RINDU YANG RENTA

0
68

Oleh : Dharma Setyawan
Rindu itu salah satu magnet rasa cinta, rindu sebuah minimal rasa yang hinggap ingin beradu dengan momentum pertemuan. Rindu yang mengikat tidak akan lepas jika simpulnya terus memanjang tanpa ada pemutus, maka tali rindu itu terus menggeliat disekujur tubuh. Rindu itu memang memaksa bahkan sesekali mengajak kita untuk menghela napas karena memang sangat menyesakkan. Tanpa perlu berteriak rindu itupun mengajak mata kita berlinangan air mata, melemahkan urat syaraf kita, melemaskan sendi tulang kita dan rindu itu tetap akan menggebu jika tidak terobati.
“Renta“ kata yang selalu bersanding dengan tua. Tapi renta ini menjelma dan mencumbui rindu. Dia tetap setia kepada tua namun juga hadir menemani rindu. Maka judul di atas tertulis “Rindu Yang Renta”. Ya ..karena memang ini yang terjadi pada sebuah keluarga yang terlalu lama merindu. Keluarga ini tidak ada masalah apapun kecuali satu “Tentang Rindu”. Renta semakin sengit bengalnya karena ingin menemani rindu. Sehingga kata “Tua” sedikit terlupakan karena rindu ini yang menjadi masalah utama. Renta itu menjadi linangan umur yang terus beradu pada rindu.
Hari ini aku melihat renta itu semakin lama bermimpi menjadi muda kembali, jika mustahil dengan tampilan ia ingin berasa muda dalam semangat. Renta itu semakin bertindih dengan pilu. Karena renta itu telah lama membangun sejarahnya bersama jutaan kasih sayang. “Rindu Yang Renta” itu kudapati pada wajah-wajah yang lembut itu. Mereka tulus, penuh mesra bahkan nihil murka dan kebencian. Keramahannya melebihi pagi yang menyambut matahari. “Rindu Yang Renta” itu semakin kuat menerjang dan sesekali menghantam karang masa lampau yang tidak pernah kembali.
Kini renta itu hanya berdua sepi, wajah renta itupun aku rasakan semakin hening namun tanpa keluhan. Dulu rumah ini ramai dengan celoteh, tawa ria, tangis bahagia, dan lari-lari kecil anak-anak yang penuh keluguan dan kelucuan. Sekarang anak-anak itu pergi, beradu dengan sejarahnya sendiri. Merekapun juga rindu kepada wajah-wajah renta itu. Anak  pertama laki-laki berada di Jogja bertugas di POLDA Jogjakarta, sesekali ke Jakarta menengok istrinya yang mendiami rumah disana. Yang kedua perempuan di Magelang bersama suaminya. Yang ketiga perempuan sedang kuliah S2 dan memiliki pekerjaan di Jakarta. Yang keempat sepulangnya dari mesir 4 tahun meneruskan kuliah di UGM.
Hari ini aku bercengkerama dengan kedua sosok yang memiliki “Rindu Yang Renta”. Mereka tetap mengingatkanku dengan kedua orang tuaku di rumah yang aku menilai lebih gagah karena umur yang berbeda. Bapak di rumah masih mampu untuk bersepeda ontel tiap minggu bersama rekan-rekan komunitasnya, mengangkat cangkul, berenang, dan berkunjung ke beberapa sekolah sebagai tugas rutinnya sebagai Pengawas Sekolah. Ibuku sama masih segar bugar walaupun kadang kulihat sering sakit pinggang, tapi tugas mengajarnya terus beliau tekuni sebagai kewajiban rutin pengajar di Sekolah Dasar.
