“Masjid”

0
69

Kembali Gerakan Masjid
Oleh : DHARMA SETYAWAN
 Public Pilicy KAMMI Kota Yogyakarta
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada
Dipa Nusantara Aidit/ Achmad Aidit
Selama orde baru dirinya digambarkan sebagai tokoh yang bengis. Layaknya tokoh yang sangat jahat, dalam film yang sengaja dibuat rezim orde baru sukses mempropaganda rakyat untuk menilainya sebagai sosok yang benar-benar kejam. Bahkan wajah asli yang terlihat karismatik, tampan dan ceria, digambarkan dengan tokoh yang memiliki mimik bopeng, kusam, kasar dan sesekali menghisap rokok. Di era reformasi kemudian semua ini terkuak, tidak semuanya yang dituduhkan padanya benar. Film G30/S PKI itu hanya reka-reka rezim orde baru untuk menarik dukungan rakyat agar mengamini jahatnya PKI terhadap Indonesia.  Anak kandung tokoh itu pun kemudian bertutur ‘Bapak itu tidak merokok, kenapa beliau diperankan dalam film sebagai seorang perokok?“ Tanya anaknya pada zaman ini yang propagandis masa lalu telah tiada. Tokoh itu DN Aidit, tokoh Partai Komunis Indonesia yang sejak umur 23 tahun berkiprah di Partai yang kelak penuh dengan tragedy pembantaian jutaan manusia di Indonesia pasca pemububarannya. Nama asli DN aidit adalah Achmad Aidit entah kenapa kemudian dia mengganti nama dengan sebutan Dipa Nusantara Aidit. Dalam umur 31 tahun dan dalam waktu 1 tahun DN Aidit mampu menjadikan PKI sebagai partai terbesar ke empat setelah PNI, Masyumi dan NU. Bahkan PKI menjadi partai Komunis terbesar ke-3 di dunia setelah Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina (RRC). Siapa Aidit?
Banyak yang tidak percaya bahwa tokoh yang dilahirkan di Belitung ini berasal dari keluarga Islam yang  taat. Ketika akan pergi ke Batavia ayahnya Abdullah Aidit memberi persyaratan yaitu bahwa untuk diizinkan merantau, seorang remaja harus memenuhi empat syarat: bisa memasak sendiri, bisa mencuci pakaian sendiri, sudah disunat, dan sudah khatam mengaji. Keempat syarat itu sudah dipenuhi Aidit. Achmad Aidit dari kecil sudah dididik secara islam dan tumbuh di lingkungan keluarga yang taat beribadah, Abdullah Aidit merupakan adalah tokoh pendidikan Islam di Belitong. Dia mendirikan sekolah Nurul Islam. Achmad Aidit dahulu sering sebagai tukang azan, karena suaranya yang sangat lantang dan keras sehingga sering diminta mengumandangkan azan. Kita harus mengakui hampir semua tokoh besar di Negeri ini adalah kader-kader yang pernah ditempa di Masjid.
Namun sesungguhnya, hampir semua tokoh kenamaan di berbagai bidang mengawali segalanya di dan dari surau (masjid). Sebutlah para intelektual (ekonom, ahli hukum, politikus, jurnalis, sejarawan, negarawan maupun diplomat ulung) seka­liber H Agoes Salim, Bung Hatta, Moh. Yamin, Tan Mala­ka, Natsir, Hamka dan lain sebagainya. Demikian pula tokoh pembaharu Sumatera Thawalib seperti H Abdul Karim Amrullah alias Inyiak Rasua (dikenal sebagai Doktor HC pertama di Indonesia) dan Zainuddin Labay El Yunusiy, atau Abdullah Ahmad pendiri perguruan Adabiah ketiganya murni berpendidikan surau dan, untuk sekian lama meng­ajar atau berkiprah di Surau Jambatan Basi Padang Panjang. (Nelson alwi, Kejayaan (Pendidikan) Surau,  http://www.harianhaluan.com)
