SEDERHANA

0
49
Oleh : Dharma Setyawan
 Direktur LSO Badan Wakaf Nasional PP KAMMI

Sederhana—kata yang apa adanya sesuai maksud judul di atas—menjadi satu mekanisme wisdom tersendiri dalam hidup. Orang-orang yang pernah hidup di bumi ini harum dalam catatan sejarah atas pilihan hidup untuk mau setia dengan “sederhana”. Mereka-mereka tanpa keluh kesah, tanpa pamrih, sadar bahwa sederhana bukan berarti tidak boleh memiliki apa-apa. Mereka telah selesai dengan hipokrit materi yang membuat hidup mereka tidak nyaman oleh para penganut materialisme. Secara sadar “sederhana” adalah pilihan hidup untuk biasa, menerima, tidak ambisi, walaupun sebenarnya pilihan menikmati kepemilikan tidaklah sulit. Disini kata “sederhana” mengajak etika untuk bersanding hingga secara natural sederhana adalah pilihan hidup bukan sikap terpaksa—atau karena dunia yang tidak dapat diraih. Bung Hatta, kita mengingat salah satu tokoh nasional yang begitu natural ini punya energi besar dalam memaknai “sederhana”. Proklamator dan Wakil Presiden pertama Indonesia ini sangat lekat dengan hidup “sederhana”. Kalaulah mau Bung Hatta sebagai seorang lulusan Belanda sangat mampu untuk meraih kejayaan dan kekayaan individu sebagai sedikit orang yang sangat beruntung menikmati hasil Pendidikan dari negeri Belanda. Namun Bung Hatta bukan orang yang menghamba pada materialisme, sebagai individu terdidik di tengah penjajahan yang kian maruk mengeruk kekayaan negerinya, Bung Hatta nampaknya tidak takut penderitaan membuntutinya. Moral dignity—harga diri sebagai seorang intelektual terdidik dan cinta bangsanya-Bung Hatta sanggup melewati hari-hari dengan kekurangan dan menolak bekerjasama untuk Pemerintahan Hindia  Belanda. Begitupun kita melihat mereka-mereka yang punya narasi tentang “sederhana” ikut andil berjuang dan melawan hedonisme–keinginan kenikmatan dengan kepentingan kelezatan individu—mereka memilih angkat pena, angkat senjata, angkat bicara untuk satu tujuan Indonesia Merdeka. Diantara mereka kita bisa melihat Tan Malaka, Haji Agus Salim, Soekarno, Sutan Sajhir, Muhammad Natsir, dan tokoh-tokoh lain berjuang sebagaimana Bung Hatta.
Dalam kepayahan hidup menolak kesempatan kejayaan dan kekayaan mereka memilih berjuang dan hidup sederhana sampai akhir kehidupan. Begitu cintanya pada perjuangan tidak heran jika sampai akhir hidupnya Bung Hatta tak sampai membeli sepatu yang di idam-idamkan. Bukan lagi sederhana, seorang pemimpin ini rela rezekinya digunakan untuk jalan meniti kemerdekaan demi melihat generasi ini terbebas dari kolonialisme. Dalam kisah lain, Bung Hatta menyempatkan berkunjung ke Sumatra Barat daerah asal dilahirkan. Karena tidak cukup uang, Bung Hatta menawar ketika hendak menaiki andong kuda. Dengan nada keras si kusir menyentak,”jika tidak ada uang tidak usah naik!!!, jalan kaki saja”—si kusir tidak tahu yang dibentaknya adalah Wakil Presiden RI. Dengan senyum sabar Bung Hatta pun berlalu dan akhirnya memilih jalan kaki.
Begitulah sikap “sederhana” telah me-legenda, seperti legenda jas bertambal aspal seorang Menteri Muhammad Natsir. Melegenda sampai zaman klepto ini dimana tukang ojek berteriak kepada ajudan gerbang istana yang tidak mengizinkan Dahlan Iskan masuk gerbang Istana. Sesuatu yang tabu bagi ajudan tidak mungkin ini seorang menteri karena naik ojek. Sesuatu yang tidak masuk akal orang melihat seorang Hidayat Nur Wahid menolak fasilitas mobil mewah saat di amanahi menjadi ketua MPR. Mungkin sesuatu yang tidak  lazim juga, sederhana merasuki hidup Jokowi mengunakan pakaian apa adanya bahkan menggunakan mobil dinas warisan walikota lama Solo tahun 2002 yang ternyata telah macet 8 kali, ditambah tidak mau ambil gaji haknya sebagai walikota. ‘Sederhana’ tetap menjadi kemesraan mereka yang tidak silau dengan kemewahan. Aji Mumpung kalau orang jawa sebut, mumpung punya kuasa, mumpung punya wibawa, mumpung ada harta. Mereka yang perlente, pejabat yang tidak siuman harusnya malu bahwa bukan dengan itu mereka dihargai dan dihormati banyak orang. Bahwa ‘sederhanalah’ yang membuat mereka semakin lazim di pandang, renyah di dengar, dan patut dipercaya. ‘Sederhana’ akan tetap menyelamatkan mereka, menyadarkan kemanusiaan mereka dan tidak akan mengutuk mereka yang sedang di uji oleh rentetan kuasa, harta dan bahkan juga wanita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here