AGUS SALIM “DITUNGGANGI SEPEDA”

0
72

Oleh : DHARMA SETYAWAN
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Tahun 1925 Haji Agus Salim tinggal di rumah sempit di Gang Tanah Tinggi, Jakarta. Dari asrama Stoviadi gang Lewini ke Tanah Tinggi di tempuh selama 10 menit naik sepeda kala itu Muh. Roem, Kasman San Soeparno sebagai aktivis Jong Islamiten Bond (JIB). Samsuridjal mendirikan JIB dengan penasehatnya adalah Haji Agus Salim. Kasman dan Soeparno adalah pengurus JIB cabang Jakarta. Menuju rumah Haji Agus Salim kala itu jalan yang di aspal hanya sampai stasiun Senen, seterusnya jalan tanah berlubang-lubang. Jalan yang mereka lewati sangat becek dengan tanah susah dilalui sepeda ibarat naik perahu di atas air yang berombak. Para pemuda-pemuda JIB saat itu memang sangat rajin berkunjung ke tempat Haji Agus Salim untuk kursus ilmu-ilmu agama Islam. Sebagai seorang Ulama, sastrawan, aktifis Sarekat Islam, Singa Podium dan mampu bermacam bahasa, Agus Salim sangat dihormati sebagai sosok yang pantas mendidik anak-anak muda saat itu.
“Haji Agus Salim kami jumpai duduk di serambi dan menyambut kami dengan ramah. Sikapnya sangat menarik. Sesudah bersalaman, ia mulai bicara yang ditujukan kepada Kasman “Hari ini anda datang secara biasa. Kemarin peranan sepeda dan manusia terbalik”. Saya tahu, kemaren Kasman datang sendiri. Dan dia melihat saya dan Soeparno tidak mengerti apa yang dibicarakan, lantas menjelaskan “Kemarin saya datang, dan ditunggangi sepeda, bukan saya yang menunggangi sepeda”. Kemarin dia di tengah jalan dikejar hujan, dan mengalami nasib yang diceritakan Agus Salim. Tanah liat yang setengah basah melekat pada roda sepedanya dan tak dapat berputar sama sekali. Kasman menyambung,” dan kemarin saya katakan, jalan pemimpin bukan jalan mudah. Memimpin adalah menderita. (Roem dalam ceritanya mengenai Haji Agus Salim).[1]
Dalam penjelasan Roem apa yang dikatakan Kasman adalah ungkapan sastra yang jika diartikan dalam bahasa Belanda yaitu : Leiden (memimpin) dan Lijden (menderita). Dan Kasman berkata “Een leidersweg is een lij densweg. Leiden is lijden”. Sosok menderita disini adalah pilihan bukan keterpaksaan. Sebuah kesadaran untuk mau menerima risiko yang dihadapi seorang pemimpin dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada setiap perjuangannya. Roem sangat merasakan betul sosok Agus Salim yang harus setiap hari mengalami kesulitan mobilisasi untuk pergi dan pulang ke rumahnya yang sangat sederhana dan jalan sempit itu tidak saja meninggalkan kepayahan  tapi sepeda yang sudah tidak bisa diajak kompromi untuk berjalan akibat ban yang terlilit tanah liat itu harus berbalik di atas untuk menunggangi tubuh kecilnya.
Agus Salim sudah terbiasa dengan kondisi itu, jadi sangat mengerti kesusahan Kasman saat menuju rumahnya, karena sebelumnya Kasman hadir pada kondisi hujan. Agus Salim merasakan ditunggangi sepeda sejak awal tinggal dirumah kecil yang beliau kontrak di gang sempit itu. Saat hujan Agus Salim sangat tahu kapan sepedanya harus menjadi raja, dan saat terang sepeda itu bergantian melayani tubuh kecil Agus Salim.
Agus Salim yang terkenal dengan orasinya di forum-forum nasional menganggap biasa saja jika dirinya kala hujan harus ditunggangi sepeda. Sepeda yang sudah macet karena lumpur itu tidak mau lagi mengayuh jarak untuk menuju rumah kecilnya. Jalanan yang becek dan melilit ban sepeda itu digantikan dengan kaki pendeknya yang  menjadi pengganti tunggangan sepeda. Bagi Roem, Kasman dan Soeparno yang kepayahan menuju kediaman Agus Salim sangat tahu benar bagaimana kesusahan Agus Salim selama ini ketika musim hujan tiba. Leiden is Lijden memimpin adalah menderita.
Seorang tokoh yang begitu dikagumi anak-anak muda saat itu, pemuda yang tergabung dalam JIB, juga memahami bahwa Agus Salim telah terbiasa dengan kondisi jalan sempit yang pasti telah dilalui oleh Agus Salim setiap hari. Roem sejak awal sangat mengagumi sosok Agus Salim dengan namanya yang sering disebut-sebut para aktivis saat itu. Pertemuan pertamanya dengan Agus Salim membawa kesan yang mendalam bahwa memimpin adalah menderita bukan hanya pada cerita sepeda. Sikap sederhana Agus Salim, Rumah yang kecil, keluarga yang ramah, dan anak-anaknya yang tidak sekolah tapi pandai berbahasa. Menjadi daya tarik tersendiri bagi Roem.  Agus salim menjadi pribadi yang disukai dan dikagumi bagi pemuda-pemuda. Mereka sangat antusias belajar ilmu dan berdiskusi kepadanya dan melupakan kondisi yang ada pada kehidupan Agus Salim sendiri.
Agus Salim yang dilahirkan sejak kecil dari orang yang cukup berada Ayahnya Kepala Jaksa di Riau, dan Agus Salim menerima didikan Belanda,  dengan kecilnya dirawat oleh orang Belanda dan pernah bekerja untuk menjadi mata-mata Belanda dengan gaji yang cukup besar. Kemewahan itu ditinggalkannya atas dasar prinsip kecintaannya terhadap Indonesia. Agus Salim kemudian bergabung dengan Sarekat Islam Hos Tjokroaminoto dan menjadi anggota yang sangat militan di dalamnya. Hidup mewah bagi Agus Salim bukanlah hal yang asing ditemui Agus Salim sejak kecil sampai bekerja menjadi intel Belanda. Sejak pulang dari Mekkah dan menguasai ilmu Agama Islam dan banyak bahasa,  pribadi Agus Salim tegas soal harga diri bangsanya yang harus di mulai dengan kemandirian pribumi.
Agus Salim juga tidak pernah merasa kecil hati, pribadi yang miskin itu tetap saja tidak berubah cara sikap tegasnya terhadap imperalisme dan kolonialisme. Terbukti dengan minimnya keberanian manusia pribumi saat itu, sosok Agus Salim tetap saja ramai  dikunjungi para pemuda dan terus menjadi sosok guru peradaban bagi pemuda saat itu. Keberanian Agus Salim dengan sikapnya yang tanpa basa basi memang sangat memberi nyali bagi para pemuda JIB untuk menjadi petarung dengan segala keterbatasan. Mereka sedikit demi sedikit mengokohkan diri dalam narasi intelektual dan mensetarakan diri untuk duduk sama rendah berdiri sama tinggi dihadapan para penjajah. Melawan dan terus melawan!
Benar kata Pramoedya Ananta Toer “Kalau mati, dengan berani, kalau hidup, hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada…itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita”.    


[1] Lihat, Manusia Dalam Kemelut Sejarah, LP3ES, Jakarta, 1978,  hal 103

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here