POLITISI “MELARAT” H. AGUS SALIM (2)

0
73
Oleh : DHARMA SETYAWAN
Mahasiswa S2 Universitas Gadjah Mada
Direktur Eksekutif Adzkiya Centre

Berpolitik tidak hanya menyangkut euforia untuk bergabung dengan sebuah lembaga partai politik dan ikut menikmati manfaat kekuasaan di dalamnya. Hampir bisa dipastikan di era demokrasi Indonesia saat ini peran partai politik hanya sebatas tempat untuk menyalurkan syahwat kekuasaan dengan membeli partai politik sebagai kendaraan menuju kekuasaan. Pilihan menjadi seorang politikus di partai politik yang kian dikangkangi pemodal ini memang tidak mudah. Bukan hanya butuh sosok-sosok cerdas, tapi butuh orang-orang baik yang berjuang melawan individu yang menghegemoni partai politik. Jika partai kemudian berubah menjadi “fans club” atas pengaruh kuat seorang tokoh, demokrasi di tubuh partai politik sendiri mengalami gejala nir demokratis. Pada posisi tersebut partai politik akan memainkan peran oligarki-dinasti kekuasaan- yaitu ruang demokratis tapi rasa feodalisme.
Kita melihat pada beberapa partai yang dianggap fans club ini. Pada ruang yang terbuka beberapa partai menonjol pada diri seseorang seperti, Partai Demokrat yaitu SBY, Partai Gerindra yaitu Prabowo Subianto, Partai Hanura yaitu Wiranto. Partai yang diisi oleh pengaruh kuat mantan jendral ini harus kita sadari akan membuat demokrasi semakin tidak dewasa dan modern. Pada proses pencitraan dua periode pemilu, bisa terjadi sebuah gejala citra yang mampu menaikkan elektabilitas partai secara signifikan. Dengan menguatnya ketokohan individu, partai tidak menjual lagi platform ideologis tapi menjual nama besar tokoh. Pada tingkat pertarungan politik lokal nama besar tokoh ini menjadi alat untuk meraup keuntungan kekuasaan politik dan ekonomi.
Partai politik tidak hanya menjadi alat kekuasaan tetapi menjadi alat perbuaruan rente ekonomi. Perilaku korupsi para pejabat menjadikan politik adalah zat kotor bersarangnya kuman kelicikan. Hidup mewah para politisi ini semakin diperparah dengan dugaan para makelar di luar partai politik yang bermain sebagai kepanjangan tangan proyek-proyek APBN. Partai yang tidak memiliki basis ideologi yang jelas untuk rakyat, cenderung menjual ketokohan individu untuk merampok anggaran rakyat dalam kekuasaan periodik. Lebih dari itu predatorik kekuasaan pasca reformasi semakin komplek karena menggurita di setiap level lokal. Sehingga yang menjadi tontonan umum, korupsi tidak hanya merambah pusat kekuasaan tapi juga pada tingkat kekuasaan lokal di daerah-daerah.
H. Agus Salim Pemimpin Melarat
Tidak banyak yang mengetahui riwayat Haji Agus Salim. Seorang Pemimpin yang hidupnya mengabdi untuk jalan politik dan negarawan yang sangat melarat. Haji Agus Salim adalah satu sosok yang tidak akan mungkin terlahir kembali di tengah demokrasi yang menyandra kita untuk dipaksa menjadi maling kontemporer. Demokrasi yang tidak memberi ruang pada orang baik untuk berbuat sebaik-baiknya dan memperjuangkan politik sesuai fasoen-nya. Haji Agus Salim seorang diplomat yang tegas dan Menteri yang hampir tidak pernah menikmati kekayaan sejak mewakafkan diri sebagai pejuang kemerdekaan.
Menurut Mohamad Roem (yang terkenal namanya lewat perjanjian Roem-Rojen), Kehidupan Agus Salim sangat sederhana, termasuk tempat tinggalnya. Menurutnya,“Agus Salim, kira-kira enam bulan sekali mengubah letak meja kursi, lemari sampai tempat tidur rumahnya. Kadang-kadang kamar makan ditukarnya dengan kamar tidur. Haji Agus Salim berpendapat bahwa dengan berbuat demikian ia merasa mengubah lingkungan, yang manusia sewaktu-waktu perlukan tanpa pindah tempat atau rumah atau pergi istirahat di lain kota atau negeri”.
