MENGUBAH PARADIGMA VALENTINE DAY

0
64
http://www.radarlampung.co.id

oleh Dharma Setyawan

Senin, 14 Februari 2011

Oleh : Dharma Setyawan

Ketua Komunitas Hijau KAMMI Lampung

Hari Valentine yang dirayakan setiap tanggal 14 februari merupakan hari yang dianggap sebagai hari Simbol kasih sayang dan dirayakan sebagian besar remaja di seluruh dunia. Perayaan Valentine memilik sejarah yang memilukan. Valentine sebenarnya adalah seorang martyr (dalam Islam disebut ‘Syuhada’ atau tentara yang diwajibkan perang di zaman romawi) yang karena kesalahan dan bersifat ‘dermawan’ maka dia diberi gelaran Saint atau Santo. Pada tanggal 14 Februari 270 M, St. Valentine dibunuh karena pertentangannya mencintai wanita yang dilarang penguasa Romawi pada waktu itu yaitu Raja Claudius II (268 – 270 M). Untuk mengagungkan St. Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cobaan hidup, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai upacara keagamaan.

Tetapi sejak abad 16 M, upacara keagamaan tersebut mulai beransur-ansur hilang dan berubah menjadi perayaan bukan keagamaan. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari. Setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani (Kristian), pesta supercalis kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai ‘hari kasih sayang’ juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropah bahwa waktu ‘kasih sayang’ itu mulai bersemi ‘bagai burung jantan dan betina’ pada tanggal 14 Februari.

Dari tahun ke tahun tradisi Valentine berkembang menjadi tradisi seperti mengungkapkan kasih sayang terhadap pasangan. Mulai dari memberikan hadiah seperti cokelat dan bunga. Fenomena Valentine memiliki potensi ekonomi dari pengusaha bunga dan cokelat. Di hari Valentine banyak toko bungan dan cokelat yang naik drastis omset penjualannya.

Namun sisi negative yang terjadi adalah meningkatnya seks bebas di kalangan remaja di hari valentine. Perayaan Valentine di sejumlah negara di rayakan dengan tukar pasangan sampai seks bebas hingga sampai datang valentine tahun berikutnya. Bahkan di Inggris Valentine 14 Februari dicanangkan sebagai The National Impotence Day (hari impoten nasional) dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman impotensi 2 juta pria Inggris. Sedang di AS lebih parah lagi. 14 Februari ditetapkan sebagai The National Condom Week (pekan kondom nasional) di maksud sebagai kampanye nasional penggunaan kondom, karena tiap perayaan Valentine‘s Day diikuti peningkatan kasus HIV/AIDS. Padahal tingkat kegagalan kondom mencapai 33,3 persen (www.beritakesehatan.com, Rabu, 14/02/2001)

Fenomena sex on valentine dikuatkan menjelang Valentine’s Day tahun 2004, dilakukan survei terhadap remaja pinggiran Kota Bandung seperti Cimahi, Batujajar, Padalarang, dan Lembang. Dibantu Lembaga Telaah Agama dan Masyarakat (eL-TAM) dilakukan penyebaran 500 angket ke siswa siswi tingkat SMA di daerah tersebut. Hasilnya mengejutkan dari 413 responden yang menjawab angket secara “sah” 26,4% di antaranya mengaku lebih suka merayakan Valentine bersama gebetan atau kekasih dengan jalan-jalan, makan-makan lalu berciuman (melakukan seks). (Lihat, Samsul Ma’arif, “Valentine Day Bukan Budaya Kita, Tapi …”Pikiran Rakyat, 12 Februari 2005).

