H. AGUS SALIM “MENTERI MELARAT”

0
55

Oleh : DHARMA SETYAWAN
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Leiden is lijden (memimpin adalah menderita).
Kutipan Tulisan itu pernah menjadi Judul Opini Yudi Latif  KOMPAS, 31 Januari 2012, mengutip Kredo Agus Salim bersikap sebagai seorang negarawan. Pemimpin yang kita kenal semestinya sebagai penyambung lidah rakyat layaknya Soekarno sebagaimana pendapat Cindy Adam. Pemimpin yang setiap hari memikirkan apa dan bagaimana nasib rakyatnya di esok hari. Pemimpin yang benar-benar mencintai Negara dan seluruh isi di dalamnya dengan tekad memberi kemanfaatan dirinya untuk sebanyak-banyaknya makhluk. Begitu mengharukan tapi ini nyata ada dalam diri Agus Salim. Seorang pejuang, negarawan, orator, penulis, diplomat, penjual minyak tanah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dengan cara yang halal. Agus Salim yang tidak gila jabatan dan harta. Agus Salim yang cukup bahagia dan mensyukuri semua keadaan. Maka Leiden is Lijden adalah sikap diri untuk memberikan jiwa raga bagi perjuangan kemerdekaan bangsanya tanpa harus merasa masygul atas kekurangan yang masih menghinggap dalam kehidupan pejuang itu sendiri.
 Menurut Mohamad Roem (yang terkenal namanya lewat perjanjian Roem-Rojen), Kehidupan Agus Salim sangat sederhana, termasuk tempat tinggalnya. Menurutnya,“Agus Salim, kira-kira enam bulan sekali mengubah letak meja kursi, lemari sampai tempat tidur rumahnya. Kadang-kadang kamar makan ditukarnya dengan kamar tidur. Haji Agus Salim berpendapat bahwa dengan berbuat demikian ia merasa mengubah lingkungan, yang manusia sewaktu-waktu perlukan tanpa pindah tempat atau rumah atau pergi istirahat di lain kota atau negeri”.
 “Orang tua yang sangat pandai ini seorang jenius dalam bidang bahasa, mampu berbicara dan menulis dengan sempurna dalam paling sedikit sembilan bahasa, mempunyai hanya satu kelemahan, yaitu selama hidupnya melarat” demikian penilaian Prof.Schermerhorn yang ditulis dalam catatan hariannya Senin malam tanggal 14 Oktober 1946.
Dalam kisah yang dikutip dari buku Seratus Tahun Haji Agus Salim. Rumah yang bocor malah dirasakan sebagai suatu sukacita yang dapat menciptakan keasyikan bersama. “Pada suatu masa, mereka menempati rumah buruk yang kakusnya telah rusak. Kalau disiram, isi kakus itu malah meluap. Zainatun Nahar istrinya, benar-benar tidak tahan dan setiap kali ke WC malah muntah-muntah karena jijik. Agus Salim kemudian melarang istrinya menggunakan WC yang rusak itu dan ia sendirilah yang tiap hari membuang pispot istrinya”.
Memang sulit menemukan kembali hal-hal yang demikian pada pemimpin pada zaman saat ini. Agus Salim sebagai seorang Menteri yang disegani dan terpercaya berdiplomasi dengan pemimpin-pemimpin luar negeri mampu menyembunyikan keadaaan kekurangan yang sangat langka pada kehidupannya yang bukan lagi sederhana. Tapi sangat melarat, Maka kata-kata “memimpin adalah menderita” adalah resiko yang Agus Salim ambil dan semakin membuat rakyat luas percaya bahwa benar-benar Pak Menteri itu sangat menderita bersama keluarganya. Dan terbukti, tidak ada dalam kehidupan Agus Salim mengeluh minta ditambah gaji atau fasilitas yang lain. Kondisi Indonesia yang baru merdeka saat itu masih banyak ditemukan rakyat luas tidak dapat makan dengan gizi yang cukup. Anak-anak memakai pakaian yang tidak layak. Jangankan pendidikan, Negara yang sudah sangat tua sebagai budak Belanda sangat minim menggapai kesejahteraan dalam waktu yang singkat. Kesejahteraan itu kini pun juga hadir pada kelompok-kelompok terstruktur namun tidak merata. Kesejahteraan dan kemelaratan kian menjadi jurang pemisah bagi keindonesiaan kita.
Agus Salim dan Istrinya juga tidak mungkin mengatakan kepada public bahwa WC seorang Menteri yang tinggal dirumah kecil kontrakan telah rusak. Agus Salim sangat paham dan menyadari bahwa penderitaannya adalah bentuk wakaf dirinya sebagai seorang pemimpin yang benar-benar mencintai dan dicintai rakyatnya. Prof.Schermerhorn yang menyanjung Agus Salim sebagai seorang yang pandai bahasa  dan menulis dengan sempurna menelisik kehidupan dalam Agus Salim yaitu kemelaratannya. Kemelaratan yang membuat Pak Tua itu semakin tegar. Kemelaratan yang membuat Pak Tua itu semakin berjiwa besar. Agus Salim adalah sebagian contoh pemimpin yang saat itu benar-benar berkorban dan menderita. Kita juga masih ingat Bung Hatta yang tidak mampu membeli sepatu keinginannya hingga akhir hidupnya. Kita juga tahu bagaimana Muhammad Natsir seorang perdana menteri yang menggenakan baju bertambalkan aspal.
Kita saat ini merindukan sosok-sosok itu hadir memimpin negeri ini  bukan untuk menjadi melarat, tapi kita rindu sosok-sosok itu hadir dalam ruang kesederhanaan. Ruang yang akan menjadi dealektika kepercayaan antara pemimpin dan rakyat. Sebuah bentuk kepemimpinan yang menjamah nurani rakyat penuh keteladanan. Bukan sebuah kemepimpinan yang nir-akhlak, dan nir-sosial. Tidak perlu pemimpin hari ini harus bersusah payah seperti Agus Salim. Pemimpin hari ini hanya dituntut untuk Amanah, sederhana dan tidak korupsi!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here