Dua sosok ini lebih tua dari orang tuaku, namun aku merasa mereka sama-sama memiliki semangat yang sama. Namun kedua sosok ini tetap kudapati penuh dengan kecemasan, ya..kecemasan yang berbalut rindu. Mereka menitipkan senyum kepadaku untuk memegang erat rindu yang sangat renta. Laki-laki yang berumur 70 tahun ini, aku yakini mudanya sangat tampan dan penuh tanggung jawab. Veteran ABRI yang pensiun tahun 1988 ini sekarang terus menikmati kerinduan yang mengalun bersama umurnya yang semakin berkurang. Jika dulu beliau tegap dan gagah di medan juang, di Irian, Timor-timor, di Kalimantan mengganyang malaysia, kini beliau tegap dan gagah di Masjid sebagai medan juang akhir pasca pensiun. Bahkan tadi beliau Khotbah Jumat di Masjid yang sangat dekat dengan rumah yang sepi namun penuh rindu ini. Aku memandang wajahnya dan mengamati mimik wajahnya dalam memberiku cerita pengalaman masa mudanya. Aku dengan senang hati mengapresiasi gaya juang mudanya di masa lampau yang penuh heroisme.
Dalam medan itu, istri dan anak-anak ditinggalkan sejenak untuk memenuhi tugas negara. Ya..sejak saat itu rindu memulai takdirnya. Sampai anaknya beranjak dewasa, waktu semakin hari semakin memisahkan kebersamaan itu dan takdir tidak dapat merajutnya. Beliau menceritakan anak-anak yang sukses dan kini hidup lebih baik. Sekali lagi tidak ada masalah, hanya rindu yang menjadi masalah, anak-anak mereka juga baik-baik dan sering berkunjung untuk mengobati rindu mereka. Namun rindu tetap rindu, ia muncul dan memaksa siapapun. Beliau ingin meyakinkanku bahwa dalam hatinya mempunyai berjuta rindu untuk anak-anaknya, yang kini mereka hanya ada dalam fhoto-fhoto dinding ruang tamu dan ruang makan bersama dengan beberapa cucu-cucu yang semakin menambah kerinduan. Betapa hasrat menggugat, jika mungkin beliau yang semakin hari semakin lelah dan letih itu  ingin membeli rindu itu dan menghadirkannya untuk keluarga yang dulu berkumpul. Apalagi anak ke 3 perempuannya yang bekerja di Jakarta dan juga menempuh S2 akan menikah dengan laki-laki dari Depok dan pasti akan menambah kerinduan yang terus menggebu.
Lain lagi dengan perempuan cantik 60 tahun yang tetap setia menemaninya. Dengan berlomba cerita, beliau memasang semangat mudanya untuk memberi energi kapadaku tentang cintanya yang besar kepada 4 anaknya. 10 tahun menjadi PNS yaitu pengajar di Sekolah Dasar, beliau memilih mundur untuk fokus mengurus 4 anaknya, dan juga harus merelakan suami yang kadang sampai beberapa bulan bahkan tahun baru bisa kembali dari tugas di daerah konflik. Sayang Ibu itu dapat kurasakan sangat dan semakin dalam, kadang intonasi kata ceritanya membuat perasaan haruku membuncah membanjiri benak.
Rumah ini memang lama sepi, kehadiranku disini adalah sebagai orang asing yang dengan senang hati ingin mendengar kisah “Rindu Yang Renta”. Ya..kuharap cerita Rindu yang semakin renta ini dapat aku ceritakan kepada salah satu buah hatinya yang ke 4. Kedua orang tua ini tetap menyala dengan api kerinduan, Rindu yang terus meraja dan meratui hati kedua orang tua ini. Wajah rentanya bahkan masih semangat tapi rindu mereka yang terus merenta. Semangat yang terus membaja namun selalu menawarkan asa tanpa nestapa. Berbicara dengan mereka hanya dalam hitungan jam begitu menggembirakan namun mengharu biru. Rindu yang renta itu tetap menjadi sejarah utuh walau tak tersentuh. Rumah ini begitu padat kasih sayang, begitu mencair tawa riang, begitu menguapkan damai kebersamaan.. Sepi mereka berbalut pengabdian, diumur yang semakin senja mereka menitipkan rindu itu kepadaku untuk aku sampaikan kepada semua orang yang memiliki gelora rindu. Ingin sekali aku mengobati rindu dan menemani batin rindu itu hingga dahaganya sembuh dengan senyum akhir. “Rindu Yang Renta” semoga berujung baik dan berbalas Syurga!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here