Jawa dan Madura sampai Sumatra, Borneo dan Maluku. Ribuan orang telah ditolongnya dengan biaya sendiri, bukan saja orang kecil, juga para raja dan priyayi, dan selamanya pertolongannya tidak sia-sia. (Bupati Serang : R.A.A.A Djajadiningrat 1901-1924).
Jejak TAS di Lampung-yang diungkapkan Pram lewat “Sang Pemula”–setidaknya memberi sinyal positif bahwa perjuangan tulisan 1912 telah ada dikenal oleh masyarakat pribumi Lampung. Mereka sangat percaya dengan TAS seorang pejuang jurnalistik dengan melaporkan kesewenang-wenangan pejabat Residen Lampung saat itu. Dari titik ini sejarah dapat dibuka, data dapat dilacak, arsip dapat di konfirmasi di Belanda, dan jejak gerakan khususnya di Bumi Lampung. Jika ini dapat menjadi pengungkapan sejarah maka masyarakat Lampung dapat memahami bagaimana dan kapan saja tahap-tahap perjuangan masyarakat Lampung dalam berjuang merebut kemerdekaan—khususnya tentang perlawanan lokal. Pelan dan pasti banyak yang bisa didapat dari sebuah jalan memahami sejarah dan perjuangan masyarakat Lampung untuk memberi inspirasi kemajuan dan pembangunan peradaban di Bumi Lampung. Semoga!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here