 “Orang tua yang sangat pandai ini seorang jenius dalam bidang bahasa, mampu berbicara dan menulis dengan sempurna dalam paling sedikit sembilan bahasa, mempunyai hanya satu kelemahan, yaitu selama hidupnya melarat” demikian penilaian Prof.Schermerhorn yang ditulis dalam catatan hariannya Senin malam tanggal 14 Oktober 1946. Dalam kisah yang dikutip dari buku Seratus Tahun Haji Agus Salim. Rumah yang bocor malah dirasakan sebagai suatu sukacita yang dapat menciptakan keasyikan bersama. “Pada suatu masa, mereka menempati rumah buruk yang kakusnya telah rusak. Kalau disiram, isi kakus itu malah meluap. Zainatun Nahar istrinya, benar-benar tidak tahan dan setiap kali ke WC malah muntah-muntah karena jijik. Agus Salim kemudian melarang istrinya menggunakan WC yang rusak itu dan ia sendirilah yang tiap hari membuang pispot istrinya”.
Memang sulit menemukan kembali hal-hal yang demikian pada pemimpin pada zaman saat ini. Agus Salim sebagai seorang Menteri yang disegani dan terpercaya berdiplomasi dengan pemimpin-pemimpin luar negeri mampu menyembunyikan keadaaan kekurangan yang sangat langka pada kehidupannya yang bukan lagi sederhana. Tapi sangat melarat, Maka kata-kata “memimpin adalah menderita” adalah resiko yang Agus Salim ambil dan semakin membuat rakyat luas percaya bahwa benar-benar Pak Menteri itu sangat menderita bersama keluarganya. Dan terbukti, tidak ada dalam kehidupan Agus Salim mengeluh minta ditambah gaji atau fasilitas yang lain. Kondisi Indonesia yang baru merdeka saat itu masih banyak ditemukan rakyat luas tidak dapat makan dengan gizi yang cukup. Anak-anak memakai pakaian yang tidak layak. Jangankan pendidikan, Negara yang sudah sangat tua sebagai budak Belanda sangat minim menggapai kesejahteraan dalam waktu yang singkat. Kesejahteraan itu kini pun juga hadir pada kelompok-kelompok terstruktur namun tidak merata. Kesejahteraan dan kemelaratan kian menjadi jurang pemisah bagi keindonesiaan kita.
Agus Salim dan Istrinya juga tidak mungkin mengatakan kepada public bahwa WC seorang Menteri yang tinggal dirumah kecil kontrakan telah rusak. Agus Salim sangat paham dan menyadari bahwa penderitaannya adalah bentuk wakaf dirinya sebagai seorang pemimpin yang benar-benar mencintai dan dicintai rakyatnya. Prof.Schermerhorn yang menyanjung Agus Salim sebagai seorang yang pandai bahasa  dan menulis dengan sempurna menelisik kehidupan dalam Agus Salim yaitu kemelaratannya. Kemelaratan yang membuat Haji Agus Salim itu semakin tegar. Kemelaratan yang membuat Haji Agus Salim itu semakin berjiwa besar. Agus Salim adalah sebagian contoh pemimpin yang saat itu benar-benar berkorban dan menderita. Kita juga masih ingat Bung Hatta yang tidak mampu membeli sepatu keinginannya hingga akhir hidupnya. Kita juga tahu bagaimana Muhammad Natsir seorang perdana menteri yang menggenakan baju bertambalkan aspal.
Kita saat ini merindukan sosok-sosok itu hadir memimpin negeri ini  bukan untuk menjadi melarat, tapi kita rindu sosok-sosok itu hadir dalam ruang kesederhanaan. Ruang yang akan menjadi dealektika kepercayaan antara pemimpin dan rakyat. Sebuah bentuk kepemimpinan yang menjamah nurani rakyat penuh keteladanan. Bukan sebuah kepemimpinan yang nir-akhlak, dan nir-sosial. Tidak perlu pemimpin hari ini harus bersusah payah seperti Agus Salim. Pemimpin hari ini hanya dituntut untuk Amanah, sederhana dan tidak korupsi!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here