M NATSIR “MUSLIM NEGARAWAN”

0
112

Oleh : DHARMA SETYAWAN
Mahasiswa Ekonomi Islam
Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada
 “Ia memakai kemeja tambahan, sesuatu yang belum pernah saya lihat diantara para pegawai pemerintah manapun” Ucap George Mc Turnan Kahin seorang Indonesianis asal Amerika ketika pertemu pertama kali dengan M Natsir.
Pandangan Kahin begitu nyata, jelas dan murni seketika menghardik batinnya. Keheranannya semakin menjadi-jadi tatkala pribadi sederhana M Natsir membuncahkan tauladan yang begitu langka. Muhammad Natsir, dalam tulisan lain ada yang menulisnya Mohammad Natsir/Mohd. Natsir/M. Natsir, adalah putra kelahiran Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat 17, Juli 1908, dengan gelar Datuk Sinaro Panjang. Sosok M Natsir adalah pemimpin paling natural tanpa sedikitpun permainan citra bersandar pada dirinya. Apa yang muncul baik kelebihan dan kekurangan semakin menegaskan dimana kita mampu menjangkau M Natsir berdasarkan hakikat nurani.
M Natsir adalah pemilik kepekaan batin dari sekian banyaknya pejuang yang sangat tulus mengawali Indonesia merdeka dengan segudang tantangan masa depan. Pemimpin Partai Masyumi itu lihai dan kritis meretorikakan gagasannya di Parlemen. Sosok Fundamentalis Islam sangat lekat dan ini yang paling genuine. Kesantunannya menjadi penawar bagi sikap fundamentalisnya yang menakutkan pagi para phobia Islam. Jika tidak demikian mana mungkin M Natsir pasca berdebat dengan DN Aidit di Parlemen beberapa menit kemudian bersanding mesra duduk bersama di luar gedung parlemen minum kopi layaknya saudara akrab. Cerminan mental para pejuang memang paten di benak founding fathers parlemen Indonesia ini. Bahkan sering kali DN Aidit berboncengan naik sepeda ketika tugas kenegaraan selesai dan mereka pulang bersama. Orang kemudian memahami, perdebatan sengit antara Islam dan Komunis di Parlemen adalah bentuk ketegasan yang bukan pura-pura soal konsep kenegaraan Indonesia yang begitu heterogen, namun sikap humanism mereka telah mencairkan suasana.
Soal Islam Natsir tegas! Juga demikian soal menyambung silaturahmi M Natsir mencontohkan cara muslim yang baik. Soekarno yang semula menganggap M Natsir sebagai anak kesayanganpun pada akhirnya berseberangan tentang dasar ideologi Negara. Bisa kita bayangkan kedekatan seorang M Natsir dengan Soekarno berakhir dengan kelak Masyumi dibubarkan dan tokoh-tokohnya di penjara termasuk M Natsir. Lain dari itu, M Natsir merupakan seseorang yang sering menuliskan naskah pidato Soekarno. Maka Hatta pun pernah berkelakar “Pak Natsir itu anak kesayangan Pak Karno”. Ketika ditanya M Natsir mengatakan “Ia saya dekat dengan Pak Karno dekat sekali bahkan saya sering menuliskan kata pidato untuknya, tapi itu dulu sekarang kita beda pandang, tentang identitas Negara”.
Tanggal 5 April 1950 Natsir mengajukan mosi intergral dalam sidang pleno parlemen, yang secara aklamasi diterima oleh seluruh fraksi. Mosi ini memulihkan keutuhan bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan RI (NKRI), yang sebelumnya berbentuk serikat. Karena prestasi inilah Natsir diangkat menjadi perdana menteri. Bung Karno menganggap Natsir mempunyai konsep untuk menyelamatkan Republik melalui konstitusi. Maka Natsir disebut beberapa pakar sejarah dengan sebutan “Negarawan Konstitusional”. Begitulah Natsir tokoh yang baru diberi pahlawan pada 10 November 2008, bersamaan dengan 2 tokoh lainnya Almarhum K.H. Abdul Halim dan Almarhum Soetomo (Bung Tomo).
Natsir menggambarkan tokoh yang penuh semangat. Menyelelami kehidupan Natsir akan menemukan kesederhanaan, kesabaran, kejujuran dan semangat Islamnya yang begitu tinggi. Natsir pernah mengatakan “Saya tidak takut masa depan, karena tidak ada bahaya, masa depan milik umat Islam, jika mereka tetap istiqomah, baik secara pribadi atau kolektif”. Cita-cita Natsir begitu tinggi, gelombang semangatnya sangat membuncah. Bangsa ini begitu beruntung melahirkan Muslim seperti Natsir. Muslim yang begitu memahami perjuangan Islam lewat konstitusi. Semangat yang tidak padam sampai hari ini. Saat ditanya oleh radaktur Majalah Al-Wa’yul Islami” Kuwait di rumahnya tahun 1989 tentang tokoh yang berpengaruh dalam hidupnya Natsir menjawab “ Haji Syaikh Muhammad Amin Al Husaini, Imam Asy Syahid Hasan Al-Banna dan Imam Al-Hudhaibi. Sedangkan Tokoh Indonesia adalah Syaikh Agus Salim dan Syaikh Ahmad Surkati”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here