Post-Modernisme Jogja Hip-Hop Foundation

0
51


Oleh : Dharma Setyawan
Humas Himpunan Mahasiswa Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Modernisme telah lama bermetafor menjadi Post-modernisme. Kebencian pihak modern terhadap partikular dan kelokalan kini ditentang habis oleh Post-modernisme. Sebagai bagian dari pembaharuan isme-modern tidak ada unsur untuk menolak keseluruhan. Namun Post-modernisme adalah sebuah cara perlawanan yang dilakukan atas semua doktrin Rene Descartes selama ini. Corgito Ergo Sum (aku berfikir maka aku ada) adalah kredo yang selama ini selalu memuja bentuk rasional paling klimaks. Dengan budaya kemampuan akal manusia adalah puncak dari modernism faktanya tidak membuat kehidupan lebih baik. Manusia sebagai makhluk sosial telah menolak gejala-gejala kesalahan modernism selama ini.
Gagalnya Modernisme
Pada bentuk marginalnya modernism angkuh mendikte kehidupan manusia sehingga meninggalkan budayanya yang heterogen.  Modernisme telah gagal dan telah putus asa untuk membuat kebahagiaan di atas tekologi dan rasional manusia kontemporer. Modernisme menafikan peran budaya, partikular, kelokalan, kearifan, primordial budaya dan lain sebagainya. Moderinsme tidak mampu membuat semangat kehidupan manusia seluruhnya menjadi universal. Fakta yang terjadi bahwa perilaku sosial manusia tidak akan mampu digantikan oleh teknologi secanggih apapun. Manusia hidup ditakdirkan untuk menjadi penolong satu sama lain. Kehidupan kosmopolitan, perilaku urban yang apatis semakin menyiksa kehidupan manusia. Keluarga menjadi hancur, hubungan kemanusiaan semakin amoral dan nir sosial.
Para pemeluk modernisme telah mencoba hidup bersenyawa dengan teknologi. Manusia modern mencoba untuk menyelesaikan persoalan dengan kecanggihan teknologi. Mereka mencoba hidup dengan kacanggihan laptop, handphone, alat transportasi individu dan mungkin hidup pada satu ruangan. Namun yang terjadi bahwa kecanggihan teknologi membuat manusia semakin kesepian, laptop tidak mampu menjawab perasaan manusia yang tentu berbeda, kendaraan canggih yang individualis membuat macet jalanan karena satu sama lain saling berlomba pada euforiakendaraan canggih. Dampak lingkungan dari perilaku modernism juga tidak bertanggungjawab. Kehidupan modernism membuat bumi menjadi gersang, kerusakan alam akibat eksploitasi tambang dan air tanah menjadi bukti korban keserakahan.
Manusia adalah makhluk sosial ini tidak dapat dibantah oleh teori apapun. Sifat kekurangan manusia merupakan takdir Tuhan yang dimaksudkan untuk saling membantu dan saling melengkapi. Kehidupan manusia yang dimulai dari bilik keluarga adalah kehidupan manusia yang sangat didambakan. Kemanapun manusia pergi menjelajah bumi keluarga adalah tempat kembali yang paling indah. Kerinduan seorang anak kepada orang tua tidak dapat digantikan dengan sambungan telepon atau video internet. Kerinduan mereka harus dipertemukan dengan sentuhan fisik, bertatap muka dan bercanda tawa. Maka pantas modernisme dituduh  membuat hubungan keluarga menjadi hancur.
Maka lahirlah postmodernisme yang menghargai perbedaan, menghargai kembali local wisdom, mengangkat kembali warisan budaya setiap ragam kehidupan. Postmodernisme lahir pasca gagalnya paham modernism menjanjikan kebahagiaan. Dalam tulisan “Etos Postmodern” Stanley J. Grenz menyatakan bahwa Postmoderisme menunjuk kepada suasana intelektual dan sederetan wujud kebudayaan yang meragukan ide-ide, prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dianut oleh modernisme. Postmodernitas menunjuk kepada era yang sedang muncul, era dimana kita hidup, zaman di mana postmodernisme mencetak masyarakat kita. Postmodernitas adalah era di mana ide-ide, sikap-sikap, dan nilai-nilai postmodern bertahta – ketika postmodernisme membentuk kebudayaan. Inilah era masyarakat postmodern.
Salah satu pemikir postmodernisme, Charles Jencks, menegaskan bahwa lahirnya konsep postmodernisme adalah dari tulisan seorang Spanyol Frederico de Onis. Dalam tulisannya “Antologia de la poesia espanola e hispanoamericana” (1934), de Onis memperkenalkan istilah tersebut untuk menggambarkan reaksi dalam lingkup modernisme. Yang lebih sering dianggap sebagai pencetus istilah tersebut adalah Arnold Toynbee, dengan bukunya yang terkenal berjudul “Study of History”. Toynbee yakin benar bahwa sebuah era sejarah baru telah dimulai, meskipun ia sendiri berubah pikirannya mengenai awal munculnya, entah pada saat Perang Dunia I berlangsung atau semenjak tahun 1870-an. Menurut analisa Toynbee, era postmodern ditandai dengan berakhirnya dominasi Barat dan semakin merosotnya individualisme, kapitalisme, dan Kekristenan. Ia mengatakan bahwa transisi ini terjadi ketika peradaban Barat bergeser ke arah irasionalitas dan relativisme. Ketika hal ini terjadi, kekuasaan berpindah dari kebudayaan Barat ke kebudayaan non- Barat dan muncullah kebudayaan dunia pluralis yang baru. (Stanley J. Grenz)
Kebudayaan Post-Modernisme
Sangat menarik mengamati Jogja Hip Hop Foundation sebuah grup music Hip Hop yang memunculkan budaya dalam musik. Di tengah gempuran musik beraliran impor negeri ini, grup ini mencoba berelaborasi dengan kearifan local. Jogja Hip Hop Foundation berusaha melawan dengan cara halus tetapi tanpa mencaci kondisi yang terjadi. Sebagaimana ide Postmodernisme, grup ini menghargai perbedaan dan memberikan daya tarik musik pada kualitas isi musik. Musik hip hop berkomparasi dengan etnis musik jawa yang tergolong lokal. Hal ini juga menjadi satu marketing cerdas untuk mengangkat budaya lokal agar terlihat di tingkat internasional. Mengangkat lokal pada wilayah universal memang tidak gampang namun ini adalah wujud konsistensi untuk melestarikan budaya lokal dan membangun nilai-nilai kehidupan.   
Kebudayaan Jogja, bahasa jawa, batik, Jola Joli (Pantun Jawa) menjadi suguhan menarik musik Jogja Hip Hop Foundation yang mengangkat kembali bagian local wisdom di Nusantara ini. Kritik terhadap kondisi politik, sosial dan kehidupan modernism muncul dalam bait syair-syair Jogja Hip Hop Foundation. Bahkan grup hip hop ini telah go internasional di Amerika menyuguhkan lantunan kebudayaan musik berkomparasi dengan ke-jawaan. Postmodernisme bukanlah isme yang final menjawan kehidupam manusia yang selalu berubah. Atas dasar sikap sosial kemanusiaan menyeragamkan manusia dalam nalar fikir yang terus berkembang adalah bentuk penjajahan fisik dan jiwa manusia itu sendiri. Yang berhak menyeragamkan sisi kehidupan manusia adalah Tuhan dengan ajarannya yang memaksa manusia untuk berakhlak baik dan memberi tauladan terhadap sesama.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here