KAPITALIS MUHAMMADIYAH

0
52
(Memperingati 100 tahun Muhammadiyah)
Oleh : DHARMA SETYAWAN
Mahasiswa S2 UGM/
Majelis Pemberdayaan Masyarakat
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Metro Lampung
Dharma Setyawan
Soal ekonomi Muhammadiyah memiliki amal usaha yang sangat kohesif dengan kemajuan Indonesia. 100 Tahun umur organisasi Islam ini, telah dipenuhi dengan sejarah panjang semangat membangun Islam modernisme. Bagian dari gerakan Islam yang berdiri 18 November 1912 ini penuh dengan narasi ekonomi yang visioner. Maka Deliar Noer menempatkan Muhammadiyah sebagai bagian dari gerakan modernisme Islam di Indonesia. Muhammadiyah mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, mengadakan rapat dan tabligh membicarakan masalah Islam, mendirikan wakaf dan masjid-masjid serta menerbitkan buku-buku, brosur-brosur, surat-surat kabar dan majalah-majalah. (Deliar Noer : 1980 : 84).
Al-Ma’unisme dan AUM
Muhammadiyah semakin menarik dengan legenda gerakan Al-Ma’un yang digagas langsung oleh founding father-nya Muhammad Darwis alias Ahmad Dahlan. Selain sebagai seorang  Khatib di Masjid Sultan, Ahmad Dahlan juga seorang pedagang batik. Dengan berbagai tokoh pedagang Muslim lainnya Ahmad Dahlan memberikan bantuan kepada fakir miskin dengan mengumpulkan dana dan pakaian untuk mereka. Perspektif pembangunan karakter Ekonomi sudah terlihat sejak Muhammadiyah peduli dengan fenomena sosial ekonomi yaitu kemiskinan. Gerakan Organisasi keagamaan menjadi ciri strategis Muhammadiyah membangun kerja-kerja ekonominya.
Setelah berjalan 1 Abad kini Muhammadiyah talah memiliki amal usaha Muhammadiyah (AUM) yang sangat signifikan jumlah dan nilainya. Menurut data AUM, organisasi ini memiliki amal usaha diantaranya ;TK/TPQ 4.623, Sekolah Dasar (SD)/MI 2.604, Sekolah Menengah Pertama (SMP)/MTs 1.772, Sekolah Menengah Atas (SMA)/SMK/MA 1.143, Pondok Pesantren 67, Jumlah total Perguruan tinggi Muhammadiyah 172, Rumah Sakit, Rumah Bersalin, BKIA, BP, dan lainnya 457, Panti Asuhan, Santunan, Asuhan Keluarga, 318, Panti jompo 54, Rehabilitasi Cacat 82, Sekolah Luar Biasa (SLB) 71, Masjid 6.118, Musholla 5.080, Tanah 20.945.504 M².  (www.muhammadiyah.or.id)
Muhammadiyah telah menjadi Sang Pemula tentang pemberdayaan ekonomi masyarakat jauh sebelum Indonesia berdiri. Tidak menafikan peran organisasi lain seperi Serikat Islam, Nahdatul Ulama (NU), Persis dan lainnya, Muhammadiyah dengan amal usahanya adalah gambaran riil kerja-kerja memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan. Pemerintah Indonesia dan Muhammadiyah ibarat sparing patnerdalam perjuangan welfare-state dan civil society. Meminjam istilah Prof. Abdul Munir Mulkhan bahwa spirit welas asih Ahmad Dahlan sejak awal mencontohkan diri bagaimana menjadi pribadi muslim yang solutif dan peduli terhadap permasalahan Umat. Ahmad Dahlan merupakan sosok penggerak modernisme Islam yang yang menafsirkan Al-Ma’un (barang berguna) menjadi dasar amalnya berupa rumah sakit, panti asuhan, rumah jompo, rumah miskin dan berbagai aksi sosial seluruhnya diperuntukkan bagi kaum duafa. (Abdul Munir Mulkhan, Mahabbah Etika Welas-Asih Kiai Dahlan : 2010)
Menghadang Arah Kapitalis?
Setelah 1 abad berdiri Muhammadiyah tidak boleh stagnan pada pencapaian kinerja saat ini. Muhammadiyah perlu re-identifikasi perannya dalam membangun keagamaanya dalam ruang indonesinis. Tanpa harus merasa senior Muhammadiyah di tuntut untuk berilmu padi semakin berisi semakin merunduk berkorban untuk Indonesia. Muhammadiyah juga perlu menjawab welas asih kontemporer-nya sebagaimana Ahmad Dahlan dan kawan-kawan peduli wong cilik.  Muhammadiyah perlu menolak tua dan mengembalikan semangat mudanya. Banyaknya Amal Usaha Muhammadiyah menjadi penting bahwa Muhammadiyah memiliki instrument untuk menggerakkan rakyat keluar dari riuh kemiskinan.
