NASIONALISME AGUS SALIM

0
46


Oleh : DHARMA SETYAWAN
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Nasionalisme menjadi perdebatan panjang sebuah kehidupan masyarakat bernegara. Islam lebih-lebih tidak hanya memiliki sikap nasionalisme tapi dengan ide khilafah jelas mengandung sikap internasionalisme. Mengupas habis tentang Nasionalisme faktanya lebih pada upaya saling curiga antar kelompok kepentingan untuk membawa gerbong Negara pada upaya memperjuangkan kepentingan nasional. Sejak itu agama, etnis, ras, suku menjadi bagian yang terusik manakala kata “nasionalisme” menyemburat kepermukaan dan mengganggu nilai-nilai yang mereka anut. Pasca itu munculah stigma primordial bagi kelompok yang masih mempertahankan kepentingan golongan tersebut di atas kepentingan nasional. Primordial menjadi bentuk sikap negatife karena menjadikan berbagai kelompok dianggap tidak nasionalis.
Soekarno mendefinisikan nasionalisme sebagai “cinta kepada tanah air, kesediaan yang tulus untuk membaktikan diri dan mengabdi kepada tanah air, serta kesediaan untuk mengesampingkan kepentingan golongan yang sempit.[1]Konsep inilah yang mendasari Soekarno untuk setuju dengan usul-usul perubahan sehingga menghasilkan UUD produk PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang jauh berbeda dengan Produk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), disamping pertimbangan keutuhan persatuan bangsa. Sementara itu kelompok Islam menganggap konsep nasionalisme Soekarno ini sebagai berlebihan, karena terkesan menyamakan posisi nasionalisme sejajar dengan agama. Jika pandangan ini dipakai maka terkesan menjadikan manusia sebagai budak yang menyembah tanah airnya dan berakhir dengan merusak tatanan tauhid.
Karena itu Agus Salim menegaskan bahwa nasionalisme harus diposisikan dalam konteks pengabdian kepada Allah. Sejalan dengan pendapat ini, maka Islamlah prinsip yang harus didahulukan.[2] Dalam sebuah kesempatan sewaktu mengajar di Cornell University, Agus Salim mampir di Washingtondan bertemu dengan warga Indonesia. Inilah petikan pesannya kepada pemuda yang masih relevan dengan kondisi kita sekarang, “Begitu pula di Tanah Air kita. Janganlah pemuda-pemuda Indonesia bimbang tentang adanya berbagai-bagai partai. Bukan uniformitas yang mencapaikan tujuan yang tinggi-tinggi, tetapi besef, kesadaran tentang unitas (kesatuan dan persatuan) dalam berlain-lainan asas, dalam berlain-lain pendapat, satu bangsa, satu Tanah Air, selamat sama selamat, celaka sama celaka. Bukan satu saja, bukan uniform, tapi gerich of het gemeenschappelijk nut, bertujuan pada keselamatan bersama karena keselamatan masing-masing yang tidak membawa keselamatan bersama tidak akan tercapai”. Ucap Agus Salim.
Jadi saat itu jauh hari Agus Salim begitu mewanti-wanti janganlah generasi terpecah belah akibat kepentingan sempit seperti kepentingan kelompok partai. Agus Salim memberi kesadaran pada kita semua bahwa persatuan lebih penting diatas segalanya. Walaupun sejak lama Agus Salim telah bersama Soekarno dalam masa pra-kemerdekaan sampai terakhir di pembuangan di Muntok Bangka. Namun Agus Salim bicara tegas soal Nasionalisme. Selain itu Agus Salim dikenal luas di beberapa Negara Barat dan Timur sebagai diplomat ulung. Pemahamannya yang lekat dengan Pan-Islamisme menjadikan konsep Agus Salim Beyond Nasionalisme (melampaui nasionalisme sempit). Ketegasannya dalam memandang Nasionalisme tidak hanya sebatas tanah, air dan Negara melainkan Nasionalisme tertuju pada Allah SWT merupakan titik kulminasi dari perdebatan panjang Negara ini pada pra atau pasca kemerdekaan sekarang ini.
Bagi Agus Salim hal ini mutlak karena Nasionalisme yang hanya sebatas tanah, air dan Negara adalah nasionalisme sempit dan Islam sangat kecil kalau hanya untuk membela yang demikian. Islam bagi Agus Salim adalah pembebasan dari semua bentuk penjajahan akal dan jasad yang dia yakini hanya dengan Islam kita akan mengenal dunia yang penuh dengan kedamaian. Pertemuannya dengan Tokoh-tokoh Islam Mesir, Palestina, Irak, dan lainnya menjadikan Agus Salim tahu bagaimana meletakkan nasionalisme yang begitu luas menjangkau seluruh Negara. Nasionalisme  pada intinya adalah membela hak-hak kehidupan bumi yang adil demi menggapai cita-cita akhirat yang kekal. Sehingga Agus Salim memahami jika di bumi lain ada manusia yang ditindas sebagaimana Indonesia pernah ditindas maka membela Negara lain yang tertindas adalah bentuk Nasionalisme. Dan Mesir, Irak, Palestina sudah membela Indonesia kala menuju kemerdekaan dan hal tersebut sebagai bentuk nasionalisme mereka.
Maka bagi Agus Salim ketika memberi kuliah kepada mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat,  partai tidak menjadi penting jika kemudian menjadikan rasa nasionalisme itu menjadi terpecah. Sebagai orang yang merasakan betul susahnya menyatukan bangsa, maka nasionalisme harus tertuju pada tujuan satu yaitu keselamatan bersama dan untuk Allah SWT. Pada saat sekarang ini Nasionalisme begitu sempit dan hanya didefinisikan bagi pihak yang saling mengaku nasionalisme. Nasionalisme bagi Agus Salim adalah Nasionalisme untuk semua, untuk  keselamatan bersama!


[1] Bahtiar Effendi, Islam dan Negara, (Jakarta : Bulan Bintang, 19 ), h. 71.
[2] Ibid.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here