AGUS SALIM DAN FABEL POLITIK

0
71

Oleh : DHARMA SETYAWAN
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Perdebatan panjang Sarekat Islam (SI) yang kelak pecah menjadi SI merah dan putih adalah prinsip ideologi Islam dan Komunis yang memang hadir dan terus bergulat didalamnya. Bagi Founding Father seperti HOS Tjokroaminoto yang memiliki kedalaman ilmu Islam, sosialisme adalah karakter filantropi (kedemarwanan) sebagai seorang muslim yang peduli pada bentuk kemiskinan, ketidakadilan, ketimpangan sosial dan penjajahan yang kejam saat itu. Jadi ideologi Islam dan Sosialis ini tidak menjadi masalah, karena keduanya akan menjadi alat perjuangan yang sama dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Sarekat Islam yang berawal dari kumpulan para pedagang yang membela kaum lemah akhirnya bermetamorfosa menjadi gerakan Islam besar saat itu dan menjadi ketakutan bagi Belanda. Karakter Islam Sosialis yang dibawa oleh Hos Tjokroaminoto memang menjadi relevan untuk digaungkan saat itu atas kebenciannya terhadap Imperialisme, Kolonialisme dan Kapitalisme yang sangat menyengsarakan rakyat.
 Namun di sebagian anak didiknya kelak, Sosialisme dalam tubuh SI berubah menjadi merah komunis dan semakin progresif membangun aliansinya sendiri. Dengan semangat para kaum proletar, dan sokongan dari Uni Soviet, sosialisme di Indonesia semakin memberi warna perjuangan yang lebih radikal dan anti terhadap Agama. Namun juga tidak dapat digeneralkan bahwa para anggota Partai Komunis Indonesia meninggalkan agamanya. Untuk konteks Indonesia, PKI adalah partai yang besar dan nilai religi masih dianut kuat oleh para anggota. Hanya saja cara-cara perjuangan kelas gaya Marx-Engel menjadi titik tolak perjuangan mereka. Di panggung rapat Sarekat Islam itu, Muso –kelak menjadi tokoh Partai Komunis Indonesia– berdiri, kokoh. Dia melihat para anggota rapat, tersenyum.
“Saudara, saudara, seperti apa orang yang berjanggut itu,” tanyanya.
Para peserta seperti kaget. Tapi, mereka menjawab juga. “Kambing!”
“Lalu, seperti apa orang yang memasang kumis,” tanya Muso lagi.
“Kucing!”
“Terimakasih.” Muso tergelak, lalu turun dari podium.
Kemudian, seorang lelaki kecil, berjanggut panjang, berkumis, naik podium. Dia tersenyum sebentar pada peserta rapat. Mengelus janggutnya, berdehem, dan bertanya,
“Tahukah Saudara, seperti apa orang yang tidak berkumis dan berjanggut?”
Koor jawaban pun bergema. “Anjing!”
Lelaki berjanggut itu tersenyum. Kemudian meneruskan pidatonya, menjelaskan agenda Sarekat Islam dalam menghadapi politik kolonialisasi Belanda. Dengan cerdas Laki-laki berjanggut itu menghadapi perdebatan dengan kemenangan. Agus Salim adalah laki-laki tersebut, seseorang yang kelak menjadi juru diplomat terhadap bangsa-bangsa Timur Tengah untuk mendukung kemerdekaan Indonesia bersama Syahrir dan kawan-kawan. Agus Salim adalah orang yang sangat pandai membalas perdebatan-perdebatan panjang para tokoh yang dinilai merongrong agenda Islam. Namun kita baru menyadari kelak Agus Salim bukanlah orang yang terlalu sibuk dengan kostum dan komestik Islam dalam perjuangan Islamnya. Dirinya adalah Islam yang memberi rasa tenang dan nyaman pada manusia yang lainnya. Sikap hidup yang sederhana tanpa ada upaya menumpuk kekayaan sudah sangat inherenpada pribadi Agus Salim. Selain itu tidak semua orang tahu bahwa tokoh yang mampu berkomunikasi dengan 9 bahasa ini terbiasa hidup dengan mengontrak rumah, bahkan rumah kontrakannya di gang sempit menjadi saksi setiap hari Agus Salim harus terbiasa menaiki sepeda tuanya. Jika hujan sepeda itu diangkat di atas kepala, jika tidak hujan dan tanah kering sepeda dia naiki. Bukan karena tidak bisa baginya menghadirkan kesejahteraan, namun sangat tidak arif jika masih banyak rakyat miskin, buta huruf, berpakaian goni pemimpinnya hidup di rumah mewah bagai raja dikelilingi budak.
Baginya Islam perlu melakukan pembaharuan perjuangan, agar mampu melawan belanda dengan kecerdasan bukan hanya dengan berdoa mendapat mukjizat keajaiban dari Tuhan. Perdebatannya dengan Muso yang sudah mengarah pada penghinaan fisik juga dihadapinya dengan lantang dan cerdas. Bahkan balasannya atas majas-majas Muso yang menyindirnya dengan binatang “Kucing dan Kambing” dibalas dengan santai dan menohok, yang disambut oleh para anggota dengan jawaban “Anjing”. Konflik podium tersebut adalah perdebatan “Fabel Politik” yang paling liberal karena kelak Sarekat Islam pacah menjadi dua dimana SI Merah adalah Komunis dan SI putih adalah Islam. Sebenarnya Agus Salim adalah orang yang memiliki empati terhadap kesusahan fisik tapi dia sangat tajam menghujat kepicikan fikir yang terlontar dari para pejuang saat itu yang terlalu apriori dengan Islam dan perlawanan Penjajahan. Sikap Agus Salim yang mampu menjadi lawan tanding bagi para tokoh kiri adalah buah dari pemikirannya yang selalu progresif menjawab tantangan Pan-Islamisme (gerakan pembaharuan Islam).
“Jarang ada yang mau menghadapi Agus Salim dalam berdebat. Ia amat ahli berkelit, bernegosisi, dan lidahnya amat tajam kala mengecam,” ucap Mohamad Roem, rekan Agus Salim semasa aktif di Jong Islamieten Bond. Roem sangat memahami kapan dan bagaimana Agus Salim bersikap terhadap masalah-masalah ke-Indonesiaan yang berubah-dan terus berubah. Agus Salim bukan hanya sosok pejuang Islam, tapi dia termasuk intelektual zaman itu yang sangat dihargai didunia Internasional. Sepak terjangnya yang selalu totalitas terhadap kebenaran membuat Agus Salim disegani lawan dan disenangi lawan. Tidak ada dalam diri Agus Salim sebuah sikap yang membuat kawan perjuangannya merasa terbebani. Beberapa kali dibuang di pengasingan tidak membuat Agus Salim mati gaya untuk terus menyadarkan rakyat arti penting kemerdekaan. Pak Tua itu-pun pada akhirnya masih sempat merasakan dibuang di Muntok, Bangka Belitung bersama Soekarno dan M Hatta akibat dari propaganda-propaganda yang mereka lakukan untuk mengajak seluruh intelektual dan pejuang saat itu mempertahankan kemerdekaan diseluruh Nusantara. Sungguh perjuangan yang melelahkan dimana Proklamasi 17 Agustus 1945, namun tahun-tahun sesudahnya Indonesia berjuang keras untuk mengusir Penjajah yang masih saja ingin menguasai Indonesia.  
Foto ini dibuat sekitar tahun 1947. Dua tahun kemudian Bung Karno dan Agus Salim ditangkap Belanda dan dibuang ke Bangka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here