MINYAK KEMATIAN

0
58


Oleh : Dharma Setyawan Amatya
Minyak itu misteri, minyak merupakan barokah yang harus disyukuri bangsa-bangsa timur tengah. Tanah yang tandus, padang pasir yang panas itu ternyata menyimpan kekayaan yang bernilai ribuan triliun. Siapa sangka minyak ini, menjadikan timur tengah menjadi rebutan negara-negara kapitalis. Minyak adalah anugerah dari Tuhan berkat orang-orang soleh yang hadir di sana ribuan tahun lalu. Wilayah yang banyak diturunkan para nabi dan membentuk wilayah religius meneguhkan kedudukan Tuhan. Tanah disana, kata logika mustahil menjadi tempat yang mengandung kekayaan. Jika dibanding Nusantara yang orang jawa bilang “gemah ripah loh jinawi”.
Minyak! kini membuat bangsa timur tengah hidup dengan berlimpah uang tanpa demokrasi yang diseru-serukan bangsa barat. Tapi bukan maksud demokrasi kita singgung, toh banyak negara timur tengah ternyata dipimpin pemerintah tirani sejak puluhan tahun. Teringat doa nabi Ibrahim di lahan tandus agar Allah memberikan rezeki buah dan memberi kemakmuran bagi Mekkah dan sekitarnya. Doa pun terkabul, Mekkah menjadi magnet bumi dengan banyaknya orang pergi menunaikan ibadah Haji. Di luar itu kini semua tersingkap ada kekayaan yang lebih mahal yang ada didalam tanah tandus, pasir dan gersang itu. Ya sekali lagi minyak, minyak menjadi barokah bagi penduduk tidak hanya di Arab yang didoakan nabi Ibrahim, tapi bagi negara-negara timur tengah yang mayoritas Islam setelah Nabi Muhammad menyeru untuk kembali ke milah Ibrahim yang hanif.
Minyak juga bagai malapetaka, malapetaka yang selalu menyimpan banyak sejarah pertarungan antar bangsa di abad modern. Minyak ini menjadi kutukan bagi manusia yang serakah. Bertarung bak binatang jalang, haus akan darah dan kepuasan. Minyak menjadi butiran-butiran peluru, terkadang menjelma menjadi teng-teng tempur. Merangsak dan siap menerkam dibalik panasnya gurun padang pasir. Minyak itu sekejap menjelma kembali menjadi roket-roket tempur. Mencabik-cabik umat muslim dengan dalih memberantas teroris.
Kenapa minyak berubah menjadi petaka? Kemana pahlawan-pahlawan itu? Kemana Khalid bin Whalid zamanmu? Kenapa kalian diam semua? Kemana Shalahudin Al-Ayubi? Kemana Tariq bin Ziyad? Kembalikan zaman emasmu timur tengah? Mungkin benar, minyak itu menjadi petaka bahkan kalian diadu domba. Siapa yang tersenyum? Bukankah musuhmu yang tersenyum? Sejak lama Al-quran menyampaikan tentang kejahatan Yahudi. Tapi kenapa kalian masih mau bermesraan. Atas nama HAM? Atas nama perdamaian? Atas nama kemanusian? Itu tidak ada dalam kamus Yahudi. Mereka menuduh kita berasal dari kera. Padahal mereka yang pernah dirubah jadi kera.
Minyak! Nyala api mudah kau sambut. Membakar semua kesabaran, sifatmu tak pernah berkompromi dengan dinginnya fikir. Mudah sekali dirimu menjadi alat profokasi kelicikan. Dan Khadafi kini berlumur darah, mungkin setimpal dengan apa yang dilakukan selama ini. Tapi dialah satu-satunya pemimpin yang masih berani tegas melawan hegemoni angkuh. Tidak bush! Tidak Obama! Mereka hanya simbol. Minyak yang terpenting bagi Yahudi. Sayup-sayup mimpi itupun terniang kembali. Menunggu singa padang pasir bangkit lagi.
Khadafi telah menikmati minyak kematian. Untuk siapa kematian itu, hanya untuk minyak yang berubah menjadi asap. Untuk meracuni bumi yang sudah berpenyakit asma. Untuk lautan yang sudah berdahak kimia. Untuk hutan yang berpenyakit tumor dan kepalanya gundul. Minyak kematian itu pun berbau. Berbau bangkai muslim-muslim yang gila. Gila minyak, gila darah, gila perang, dan gila kematian.
Tapi kudengar disana ada teriakan. “Mereka (NATO) telah membunuh dia (Khadafi). Kita akan mengingat seluruh kehidupan Khadafi sebagai seorang pejuang besar, seorang revolusioner dan martir,” itu teriakan siapa? Ternyata itu teriakan Presiden Venezuela Hugo Chavez. Ya pemimpin yang beragama kristen itu masih punya hati. Bersamanya muncul gelombang perlawanan kepada Amerika. Negeri itu telah sukses melakukan nasionalisasi minyak dan tambang. Amerika pernah ingin menggulingkannya, tapi rakyat Venezuela berani membela dan angkat senjata.  
Chavez pernah dianugerahi pengahrgaan oleh Al-Kadhafi International Prize dalam bidang Hak Asasi Manusia (HAM). Begitu pun Presiden Kuba Fidel Castro dan Presiden Nikaragua Daniel Ortega juga memenangkan penghargaan tersebut. Mereka bangkit melawan, menolak tunduk terhadap Yahudi. Sebelum minyak menjadid banjir darah, sebelum minyak meledakkan timur tengah, sebelum muslim digerogoti semangat hingga lemah. Hanya satu kata “BERSATULAH”!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here