AGUS SALIM PIONIR PERS IDEOLOGIS

0
47


Oleh : DHARMA SETYAWAN
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
 “Selama saya menjadi pemimpin dan pengisi “Hindia Baru” (surat kabar milik Pemerintah Belanda), saya tidak berbuat seperti Pemimpin Sarekat Islam dan kalau saya menulis tajuk rencana saya tidak berfikir seperti dalam rapat partai. Saya melihat dihadapan saya rakyat Indonesia pada umumnya. Saya memikirkan apa yang menjadi perhatiannya. Apa yang umumnya disukai dan tidak, apa yang dipandang tidak adil. Saya berusaha benar-benar agar “Hindia Baru’ menjadi harian umum (bukan corong Belanda atau kepentingan golongan Partai). Dalam hal ini saya mendapat kritik dari kawan-kawan sendiri. Banyak kawan-kawan partai mengirimkan karangan yang tidak saya muat, karena kurang bermutu, atau hanya bermutu bagi partai. Akan tetapi mengenai peri kehidupan ; dan pendapat saya tentang Pemerintah Hindia Belanda serta kebijaksanaanyya, saya tidak bersedia tawar-menawar. Hal tersebut diketahuinya. Dan itulah juga syarat waktu saya menerima memimpin Hindia Baru”.[1]
 Kata-kata Agus Salim di atas adalah bukti konsistensi bahwa ideologi jurnalisme tidak dapat dibeli dengan apapun. Pers bagi Agus Salim adalah yang sama pentingnya dengan perjuangan politik karena pers adalah bagian dari Kutub Kekuasaan. Agus Salim sangat tahu apa dan bagaimana pers harus bersikap dan harus membela kepentingan hak-hak rakyat yang tertindas. Agus Salim lebih memilih meletakkan jabatannya sebagai pemimpin surat kabar “Hindia Baru”. Surat kabar itu didirikan tahun 1925 di Djakarta (ejaan lama Jakarta). Pilihan itu pun pada akhirnya menjadikan sebuah jalan sulit karena pendapatannya berhenti dan Agus Salim harus berpindah kontrakan rumah. Sebagai “Hoofdredacteur” dirinya mengisi tajuk rencana dan mengisi ruang “Mimbar Jumat”, serta mengatur cara dan bentuk pemberitaan harian. Oleh Agus Salim “Mimbar Jumat’ diisi dengan khotbah jumat yang saat itu masih sangat asing.
Menurut Roem “Khotbah di mesjid-mesjid umumnya masih dalam bahasa Arab, yang hanya dimengerti oleh mereka yang tahu bahasa itu. Perkumpulan seperti Muhammadiyah dan Persatuan Islam (PERSIS) masih berjuang untuk meyakinkan para Ulama di Indonesia, bahwa khotbah Jumat disamping membaca ayat-ayat Quran dan doa dalam bahasa Arab, tidak melanggar Syariat Islam, bila disertai tafsiran dan penjelasan dalam bahasa melayu atau bahasa daerah yang dimengerti para jema’ah”.[2]
Memang Agus Salim sangat lantang dan ideologis. Sebelum bersedia memimpin surat kabar itu, Agus Salim mengajukan persyaratan bahwa ia akan kerjakan dengan kebebasan. Agus Salim tidak ingin pers menjadi corong pemerintahan Belanda atau corong kepentingan golongan Partai. Agus Salim menginginkan bahwa surat kabar adalah alat untuk memperjuangkan hak-hak keadilan untuk rakyat. Maka Belanda yang memiliki surat kabar tersebut awalnya menyetujui, tapi ketika Agus Salim menggunakan surat kabar itu untuk mengkritik Belanda, hal itu dirasa mengganggu otoritas Belanda sebagai Pemerintahan kuasa saat itu. Maka ketika Belanda melakukan tawar menawar atas tulisan-tulisan yang sangat tajam mengkritik pihak mereka, Agus Salim memilih untuk menghentikan kerjasama. Jawab Agus Salim ‘ Kalau saya terus menulis, maka saya hanya ada dua kemungkinan : saya tidak memperdulikan permintaan pemilik harian atau saya menyerah, dan berkompromi dengan hati nurani saya”. Dan Agus Salim lebih memilihhati nurani tanpa kompromi dan memilih berhenti menjadi pemimpin surat kabar Hindia Belanda.
