Muhammadiyah dan Jihad Konstitusi

0
37

Oleh: Dharma Setyawan
Dosen STAIN Jurai Siwo Metro
terbit di lampung Post Jumat 31 Juli 2015

Muhammadiyah bisa disebut sebagai organisasi Islam paling tua setelah gaung Sarekat Islam kian memudar. Sejak 1912 Muhammadiyah begitu fokus terhadap masalah sosial keagamaan dan paling peduli terhadap mustad’afin. Teologi al-Maun tidak terbantahkan lagi menjadi narasi yang selalu hidup untuk membangkitkan semangat pemuda Muhammadiyah dari generasi ke generasi. Buku yang paling penting membahas Muhammadiyah dalam kajian antropologi yaitu yang ditulis oleh Mitsuo Nakamura, The Crescent Arises Over the Banyan Tree( Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin), ketika penulis masih di Jogja tahun 2012 sempat menghadiri seminar Nakamura dalam pembaharuan edisi penelitiaanya selama 40 Tahun di Kota Gede. Buku tebal tersebut memang begitu mahal dengan harga 500 ribu rupiah. Nakamura adalah seseorang yang begitu tekun meneliti Muhammadiyah, hidup membersamai warga di Kota Gede Jogja dan fasih berbahasa Indonesia. Dengan umur yang setua itu, Nakamura selalu menyempatkan hadir dalam acara-acara akbar Muhammadiyah untuk memberi pendapat terbaru mengenai perubahan-perubahan yang terjadi di Muhammadiyah.
Hal yang penting dari sumbangsih Nakamura bahwa Muhammadiyah mengalami pergeseran generasi dari komposisi keanggotaan yang dulu berasal dari pihak swasta, pedagang batik, pengrajin di Kota Gede kemudian Muhammadiyah bertrasformasi menjadi kaum birokrat, cendekiawan atau begawan kampus. Berbeda dengan Muhammadiyah yang pada awalnya anti terhadap pemerintahan Belanda dan menjadi pengusaha sukses, kini Muhammadiyah pasca kemerdekaan sampai tepatnya 1970-an telah dikuasai oleh para birokrat pemerintahan dan begawan universitas. Maka dinamisasi di tubuh Muhammadiyah bukan hal baru. Di samping tetap meneguhkan sebagai gerakan ormas yang terus mengembangkan amal usaha sampai menjadi terbesar di dunia.
Lalu kita melihat perubahan regenerasi di Muhammadiyah mengalami hal yang baru. Martin Van Bruinessen (2012) mengupas secara menarik bahwa Muhammadiyah telah tersusupi gerakan Islam transnasional seperti tarbiyah/PKS dan Salafi. Fenomena yang menarik bagi peneliti asal Universitas Ultrecht Belanda ini bahwa tarbiyah dan salafi bukan lahir dari luar Muhammadiyah tapi merupakan proses regenerasi dan reformasi atau proses pembaharuan dan pemurnian internal yang tidak pernah berhenti sebagaimana proses pergeseran dari wiraswasta ke birokrat dalam penelitian Nakamura. Bahkan ada juga angkatan muda yang kemudian memilih Hizbut Tahrir juga intelektualisme Islam yang cenderung penentangnya menyebut mereka “liberal” sebagaimana sering disematkan ke Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). 
Martin dengan lugas menyatakan bahwa fenomena ini dikehendaki sendiri oleh internal Muhammadiyah, tidak ada pemaksaan. Perkembangan ini akibat beberapa hal yaitu memudarnya batas negara, kebijakan ekonomi neo-liberal, perkembangan teknologi (internet, handphone) sehingga hilanglah sekat-sekat negara. Muhammadiyah bisa jadi lelah dalam konflik dinamisasi pemikiran dan pilihan untuk terus melakukan purifikasi (pemurnian gerakan), misal tahun 2006 dengan memecat kader-kader Muhammadiyah yang loyal kepada tarbiyah. Dibandingkan dengan NU yang lebih terbuka hari ini, Muhammadiyah belum siap terbuka terhadap pergeseran generasi setelah 1 abad.
Muhammadiyah bisa mengambil sisi positif dalam fenomena 2 periode terakhir pemilu, NU yang lebih cair dan bersama rezim hari ini adalah buah dari dinamisasi yang dicerna secara terbuka. Sisi positif yang lain, Muhammadiyah berada di luar rezim juga telah melakukan hal yang tepat yaitu dengan fokus melakukan jihad Konstitusi dengan komando langsung di bawah kepemimpinan Din Syamsudin. Muhammadiyah dalam mendapati kaum mudanya, mau tidak mau, suka atau tidak suka, anak muda Muhamamdiyah sudah melintasi batas negara bangsa. Mereka lebih kompleks dan dipengaruhi oleh banyak pemikiran mulai dari Salafi sampai hermeneutika dari gerakan anti-globalisasi sampai liberalisme, dari perekonomian Islam sampai teologi pembebasan. Pertanyaan Martin juga penting untuk dijawab bagi Muhammadiyah ke depan yaitu mampukah Muhammadiyah bisa menjadi rumah peradaban bagi anak-anak muda ini, tempat tukar pikiran, berdebat dalam agenda untuk aksi, wadah sosial keagamaan, pemberdayaan ekonomi dengan syarat tanpa mengorbankan Identitas Muhammadiyah?
Jihad Kontitusi
Perang intelektual ini jelas dan sudah ditabuh, beberapa UU Minerba, air, dan lainya berhasil dianulir di Mahkamah Konstitusi. Muhammadiyah juga penting untuk melakukan strukturisasi pemahaman jihad konstitusi ini pada level daerah. Sehingga keberpihakan Muhammadiyah 1 abad setia memperjuangkan mustad’afin kembali menemukan gerak tajdid (pembaharuan) yang genuin. Majelis-majelis di daerah yang mati suri, harus menyala kembali sebagaimana (alm) Said Tuhuleley pernah mencontohkannya di PP Muhammadiyah Jogja. Tokoh Muhammadiyah seperti Buya Syafii Maarif tidak kalah militan masih setia menemani anak-anak muda Muhammadiyah di majelis pemberdayaan masyarakat.
Terakhir yang paling krusial bagi perjuangan Muhammadiyah selain jihad konstitusi adalah kesadaran Muhammadiyah untuk membela rakyat yang sampai hari ini terus berkonflik dengan perusahaan-perusahaan yang menindas hak rakyat, dan merusak lingkungan hidup. Kader Muhammadiyah ikut menjadi bagian perjuangan melawan tirani perusahaan di berbagai daerah. Misal konflik warga Rembang dengan perusahaan semen, melawan Proyek reklamasi pantai di Bali, mengadvokasi konflik tanah dan pendidikan warga moro-moro di Mesuji dan paling besar tantangan melawan perusahaan asing seperti Freeport di Papua. Setelah hal-hal di atas terus setia kita lakukan dalam gerak Islam berkemajuan Muhammadiyah, yakin tidak perlu kuatir lagi dengan narasi transnasional yang seolah mengancam Muhammadiyah. Karena Muhammadiyah telah lama membangun pondasi dan tidak berumah di atas angin, selamat Muktamar Muhammadiyah ke-47 sang surya tetaplah bersinar!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here