KERETA RATU DAN KOLONIALISME GELAP

0
43

Oleh : DHARMA SETYAWAN
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Sumber : detik.com.
Sejarah kolonialisme yang terjadi pada Negara dunia ketiga, bagaimanapun adalah sejarah pelanggaran berat hak asasi manusia yang pernah ada. Tidak hanya kerugian sumber daya alam dan manusia, tapi masa depan yang begitu sunyi menghantui negeri-negeri pascakolonialisme. Berjalannya waktu dan diakuinya manusia dalam kehidupan demokrasi yang lebih normal, tetap saja menyisakan luka yang dalam. Soekarno yang pernah mengumpulkan Negara-negara pascakolonial dalam sebuah pertemuan konferensi Asia-Afrika dilatarbelakangi visi besar untuk menyatakan pada dunia bahwa Negara-negara terbelakang itu kini telah bangkit. Untuk itu tidak heran Soekarno kemudian di juluki bapak Negara dunia ketiga. Seorang pemimpin yang menyatukan nation tanpa pertumpahan darah. Sebuah harapan baru yang membuat para pemimpin Negara-negara kulit berwarna itu punya harapan sejajar dengan Negara kulit putih. Emosional kebangsaan yang dibangun kala itu bukan sebuah meeting point zaman pasca perang dunia II, tapi konsepsi Soekarno yang memiliki impian kuat bagaimana kawasan Asia-Afrika maju sejajar tanpa manut dengan blok barat dan blok timur.
Puing-puing kolonialisme oleh Soekarno dan beberapa kepala Negara Asia-Afrika lainnya ditanam dalam-dalam di bumi masing-masing. Semangat anti kolonialisme dan kapitalisme kemudian menjadi jargon baru terhadap hegemoni barat yang saat itu menderita kerugian ekonomi akibat habis-habisan melakukan peperangan. Asia-Afrika yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah mencoba bangkit dari derita panjang kolonialisme. Memang tidak mudah dan akhirnya beberapa pemimpin-pemimpin Asia-Afrika ditumbangkan dengan cara-cara keji. Fitnah, adu domba, permusuhan ideologi dilakukan Barat untuk menguasai kembali sumber-sumber kekayaan alam dalam kontek korporasi (hegemoni perusahaan asing di Negara-negara pascakolonial).
Kereta Kolonialisme
Peristiwa di atas mustahil dilupakan sejarah, lebih-lebih kita yang terlahir di Negara-negara dunia ketiga. Atas nama apapun menyangkut kemanusiaan, demokrasi dan perdamaian dunia adalah jargon kosong tentang nasionalisme kita yang selalu terjajah. Baru-baru ini gambar panel Kereta Ratu Belanda (LPS/SCN) menggambarkan masih melekatnya bayang-bayang kolonialisme. Gambar symbol kejahatan masa lalu mereka yang menindas dan memeras bangsa koloni. Gambar tersebut mengilustrasikan bangsa-bangsa kulit hitam, juga bangsa berpakaian jawa sedang mengangkut barang-barang berat melayani tuan-tuan kulit putih. Dan sebagian lainnya menyambah para tuan-tuan kulit putih. Gambar tersebut menuai protes dari Het Landelijk Platform Slavernijverleden (Platform Nasional Masa Lalu Perbudakan) dan Stichting Nederlandse Ereschulden(Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda). Kerata Kencana belum lama melintas di Kota Den Haag pada Selasa (18/09/2012). Sepanjang rute disaksikan ribuan rakyat Ratu, para puteri dan pangeran kerajaan menaiki Kereta Kencana tersebut. (Sumber : Detik.com di Den Haag)
Sisa-sisa kolonialisme selalu memberikan ingatan kepahitan yang mendalam. Jika kemudian di era modern ini Negara-negara dunia ketiga sudah berusaha sekuat tenaga membangun optimisme di puing-puing penderitaan masa lalu. Negara dunia ketiga sekuat tenaga tidak membangun dendam dengan janji keadilan di dunia internasional. Bahkan Negara dunia ketiga bekerjasama dengan baik dari berbagai aspek ekonomi dan politik. Namun, Eropa (Belanda) faktanya masih congkak dengan sisi manusianya yang tidak pernah egaliter. Apalagi ini masih dilakukan oleh sebuah keangkuhan nyata kerajaan Belanda. Gambar kereta yang menyibakkan luka dalam bagi kita adalah sejarah luka nenek moyang kita yang terinjak tengkuk kemanusiannya oleh keserakahan. Gambar yang bukan hanya menyakiti tapi hadirnya kembali Daendles-Daendles modern. Dan dalam dunia kontemporer ini Daendles itu telah kita sadari masih menindas  dengan berevolusi dalam modal multinasional. Eropa yang rasis, fasis nir egaliter adalah fakta yang sulit dibantah. Kemodernan yang dibangun, kemajuan yang ditegakkan dari hasil menghisap kekayaan alam Negara dunia ketiga.
Menolak Lupa Kolonialisme
Soal kemandirian Soekarno sudah lama mengingatkan. “Sumber daya alam yang melimpah itu, walaupun sampai beberapa keturunan tetap biarkan saja di dalam bumi hingga kelak lahir generasi yang mampu mengolahnya dari pada harus dikuasai asing”. Tentang kemerdekaan tidak sebatas selesai Negara dunia ketiga lepas dari penjajahan fisik yang mendera. Lebih dari itu, Negara dunia ketiga juga harus mampu melepaskan ketergantungan terkait kebijakan ekonomi yang jauh dari bentuk didekte oleh asing. Hadirnya modal multinasional yang menguasai sumber daya alam di Negara-negara dunia ketiga adalah penjajahan yang masih kuat menghujam jantung Negara pascakolonialisme. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah (jas merah)” imbuh Soekarno. Kelak kita akan mengerti kenapa ini harus diceritakan. Agar kita mengerti bagaimana kebangsaan ini dibangun.
Kita tidak mungkin berpura-pura bodoh dengan keadaan masa lalu yang menyakitkan bangsa ini. Kita tidak boleh luruh bahwa bahwa kolonialisme benar-benar hilang dari peredaran. Berabad-abad nenek moyang kita mengadakan perlawanan. Ben Anderson menyebutkan bagaimana nation tentang tanah air dan agama adalah modal besar Negara dunia ketiga lepas dari kolonialisme. Jika kita diam saja dengan drama kotor pihak kerajaan Belanda, sejak dini kita harus tanamkan nasionalisme bangsa ini dari titik awal revolusi dulu. Dimana founding fathers kita meyakini dengan kuat perjuangan belum selesai. Sebagaimana tokoh Minke berpesan dalam Jejak Langkah “Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan”. Kita mesti sadar untuk membangun kemanusiaan yang utuh bagi semua bangsa!


             

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here