KPK DAN ZAMAN KALABENDU

0
55


Oleh : DHARMA SETYAWAN
Directur Eksekutif KEPAL (Komite Pemantau Anggaran Lokal)
Mahasiswa Pascasarjana UGM
Pasca terpilihnya para Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan sekaligus Ketua KPK, harapan besar kasus korupsi negeri ini segera teratasi. Abraham Samad terpilih sebagai Ketua KPK yang baru, bersama tiga pimpinan KPK lain yakni Bambang Widjojanto, Adnan Pandupraja, Zulkarnain, dan tentu saja Busyro Muqoddas mantan Ketua KPK lama. Publik berharap KPK dengan para pemain baru ini mampu menunjukkan kinerja yang lebih baik dari pejabat KPK sebelumnya. Negara sudah diporak-porandakan oleh para Koruptor yang bebas bertebaran di bumi Indonesia. Tidak adanya kepastian hukuman berat menjadi sebab banyaknya koruptor yang selamat karena taring KPK sengaja ditumpulkan oleh pihak-pihak tertentu. KPK yang menjadi lembaga ad hoc dan dibentuk dalam warisan semangat reformasi perlu membuka kunci utama pemberantasan korupsi pada tingkat akar.
Kompleksitas masalah internal dan eksternal harus dihadapi dengan semangat membersihkan Indonesia dari segala bentuk Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Kesempatan besar KPK sebagai lembaga yang sering disebut super bodyperlu mendapat sentuhan apik oleh para pemain baru yang terpilih dengan seleksi yang begitu ketat. Abraham Samad seorang advokad dan aktivis anti korupsi di Makasar adalah sosok muda yang ditantang untuk dapat memimpin KPK secara progresif. KPK perlu menajamkan lagi taringnya yang telah lama tumpul oleh perlawanan berbagai pihak yang pro terhadap korupsi. 
Zaman Kalabendu
KPK dihadapi pada situasi zaman dimana kejahatan merajalela. Kumpulan syair Ronggowarsito yang berisi ramalan atau prediksi masa depan salah satunya ialah “Sabda Tama”. Zaman kalabendu adalah bentuk zaman yang penuh dengan kezaliman. Orang jujur sangat takut menampakkan kejujurannya. Para koruptor hidup dengan semaunya bak hidup di surga dunia yang terhampar luas. Zaman kalabendu Joyoboyo adalah sisi gelap disanjungnya hedonisme, pragmatisme,  materialisme yang begitu subur menghinggapi kehidupan manusia.
Bermula dari Prabu Jayabaya, seorang raja bijaksana yang memerintah kerajaan Kediri pada abad ke-12 (1137-1159) yang disebut dalam Kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh Mpu Panuluh dan Mpu Sedah. Nama Jayabaya di tanah Jawa juga sering dipakai dalam hal-hal yang berhubungan dengan eskatologi (ilmu ramalan riwayat kehidupan). Prabu Jayabaya meramalkan pada masanya nanti Jawa (Indonesia) akan menjadi mercusuar dunia setelah mengalami Zaman Kalabendu. Setelah zaman kehancuran ini telah lewat maka akan hadir zaman Kalasuba (era kemuliaan atau keemasan).
Raden Ngabehi Rangga Warsita (Surakarta, 14 Maret 1802 – 24 Desember 1873) keluarga penyair Keraton Surakarta yang termasyhur, yaitu keluarga Yasadipura telah menuliskan syair wejangan di dalam Serat Kalatidha. Serat Kalatidha adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita berbentuk tembang macapat. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi. Kalatidha adalah salah satu karya sastra Jawa yang ternama.
