CINTA “MAZHAB PERASAAN”

0
51

Oleh : DHARMA SETYAWAN
 Ketua Komunitas Hijau
Ghazali pernah bicara “Mazhab Hissijat” atau sama artinya dengan “Mazhab Perasaan”. Perasaan itu tumbuh seperti tunas, berkembang dapat tumbuh baik atau mati karena takdir. Perasaan muncul lepas landas tanpa ada yang meminta namun pula, tak ada yang mampu untuk menolak. Perasaan! bagaimanapun kita melawannya, dia tetap menjadi polah tingkah genuine yang tidak mungkin dapat diimitasi. Karena perasaan itu hadir tiba-tiba, tanpa dinyana-nyana, tanpa direka-reka berjalan mulus, cepat dan mengagetkan si penerima perasaan.
Dalam Capita selecta, Pahlawan M Natsir mengutip ungkapan David Hume tentang perasaan. David Hume pernah mengemukakan bahwa, “kesudahannya semua kejakinan kita kembali kepada perasaan. Akal semata-mata tidak memberi kejakinan jang sebenarnya, walaupun dimana. (M Natsir, Capita Selecta : 1954).
Nafsu dan perasaan itu sangat bertolak belakang. Ibarat tubuh keduanya saling memunggungi. Pada satu sisi mereka sama, sama dalam konteks hasrat namun pada sisi lain keduanya berbeda dalam ketegasan sikap. Jika nafsu sering mempredatori keadaan hasrat, memainkan laku pemangsa dan berimplementasi pada ruang liberalnya. Perasaan memperlihatkan anti-thesis nafsu, Perasaan menghibur, memberi kenyamanan, tulus dan hadir berbuat baik pada yang baik.
“Mazhab Perasaan” lebih lekat pada upaya membangun politik cinta. Dari sekian konflik batin, “Mazhab perasaan” menjadi peta batin saat semua kecerdasan akal tumpul dan tersesat bahkan sampai jatuh pada jumawa kesombongan. Akal memang punya kemenangannya sendiri. Karena akal selalu bermesraan dengan tajdid (pembaharuan). Soal perasaan menjadi lain, perasaan tidak mungkin selingkuh dengan akal karena perasaan terlalu setia dengan hati. Yang perlu diketahui bahwa, perasaan hanya sering melakukan lobi kepada akal agar hati dan akal dapat menemukan kebenaran yang berpusat pada teologi.
Soal cinta! Perasaan seyogyanya lebih mendominasi dari keberadaan akal. Cinta pada siapapun! Perasaan juga harus berkoalisi dengan akal untuk menemukan perasaan cinta. Perasaan cinta yang tidak menemukan akal selalu riuh oleh romantisme semu. Begitu sebaliknya, akal yang tidak berperasaan selalu akan menimbulkan kezhaliman, eksploitasi, mengangkangi bahkan mengkapitalisasi. “Mazhab perasaan” yang berakal akan mampu menciptakan sejarah cintanya yang rasional. Mimpi dan harapan bahagianya diamini zaman dan yang pasti kadar cintanya selalu tumbuh berkembang dan anti klimaks. 

Jogja, 08-02-2012,
Bulan “Mazhab Perasaan” Menolak Valentine. 


                                

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here