Contoh tokoh dari Sumatra Barat di atas seperti M Hatta, Hamka, M Natsir adalah tokoh yang dikader kecilnya dari masjid. Perlawan bangsa ini dari segala macam bentuk penindasan penjajahan bermula dari semangat masjid, bukankah kemudian kita menjadi lemah karena pendidikan kita bergaya londo dengan gedung-gedung mewah. Gedung-gedung itu kemudian melupakan semangat perlawanan. Kesalahan sebenarnya bukan pada gedung pendidikan namun semangat masjid yang hilang dan gedung-gedung tidak memiliki nyali yang sama dalam mengintimi spiritual pendidikan. Semangat masjid yang memesrai kehidupan DN Aidit kala kecil terbukti masih bernyawa dalam benaknya dan tetap saja berkarakter membentuk dirinya menjadi pimpinan PKI yang kharismatik. PKI saat itu bukanlah partai komunis yang kemudian dibenci oleh rakyat, tapi PKI yang menjadi lawan tanding angkatan darat yang dari dulu ingin mengangkangi negeri ini.
Angkatan Darat Negara dalam Negara, waktu Soekarno memimpin ada pemerintahan lain yaitu angkatan darat. Ketika saya diculik, saat itu adalh atas perintah angkatan darat” Ungkap Pramoedya Ananta Toer. DN Aidit dan masjid adalah contoh yang paling jauh dari cara berfikir orang umumnya. DN Aidit sengaja saya tulis sebagai gambaran bahwa tokoh negeri ini yang PKI sekalipun adalah orang yang pernah begitu dekat dengan masjid dan Aidit adalah anak dari seorang ulama di daerah Belitong. Setidaknya kita tidak perlu bertanya lagi bagaimana dengan Agus Salim, M Yamin, M Hatta, Hamka, M Natsir dan tokoh Islam lainnya yang jelas pasti adalah kader-kader besutan didikan Masjid (surau). Mereka begitu geram, marah, dan bangkit melawan tidak lain adalah hasil provokasi nilai-nilai masjid yang terus menggiringnya menjadi petarung. Tidak ada sedikitpun orang-orang yang kecilnya ditempa masjid saat itu kemudian menjadi  pemalas dan nerimo ing pandum (terima apa adanya)
Kenapa Masjid?
Masjid itu simbol perlawanan. Masjid itu benteng pertahanan kala Islam tidak diizinkan mengurusi kenegaraan. Bau imperalisme, kolonialisme, birokrasi oligarki, otoriterianisme,  tidak berlaku di dalam masjid. Di masjid itu tempat orang bersujud tanpa kasta dan tempat yang menghargai sama rasa sama rata. Seorang presiden pun sama derajat menjadi hamba. Seorang presiden pun tidak lebih dinilai sebagai seorang jamaah masjid jika sudah berhadapan dengan Tuhan. Masjid itu simbol egaliter (kesetaraan), namun dalam masjid ada system sholat yang tidak bisa ditawar.  Aturan  tersebut sebagai bentuk statuta yang harus ditaati para jamaah masjid. Aturan yang mutlak itu tidak perlu ada musyawarah atau demokrasi yang ada adalah sami’na wa ato’na.  Sistem itu sangat legal dan efeknya membangun soliditas. Sistem untuk memperkuat kesepakatan yang baik sebagai hamba yang menurut perintah Allah Tuhan semesta alam. System sholat ada Imam (pemimpin) yang mengomandoi sholat. Namun kala Imam salah makmum (jamaah) memperingatkan dengan cara yang benar. Dalam system sholat mereka bersama-sama kompak untuk menyembah Tuhan. Namun fungsi masjid hari ini sekedar untuk membangun kebersamaan dalam ritual sholat tidak untuk di luar sholat.
Gambar : Mereka Yang telah pergi