Bahkan dimalam harinya peringatan hari valentine semakin meningkat dengan banyaknya hotel yang penuh dengan sewa para pasangan remaja baik itu legal atau tidak legal. Dampak negative yang timbuk ini merupakan PR besar bagi sejumlah elemen negeri ini terutama Elemen pendidikan yang bertanggungjawab dalam masalah masa depan generasi. Penyakit HIV/AIDS yang selama ini di gembar-gemborkan untuk di perangi ternyata tumbuh subur akibat perihal pergaulan bebas seperti hari valentine. Makna Valentine bergeser menjadi boomerang bagi para pejuang virus mematikan HIV/AIDS yang belum di temukan obatnya. Valentine yang semestinya dirayakan sebagai hari kasih sayang antar sesama manusia telah berubah menjadi hari bebas seks di sebagian kalangan remaja yang membungkusnya dengan ungkapan cinta berbau kebebasan seks.

Melihat keadaan yang terjadi di hari valentine, kita patut untuk mengubah kesalahan paradigma perayaan hari valentine agar menjadi lebih bermanfaat. Upaya harus terus dilakukan beberapa pihak mulai detik ini agar paradigma valentine yang sulit di bendung dapat di cegaj dampak negative yang timbul setelahnya. Keterlibatab beberapa pihak sangat diharapkan dalam meluruskan kembali paradigma valentine yang di balik kemeriahannya mangandung masalah besar. Semua ini dilakukan agar generasi terdidik tidak terbuai dengan euforia Valentine dan mereka salah mengartikan. Sehingga Valentine yang secara langsung valentine yang juga di marketingkan oleh media dapat di lakukan upaya preventif.

Pertama Kita harus melakukan pembenahan ke sekolah, Kampus dan tempat pendidikan lainnya yang merupakan basis ilmu pengetahuan. Pihak sekolah perlu untuk meluruskan kembali perayaan valentine sebagai hari kasih sayang yang sebenarnya dilakukan dengan benar oleh orang yang terpelajar dan bermoral. Pihak sekolah sangat perlu memberikan arahan peringatan acara hari valentine dengan berbagai kegiatan positif. Ungkapan kasih sayang yang dilakukan tidak harus dengan hura-hura dan selalu dengan lawan jenis tetapi dapat di lakukan sejenis kegiatan yang mendukung pendidikan moral pelajar. Seperti : bakti sosial ke masyarakat, Mambantu kawan yang tidak mampu ekonomi, Lomba kreativitas dan lain-lain. Program yang diberikan sekolah pada intinya adalah memberikan makna lebih tentang wujud sosial kemanusiaan yang lebih jelas dan bermanfaat bagi perkembangan moral generasi.

Kedua adalah pihak keluarga juga sangat penting dalam pergaulan di luar sekola. Tradisi hura-hura di luar sekolah dapat diubah dengan mengajak anak-anak mereka berekreasi keluarga yang penuh dengan pemberdayaan diri. Bermain ke tempat rekreasi yang dapat merekatkan hubungan keluarga dengan berkunjung ke hiburan yang memiliki fasilitas permainan keluarga.Sehingga nuansa pendidikan keluarga sangat dirasakan anak-anak dan akan mampu untuk mensugesti fikiran anak untuk tidak ikut euforia kelam perayaan valentine. Pengawasan orang tua akan lebih baik dalam memberikan pengajaran moral kasih sayang sebenarnya dari pada membiarkan anak bergaul bebas di luar lingkungan keluarga.

Ketiga adalah pihak tokoh Agama yang paling terpukul dan prihatin dengan akibat yang terjadi dari perayaan hari valentine seperti di atas. Tokoh Agama diharapkan dapat membantu mengobati kejenuhan remaja akan aktifitas belajar yang selama ini mereka anggap membosankan. Sehingga mereka lebih menyukai aktifitas hedonisme seperti diatas. Pola memberikan motivasi remaja akan lebih baik dari pada memvonis pergaulan remaja yang sulit untuk dikendalikan. Penanaman ajaran agama semoga dapat mengobati kerusakan moral remaja yang kedepan menjadi penerus bangsa.

Semoga yang merayakan hari Valentine dapat memahami sebagai hari untuk saling berempaty terhadap sesama. Dan akan lebih baik jika perspektif kasih sayang tidak hanya dirayakan pada 14 februari tapi juga di rayakan setiap hari sebagai wujud humanisme kehidupan yang penuh moral sosial.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here