Kesadaran Agus Salim tentang pers Ideologis yang membela rakyat ini memang sangat diacungi jempol. Kala itu masyarakat memang banyak yang tidak bisa membaca, tapi Agus Salim sudah sangat memahami bahwa kerja-kerja pers sangat fundamen untuk menyuarakan dan menyatukan gagasan para intelektual yang jumlahnya terbatas saat itu. Sejarah juga mencatat, Agus Salim beberapa kali mendirikan dan memimpin beberapa surat kabar di pra-kemerdekaan. Pada tahun 1917-1919 Agus Salim bekerja di Balai Pustaka dan juga memimpin surat kabar “Neratja” (Neraca) yang sangat besar pengaruhnya. November 1927 Agus Salim dan Hos Tjokroaminoto mendirikan surat kabar “Fadjar Asia”. Roem menyatakan bahwa pemikiran kedua tokoh di atas saat itu sudah melampaui batas-batas Indonesia. Sehingga Fadjar Asia adalah media internasional yang didirikan oleh Tokoh Islam saat itu. Dan pada tahun 1931-1932 memimpin harian “Mustika” di Djokja, satu-satunya harian Islam terbesar di Indonesia saat itu.
Saat usia tuanya Agus Salim tetap menjaga literasi menulisnya. Pasca pensiun dari aktifitas politik, Agus Salim masih bergiat aktif dalam dunia jurnalis. ST. Alamsjah menuturkan “Karang mengarang dalam madjallah mulai kelihatan pula satu persatu. Sebagai pengarang caliber besar, nama Salim belum dapat dihilangkan. Tulisannja masih hangat dan berisi. Susunan kalimatnja masih gemuk dan menarik hati. Karena itu Salim belum boleh pensiun sebenarnja dari perdjuangan Indonesia ini. Kalau tidak di medan politik, dan kalau tidak di medan diplomasi, maka medan surat kabar adalah penting pula dan banyak memberi hasil”.[3]
Agus Salim adalah pionir jurnalisme ideologis di Indonesia. Dari buah kerjanya banyak generasi-generasi yang tergugah untuk memainkan literasi ilmiah lewat surat kabar. Agus Salim bukanlah sosok pegiat pers yang partisan dan komersil. Media adalah alat perjuangan yang sangat penting bagi sebuah kecerdasan bangsa. Pers bukan milik sepihak, dengan pemberitaan sepihak dan hanya berguna untuk alat segelintir kepentingan. Pers adalah bagian dari pilar demokrasi yang dipahami sebagai bagian chek and balances manakala tidak ada lagi yang bersuara atas dasar kebenaran. Ketika kebenaran dibangun maka pers lah yang juga berperan untuk memberikan ajaran-ajaran terbaik. Pers yang lebih luas hari ini lebih pada perjuangan segala bentuk alat media tidak hanya surat kabar tapi televisi, internet, radio dan lainnya.
Agus Salim sudah meletakkan dasar semangat perjuangan seorang jurnalisme yang benar-benar berjuang untuk membela hak-hak rakyat. Mengambil pelajaran dari sosok jurnalis Agus Salim sangat penting untuk masa depan bangsa ini dengan segala bentuk permasalahan yang muncul. Kemerdekaan yang kita raih sudah saatnya membangkitkan semangat pers yang benar-benar bersuara untuk kebenaran dan mendidik bangsa ini menuju peradaban yang lebih baik. Pers harus dikelola untuk mencapai hak kita sebagai bangsa yang mandiri. Sebagamana Agus salim mengatakan “Wahai bangsaku! kumpulkanlah segala tenagamu dan segala kekuatan hati dan kehendakmu akan mentjapai hak mengurus rumah tanggga kita sendiri!”.[4]




[1] Ucapan Agus Salim setelah berhenti memimpin Surat Kabar “Hindia Baru” milik Belanda. Lihat Lihat, Manusia Dalam Kemelut Sejarah, LP3ES, Jakarta, 1978,  hal 110
[2] Ibid, h 109
[3]  Lihat, ST. Rais Alamsjah, 10 Orang Indonesia Terbesar Sekarang,  Bukit Tinggi, Padang-Djakarta, penerbit Mutiara, 1952 h 132
[4] S.K Neratja, Kemis 24 Djanuari 1918 No 17 th 2, lihat, Djejak Langkah Hadji A. Salim, Tirtamas-Jakarta, 1954 h 37

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here