KEBENARAN

0
48

Oleh : DHARMA SETYAWAN
 KOMUNITAS HIJAU
ikkooo.deviantart.com
Kebenaran” mengandung kebaikan hidup namun dalam perilaku komunal penuh distorsi. Kebenaran memang menjadi pedoman, kebenaran slalu menjadi klaim primordial sejumlah kelompok. Kebenaran menjadi sikap mutlak bahkan seringkali angkuh. Kebenaran menegaskan diri pada struktur monoteisme. Kebenaran hakikatnya tidak mungkin bersandar pada suatu kelompok. Kebenaran sangat mandiri dan tidak butuh pengakuan karena kebenaran begitulah adanya. Dia tidak pernah menjalin prasangka dengan struktur apapun. Kebenaran selalu tunggal, tidak heterogen, tidak jamak, tidak samar, tidak buram. Kebenaran jelas, nyata, pasti, dan berakhir pada yang satu. Maka sudah seharusnya kebenaran menjadi pondasi atas paradigma, perilaku dan konflik zaman.
Kebenaran akan selalu menutup diri pada upaya-upaya komunikasi yang coba dilakukan oleh kesalahan. Kebenaran menjadi mutlak milik pencipta-Nya. Kebenaran adalah hujjah yang tidak dapat dibantah baik oleh logika bahkan tahayul. Karena kebenaran adalah nas-nas yang dinarasikan oleh fikiran, dirasakan oleh hati dan dihujjahkan oleh kitab-Nya. Sebagaimana umumnya manusia, individu kita tidak akan pernah sempurna menggapai penuh kebenaran dalam jalan panjang kehidupan. Kita tidak pernah mampu meraba kebenaran dan menyajikan bentuk dan mewujudkannya dalam benda padat. Namun kita sangat yakin, kebenaran dapat kita rasa manfaatnya dan kemesraan nurani kita mengangguk-angguk. Kebenaran menjadi pemangku public sebuah ketertindasan. Kebenaran tidak pura-pura menghardik kesombongan dan tidak segan mencerdaskan kebodohan. Tanpa marah, tanpa putus asa, tanpa menderita, kebenaran tetap gagah menantang zaman yang penuh kelabu. Zaman pun kelak akan menyingkap  dan membuka tabir  sejarah yang penuh kepalsuan. Kebenaran itu ibarat air yang sopan dan ulet menetesi batu. Kebenaran tidak akan melukai nurani karena kebenaran terus menghantam sendi kerdil, pengecut dan penuh basa-basi.
Benarmu-dan benarku akan sepihak jika tanpa pedoman peta kebenaran milik-Nya. Mungkin kita pernah ngotot, mangkir, masa bodoh dan beranggapan kitalah pemilik kebenaran. Coba kita lihat, kebenaran itu sekarang sedang senyum sumringah! andai kita menyadari, kebenaran merasa bangga, dia telah menjadi rebutan bagi sikap kotor manusia. Padahal kita tahu, kebenaran tidak pernah mengibarkan bendera perang untuk wajib dipertarungkan. Kita perlu koreksi agar tidak semakin buta. Untuk meraih kebenaran ternyata butuh etika individu dan butuk retorika orang lain. Karena kebenaran pasti berakhir pada kedamaian. Jika ada kebenaran yang menimbulkan rusuh pasca gerakan praksisnya, bisa jadi itu kebenaran versi primordial bukan kebenaran seutuhnya. Kebenaran itu berfungsi menciptakan keadilan. Karena benar itu adil, karena adil itu benar. Dan di dunia ini, Kebenaran hakiki itu milik Tuhan!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here