Tahun Baru dan Reformasi PSSI http://www.radarlampung.co.id/

0
44

Tahun Baru dan Reformasi PSSI http://www.radarlampung.co.id/

oleh Dharma Setyawan Kammi pada 03 Januari 2011 jam 15:34

Senin, 03 Januari 2011
Oleh Dharma Setyawan (Ketua Komunitas Hijau Lampung)
Persepakbolaan Indonesia kembali mendapat perhatian publik. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) adalah organisasi yang dituntut pertanggungjawaban dalam membina dan memajukan prestasi sepak bola Indonesia.
KEKALAHAN timnas Indonesia di final melawan Malaysia menjelang pergantian tahun kemarin bukanlah sejarah akhir perjuangan sepak bola Indonesia. Timnas dengan para pemain yang penuh semangat baru, baik naturalisasi maupun asli Indonesia, harus kita apresiasi. Sebab sejak 19 tahun lamanya, sepak bola Indonesia bermain tanpa prestasi. Timnas Garuda harus terus didukung dengan terus meningkatkan dukungan, baik materil maupun spirituil.
PSSI yang sejak lama dipimpin para kaum tua harus segera dibenahi. Kepemimpinan status quo sudah saatnya berganti dengan profesionalisme kerja. Beberapa kejadian oportunisme partai politik (parpol) muncul menjadi penghambat tumbuhnya timnas Indonesia untuk maju atas nama bangsa Indonesia. Hal-hal yang terjadi seperti Nurdin Khalid sebagai ketua PSSI yang banyak memasang baliho gambar diri di pertandingan Malaysia merupakan hal tidak substansi dalam memberi dukungan ke timnas. Nurdin yang lekat dengan Partai Golkar dan mengajak para pemain timnas sowan ke kediaman Aburizal Bakrie adalah tindakan tidak lazim sebagai ketua PSSI.
Oportunisme parpol semakin kuat ketika para pemain dieksploitasi dengan beberapa jamuan kunjungan ke tokoh politik negeri ini. Seharusnya, PSSI sama-sama sadar bahwa masyarakat tidak akan menilai prestasi sepak bola dikaitkan hubungan kepentingan parpol.
Narsisme para tokoh politik negeri ini sangat terlihat ketika PSSI membuka peluang keuntungan tiket final. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memiliki otoritas sebagai seorang pemimpin bahkan tidak dapat berbuat banyak dan hanya mampu mengimbau PSSI untuk tidak menaikkan tiket final.
Aburizal Bakrie pun ikut andil mengambil momentum untuk meminta diturunkannya harga tiket akibat kerakusan PSSI yang untung miliaran rupiah. Di beberapa surat kabar juga terjadi beberapa hal yang tidak substansi terkait banyaknya politisasi citra atau ’’cari muka di momentum sepak bola’’. Hatta Rajasa sebagai Ketua PAN juga mengatakan ketidaktahuan tentang gambar partai PAN yang terpampang di sekitar Gelora Bung Karno.
Nasionalisme sepertinya hanya dimiliki para pemain dan suporter di negeri ini. Prestasi parpol sebagai pemain di liga demokrasi selama ini tidak mencerminkan prestasi yang baik. Prestasi tim parpol seharusnya tidak mencampuri prestasi timnas yang berkembang baik dan berusaha memajukan bangsa ini.
Pengakuan Nurdin bahwa bukan SBY yang menyuruhnya menurunkan harga tiket, tapi Aburizal Bakrie, adalah pengkhianatan seorang profesional yang tunduk oleh otoritas politisi.
PSSI sebagai organisasi sepak bola nasional seharusnya lebih baik dalam menjalankan fungsi dan peran konkret dalam memberikan prestasi di liga sepak bola Indonesia. Sedangkan, liga demokrasi yang tidak mendapat apresiasi yang layak dan kehilangan citra di masyarakat seharusnya sadar dan membenahi diri masing-masing dengan prestasi kemenangan dengan gol welfare state. PSSI harus tegas dalam menjalankan fungsinya, yaitu memilih memajukan liga sepak bola untuk bangsa atau liga demokrasi untuk opurtunisme kepentingan.
PSSI harus membersihkan diri dari para pengurus yang terlibat aktif dengan para elite politik yang mencoba menghegemoni citra dan prestasi sepak bola nasional. Kasus seperti Nurdin adalah contoh ketidakprofesionalan seorang pemimpin di organisasi yang seharusnya berjuang atas nama bangsa, bukan pemimpin parpol. Bangsa ini butuh politisi dan negarawan yang berjuang, bukan atas nama golongan.
Perlu bagi kita semua untuk andil ide dalam membenahi PSSI agar mampu memfungsikan diri sebagai organisasi yang laik memajukan sepak bola Indonesia.
Pertama, PSSI harus dibersihkan dari para pengurus yang selalu tunduk dan terhegemoni oleh kepentingan parpol. Pengurus PSSI adalah mereka yang mau berjuang sepenuhnya, bukan atas nama tokoh tertentu dan bermain citra di depan layar media. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang lambat laun semakin cerdas menilai mana kepentingan atas nama kelompok atau bangsa. Pembersihan pengurus yang penuh dengan karakter oportunis ini diharapkan mampu menjaga pengaruh buruk dari parpol yang haus citra positif di depan rakyat Indonesia dan membersihkan PSSI dari conflic of interest (konflik kepentingan) berbagai pihak.
Kedua, pemerintah bersama program PSSI harus mampu memaksimalkan anggaran APBN secara efektif dan efisien. Selama ini, PSSI seharusnya berterima kasih dengan kemandirian sepak bola daerah yang menolong peran PSSI dalam menjaring bakat pemain daerah. Industri sepak bola negeri ini mulai sangat diperhitungkan menjadi kemandirian ekonomi bagi sepak bolanya. Mulai dari kebutuhan organisasi suporter, para anggota mania tim sepak bola di daerah, sampai produksi atribut tim sepak bola telah menjadi industri sepak bola yang sangat menguntungkan tim sepak bola. Selain itu, dana dari perusahaan yang siap mensponsori tim adalah modal ekonomi yang menjadi salah satu faktor mamajukan sepak bola kita.
Kita juga menyadari para kapitalis asing memanfaatkan para buruh di Indonesia untuk dipekerjakan membuat produk mulai dari seragam, sepatu, sampai atribut internasional diproduksi di Indonesia. Dari produk Nike dan Adidas yang dijual mahal di internasional, dalam kenyataannya buruh Indonesia menjadi sumber daya manusia penyumbang keuntungan terbesar perusahaan tersebut. Upaya pemerintah menata ulang kebijakan para investor negeri ini dan mereformasi PSSI dengan pengurus yang profesional adalah kunci untuk memajukan sepak bola Indonesia.
Di tahun baru, sepak bola negeri ini mulai menampakkan kebangkitannya secara alami. Sudah selayaknya para pemimpin negeri ini menyambut dan memberi apresiasi yang lebih terhadap prestasinya. Semangat Garuda menjadi spirit baru bagi kebanggan Indonesia di kancah nasioanal. Semangat tahun baru menjadi semangat untuk mereformasi PSSI dan manajemen sepak bola Indonesia. Garuda di dadaku, karena kita yakin suatu hari nanti pasti menang. Selamat tahun baru 2011 tetap semangat bergerak tuntaskan perubahan!!!!!!!!!!!! (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here