Dulu di zaman Nabi dan para sahabat. Masjid dipakai untuk bermusyawarah, berdiskusi, mengkader, mendidik, dan tempat pijakan sebelum aksi. Masjid itu simpul peradaban, simpul itu beribu-ribu tahun tidak terbantahkan kehebatannya. Dari masjid itu kemudian muncul seorang Bilal budak hitam legam yang kemudian menjadi Gubernur di Damaskus. Masjid membangun narasi besar Surakah untuk mengalahkan Persia dan kemudian janji Rosul benar dirinya memakai gelang dan jubah kebesaran Kisra.  Umar Bin Khatab, Abu bakar, Usman Bin Affan, Ali Bin Abu Thalib dan ribuan kader.

Kembali ke Masjid
H Agus Salim dan Hasan Al Banna

Masjid era kontemporer saat ini, seharusnya sama. Masjid tetap harus menjadi titik peran yang sama seperti awal dia dibangun menjadi simbol dan simpul perlawanan. Gerakan HMI dan kejayaannya dimulai dari masjid. Ditambah kampus yang menjadi pelindung entitas intelektual yang cukup kuat. KAMMI di era reformasi adalah embrio dari gerakan dakwah masjid kampus pada saat rezim orde baru begitu represif terhadap teriakan demokrasi substansial.

Sesekali kita harus berfikir ulang, memikirkan kembali format besar seperti gerakan masjid di era klasik. Saat dulu masjid menjadi basis gerakan perlawanan. Kita di masjid dapat menyatu, entah itu golongan Islam apa? Di masjid semua punya kepentingan satu yaitu menyembah Tuhan. Entah itu HMI, PMII, IMM, KAMMI atau Ormas Islam Muhammadiyah, NU, HTI, MMI, FPI bahkan JIL sekalipun kita damai dan segera untuk melaksanakan sholat berjamaah. Mereka pasti berharap nilai ibadah sholat orang yang berbeda baju gerakan itu tetap sama mendapat pahala 27 derajat dari Allah Swt.
Namun kita terlalu Bengal, hati dan otak kita masih saja nakal. Diantara kita ada yang berubah mbalelo bagai kuda binal. Di luar masjid diantara kita ada yang berkoar-koar, ada yang minta kebebasan, meminta HAM dengan mengobok-obok ajaran. Memperdebatkan kerifan Islam dengan sedikit rupiah dari yayasan-yayasan yang penuh kepentingan. Ada yang ahli gebuk tanpa mengambil rasional hati dan akal. Islam berwajah keras tanpa ada narasi damai bahwa perlu disentuh hati mereka untuk kembali pada gerakan kebersamaan. Akhirnya nama Islam mengalami krisis kepercayaan akibat segelintir elitis yang lupa pada alitis.
H Agus Salim dan Soekarno

Kita perlu memformat ulang alur gerakan kita bersama untuk kompak di dalam masjid dan diluar masjid. Segala perbedaan harus kita tempuh untuk mengambil jalan yang terbaik. Modernisme gerakan Islam harus mengambil jalan tegas pada pembangunan konstitusi bukan pada wacana liberal atau gerakan radikalisme. Kita perlu sama-sama akui bahwa ada kesalahan pada cara kita dan kebenaran yang ada juga pada golongan yang malu untuk kita akui. Islam adalah kebaikan dan jalan keselamatan yang terbukti paling genuine terjaga kitabnya dari sentuhan predator yang mengubah-ubah ayat. Kembali ke masjid untuk melahirkan kembali tokoh Islam yang militan. Yang cerdas yang peduli pada semua lini kehidupan. Islam yang mampu menembus akal, hati, Negara, alam dan semua titik masalah di dunia ini. Islam yang mampu mengobati rasa jenuh pertikaian yang selama ini menjadikan Bangsa Indonesia kerdil. Mengutip Bung Karno ‘ Negara tanpa konsepsi” itu yang terjadi pada Indonesia saat ini. Masjid faktanya adalah tempat membangun pemimpin yang berkarakter. DN Aidit, Hamka, Agus Salim, M Hatta, M Natsir adalah hasil simbol dan simpul gerakan masjid. Kita mampu ciptakan mereka-mereka kembali bahkan dengan karakter yang lebih baik. Mencetak kader masjid untuk stok pemimpin masa depan. Untuk itu mari kita bersama-sama kembali ke masjid. Beribadah dan bermusyawarah di dalamnya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here