Tidak hanya dalam ekonomi, Muhammmadiyah telah mengecap pahit dan manis bermesraan dengan politik orde lama, orde baru dan reformasi. Dalam ruang padat masalah Indonesia yang kian rumit, Muhammadiyah tidak mungkin berjibaku sendirian, Memesrai organ lain dalam praksis gerak melintasi zaman, bukanlah tuntutan tapi kesetiakawanan Muhammadiyah untuk akomodatif terhadap simbol-simbol pluralitas. Jika dulu Muhammadiyah dikenal dengan Islam Puritan (purifikasi), kini Muhammadiyah telah berwajah pluralissebagai bentuk polarisasi gerakan yang tidak lagi monolitik. Maka Muhammadiyah telah sadar tidak akan menjadi monolitik menyangkut persoalan bangsa dan kenegaraan. Keberpihakannya pada satu sikap monolitik menjebak Muhammadiyah pada satu aspek kebingungannya mengisi ruang publik politik, ekonomi dan kebudayaan. Sehingga stigma Masyumi-isme, PAN-isme dan lainnya adalah bunuh diri secara internal. Jalan High Politikadalah pilihan untuk tidak bertarung dalam kebodohan demokrasi.
Muhammadiyah secara sadar juga tidak perlu menafikan perannya menjadi bagian dari gerakan Pan_Islamisme (gerakan pembaharuan Islam) dunia. Gagasan-gagasan reformis Islam dunia seperti Jamal al-Din al-Afghani (w. 1897), Muhammad Abduh(w.1905) dan Muhammad Rasyid Ridha(w.1935) harus diingat sebagai perlawanan kolonialisme kontemporer yaitu kolonialisme ekonomi (neoliberalisme economics). Tanpa mewajahkan diri sebagai gerakan fundamentalis, Muhammdiyah tidak hanya membangun gerakan modernistapi juga moderat. Sebagaimana Kuntowijoyo sebut, moderat-isme dapat dipahami dalam dua makna. Pertama, bahwa Islam adalah sebuah agama yang selalu menekankan posisi diantara dua posisi ekstrem; dan kedua, bahwa Islam menggabungkan dua kerangka konseptual yang berseberangan. (Kuntowijoyo : 1997)
Demikian dengan peran Muhammadiyah menampilkan gerak ekonomi, Muhammadiyah harus menegaskan diri pada sikap Islam yang otentik menghargai kapitalis (tanpa isme) dan sosialis (tanpa isme) serta tidak mengamini pada titik paling ekstrem. Sebagaimana pribadi Muhammad sebagai sosok Islam yang memiliki semangat wirausaha (kapitalis) namun juga bersikap filantropi (sosialis). Amal Usaha Muhammadiyah yang telah terbangun demikian besar jangan sampai mengarah pada bentuknya yang ekstrim kapitalis. Lembaga Pendidikan, Kesehatan  Muhammadiyah disamping berkualitas semestinya juga murah dan terjangkau. Pola subsidi dengan LazisMuhammadiyah perlu bersinergi agar pelayanan umat terus berjalan sebagaimana etika welas asih  sosialis Ahmad Dahlan.
Konsep  Muhammadiyah mendukung Koperasi dalam pembangunan system keuangan mikro harus terus dibangkitkan sebagai bentuk perlawanan terhadap Bank-Bank nasional yang kini sebagian saham telah dimiliki asing. Dengan adanya koperasi tersebut, Muhammadiyah akan mampu memecah modal nasional yang kini perlahan dihisab oleh pihak asing lewat Bank konvensional. Jika saham bank nasional telah di kuasai, jangan salahkan asing yang mampu mengumpulkan modal keuangan nasional itu untuk di arahkan ke investasi karet dan sawit di Sumatra dan Kalimantan.  Sehingga asing-lah yang cerdas memanfaatkan tabungan rakyat itu untuk dikelola dimasa depan. Jika hal ini terjadi Muhammadiyah perlu mendengar kembali kritik yang pernah dilontarkan almarhum Kuntowijoyo kepada para penggerak Muhammadiyah. Bahwa Muhammadiyah perlu memproduksi kader bukan hanya para Kiayi Begawan tapi juga Kiayi pedagang sebagaimana awal Muhammdiyah berdiri. Selamat Milad 100 tahun Muhammadiyah, tolak Kapitalis ekstrem!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here