Syair Ronggowarsito yaitu Iki sing dadi tandane zaman kolobendu (ini yang menjadi tanda zaman kehancuran), Lindu ping pitu sedino, (gempa bumi 7 kali sehari), Lemah bengkah, (tanah pecah merekah), Manungsa pating galuruh, akeh kang nandang lara, (manusia berguguran, banyak yang ditimpa sakit), Pagebluk rupo-rupo, (bencana bermacam-macam), Mung setitik sing mari akeh-akehe pada mati, (hanya sedikit yang sembuh kebanyakan meninggal), Zaman kalabendu iku wiwit yen, (zaman ini ditandai dengan), Wis ana kreto mlaku tampo jaran, (sudah ada kereta yang berjalan tanpa kuda), Tanah jawa kalungan wesi, Tanah Jawa dikelilingi besi (mungkin maksudnya rel kereta), Prau mlaku ing nduwur awang-awang, (perahu berjalan di atas awan melayang layang “pesawat terbang”)., Kali ilang kedunge, (sungai kehilangan danaunya), Pasar ilang kumandange, (pasar kehilangan keramaiannya), Wong nemoni wolak-walik ing zaman, (manusia menemukan jaman yang terbolak-balik), Jaran doyan sambel, (kuda doyan makan sambal), Wong wadon menganggo lanang, (orang perempuan mempergunakan busana laki-laki), Zaman kalabendu iku koyo-koyo zaman kasukan, zaman kanikmatan donya, nanging zaman iku sabenere zaman ajur lan bubrahing donya.,(zaman kalabendu itu seperti jaman yang menyenangkan, jaman kenikmatan dunia, tetapi jaman itu sebenarnya jaman kehancuran dan berantakannya dunia.)
Terbukti apa yang diterawang Joyoboyo dalam syair Ronggowarsito telah terjadi pada hari ini. Kondisi Indonesia dengan adanya kemajuan teknologi, banyaknya bencana, kerusakan moral manusia, membawa kehancuran bagi kehidupan manusia. Ronggowarsitomelukiskan bahwa pertarungan yang tengah terjadi ialah antara kejahatan dan kebaikan itu tidak akan pernah dimenangkan oleh kebaikan kecuali kelak jika sudah sampai pada waktunya. Di zaman kalabendu pemenanganya ialah selalu yang jahat, yang berkuasa, yang berangkara murka. Semua manusia saling sikut saling menghegemoni. Keserakahan manusia menyebabkan ketimpangan sosial ekonomi sehingga segelintir manusia ada pada puncak kenikmatan kekayaan namun juga banyak manusia yang berada pada titik rendah kesengsaraan. 
KPK Melawan Kalabendu Koruptor
KPK menghadapi para komplotan pejabat hipokrit yang tidak punya nurani di tengah rakyat. KPK adalah bibit kebaikan, dimana kebaikan yang akan ditanam dicabut dan dirusak oleh beberapa elit politisi dan pengusaha Kalabendu. Bahkan kita bisa melihat Zaman kalabendu terjadi kerusakan yang luar biasa pada diri para penegak hukum. Adanya KPK sebagai lembaga ad hoc akibat dari banyaknya para penegak hukum di POLRI dan Kejaksaan terlibat dalam praktek korupsi yang ada. Masa depan KPK dengan berbagai kejahatan konspirasi yang terus mengintai membutuhkan dorongan dari berbagai pihak. Kepada siapa lagi kita percaya? hari ini semua terlihat abstrak. Zaman Kalabendu adalah zaman ketidakjelasan lawan maupun kawan. Namun kita juga harus percaya pada Zaman Kalasuba yaitu kedatangan zaman dimana akan dipenuhi kebaikan dan kesejahteraan. Zaman Kalasuba adalah zaman keemasan dan kemuliaan yang hadir setelah Zaman Kalabendu telah pada titik jenuh dan mendapat perlawanan dari semua pihak.
KPK dalam hal ini dapat menjadi pemantik kesadaran semua pihak untuk memunculkan harapan datangnya zaman kalasuba. Indonesia yang diimpikan menjadi negara terkuat dalam bidang ekonomi melalui pertanian, kelautan dan industri yang maju pesat. Didukung dengan jumlah penduduk yang banyak, Indonesia akan bertemu pada momentum zaman kalasuba. KPK hari ini harus sekuat tenaga untuk memanfaatkan segala fasilitas yang ada untuk memangkas para koruptor-koruptor di zaman kalabendu. KPK dengan kesatria-kesatria baru adalah harapan 230 juta rakyat Indonesia yang tidak berdaya pada situasi ketidakadilan para pemimpin. Rakyat membutuhkan keberanian KPK untuk siap berkorban jiwa dan raga. KPK perlu tegas tidak pandang bulu walaupun itu pejabat kalau terbukti korupsi segera diadili. Tidak ada pilihan lain kecuali maju bersama rakyat berantas korupsi!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here