Ridho Tentang Muda?

0
63

oleh : Dharma Setyawan
Dosen STAIN Metro, Ketua Komunitas Hijau
Terbit di Lampung Post, Jumat 29 Agustus 2014

“Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri (Pramoedya Ananta Toer)
Kita masyarakat Lampung sedang berisik bicara soal pemimpin muda. Tentang ‘muda’—semangat, umur dan rekam jejak—menjadi ukuran dan persoalan serius di politik lokal Lampung. Kita tidak sedang bermain dadu dalam politik, kita sebaiknya berangkat dengan keseriusan yang nyata. Pelbagai nada optimis dan pesimis sedang diperbincangkan jika menyangkut orang muda. Orang banyak menyebut semangat pemuda adalah semangat sedang tumbuh bukan semangat kematangan sebagaimana yang selalu diyakini para kaum tua. Lebih tertantang ‘muda’ selalu dianggap modal semangat  yang belum dibuktikan dengan tindakan nyata. Soal muda kembali diragukan hadirnya pasca terpilihnya M. Ridho Ficardo sebagai Gubernur Lampung. Tidak tanggung-tanggung pemuda tampan ini dinobatkan sebagai Gubernur termuda se-Indonesia dengan umur 34 tahun. Setidaknya 2014 ini riuh ‘muda’ menjadi trend politik tersendiri untuk mewujudkan ide segar bahwa ‘yang muda yang memimpin’. Sebelumnya, pemimpin muda muncul sebagai bentuk kontestasi politik yang diragukan. Pada pemilu 2009 misalnya pemimpin muda masih dianggap hal yang remeh akibat belum ada thesis yang dapat dipertanggungjawabkan apabila yang muda memimpin daerah. Jika menilik sejarah, Soekarno memimpin Indonesia di umur 44 tahun, Mohammad Hatta menjadi wakil presiden berumur 43 tahun, Sutan Sjahrir menjadi perdana menteri pertama diumur 34 tahun, dan sejarah pemimpin termuda adalah Arnold Baramuli menjadi Gubernur Sulawesi Utara tahun 1960 pada umur 29 tahun. Walaupun saat kemerdekaan pemilihan pemimpin belum seperti sekarang—demokrasi rakyat—namun semakin banyak muncul pemimpin muda diberbagai daerah. Sebut saja Ridwan Kamil Bandung 42 tahun, Bima Arya Sugiharto Bogor 41 tahun, Nurdin Abdullah Bantaeng 49 tahun. Nama-nama di atas memberi optimisme kepada publik atas prestasi awal dan hadirnya asa perubahan yang lebih baik.
Laku Politik Ridho
Ridho punya pekerjaan rumah yang tidak bisa dianggap enteng. Tantangan utama Ridho adalah memimpin propinsi tanpa ada rekam jejak kepemimpinan di kabupaten atau kota di daerah Lampung. Berbeda dengan Ridwan Kamil yang memulai dari wilayah kota Bandung atau Tri Rismaharini memulai dari Surabaya. Ridho ditantang memperbaiki Lampung dengan segala permasalahan yang berada di kabupaten kota. Sinergitas dengan pemimpin-pemimpin kabupaten dan kota inilah yang harus ditekuni pelan namun pasti agar Lampung berbenah dan terus berbenah. Jika Ridwan Kamil bermula membangun ide  dengan  gerakan Indonesia berkebun, komunitas urban, arsitek dan komunitas-komunitas pemuda lainnya. Ridho berangkat dari Partai Politik yang konsistensi programnya jamak sulit dirasakan oleh publik. Ridwan Kamil sadar bahwa komunitas muda Bandung adalah potensi besar perubahan. Muda dan kreatifitas dipadukan untuk membuat perubahan berangkat dari bawah. Berbeda juga dengan Jokowi, Ridho adalah orang yang yang terlihat elitis—perilaku politik yang masih dirasakan tingkat grass root. Jokowi dengan perilaku apa adanya di Kota Solo mampu menarik simpati warga Jakarta sehingga citra politik Jokowi lebih moncer sampai kini level nasional. Begitupun dengan Nurdin Abdullah di Bantaeng, posisi Ridho bisa dikatakan hampir lebih baik tapi programnya kalah baik dengan Prof. Lulusan Jepang tersebut. Setidaknya Lampung adalah level Propinsi yang posisinya lebih terkenal dari pada daerah Bantaeng yang sangat tidak familiar. Namun secara jaringan Nurdin lebih progresif dengan bekerjasama dengan Jepang untuk membantu program-progam di daerah. Relasi Nurdin yang jauh di Timur Indonesia di jawab dengan jaringan level dunia. Ridho dengan beberapa pemimpin muda di atas adalah satu gambaran yang bisa dikatakan tidak seimbang antara level propinsi dan kabupaten kota. Tapi menyangkut muda ‘Ridho’ adalah harapan kaum muda dan masyarakat Lampung yang tidak dapat dibiarkan begitu saja.
Idealisme Ridho
Dengan banyaknya pemimpin muda di daerah yang terpilih. Publik mencoba merespon bahwa era pemimpin muda tidak dapat disanggah lagi. Yang harus dilakukan adalah menjaga dan terus mendorong bahwa muda itu identik dengan perubahan. Narasi yang dibangun Ridho harus menjangkau publik dengan cepat dan tepat. Optimisme Ridho untuk konsisten dengan apa yang akan dibangun dan apa yang telah diputuskan harus dikawal dengan benar. Sebagai contoh program membangun transportasi Kereta Api untuk menghubungkan antar kabupaten. Dan juga keputusan menghentikan sementara proyek Kota Baru yang digagas oleh Gubernur lama. Pekerjaan Rumah Ridho tersulit adalah mentransformasikan ide-idenya untuk menjangkau komunitas-komunitas sehingga pembangunan terjadi bukan hanya dari atas, tapi juga berangkat dari bawah. Muda yang disandang Ridho adalah idealisme yang laiknya dibuktikan dengan kerja. Sebagaimana Tan Malaka berucap,“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda”. Selamat bekerja Bung Ridho!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here