Agus Salim dan Soekarno

0
71


Oleh : DHARMA SETYAWAN
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Sejarah persahabatan Bung Karno dan Agus Salim sangatlah panjang. Sebagai anak didik Hos Tjokroaminoto, Bung Karno sangat idealis terhadap nilai-nilai teguh untuk anti terhadap Imperalisme dan Kolonialisme. Tjokroaminoto sebagai Pemimpin pertama Sarikat Islam (SI) adalah guru sekaligus mertua (dari Istrinya Oetari) yang sangat dikagumi Bung Karno. Demikian pula dengan Agus Salim sebagai pemimpin kedua pengganti Tjokroaminoto di Sarekat Islam. Agus Salim adalah orang tua yang mau bekerjasama tanpa merasa senioritas di mata pejuang muda seperti Bung Karno dan lainnya. Bahkan kita juga melihat bahwa Bung Karno dan Agus Salim sama sama di buang di Muntok, di Bangka Belitung. 
Setelah serangan Belanda ke Yogyakarta tanggal 19 Desember 1948, Presiden Soekarno, Wakil Presiden/Perdana Menteri Mohamad Hatta dan sejumlah menteri kabinet RI ditangkap. Dan pada tanggal 22 Desember mereka dibawa ke Sumatera. Setelah rombongan Hatta diturunkan di Pangkalpinang, pesawat bomber B 25 pengangkut tawanan itu meneruskan penerbangan ke barat. Kemudian mendarat di Polonia, Medan, Di situ pejabat-pejabat Belanda sudah menunggu para tawanan penting itu yang terdiri dari Soekarno. H. Agus Salim dan Syahrir, yang langsung dibawa ke Berastagi. Soekarno dan Agus Salim diasingkan oleh Belanda ke Bangka, setelah sebelumnya diasingkan di Berastagi dan Prapat, Sumatera Utara. Dari Prapat, Soekarno dan Agus Salim diterbangkan dengan pesawat amfibi Catalina menuju perairan Pangkal Balam, Bangka. Kejadian itu terjadi pada tanggal 5 Februari Soekarno dan Agus Salim dipindahkan dari Prapat. Mereka dibawa ke Muntok, Bangka; terpisah dari Hatta dan tahanan lainnya yang ditempatkan di Menumbing.
Bung Karno bercerita: “Berastagi berarti mengalami kehidupan Bengkulu lagi. Hanya ada beberapa perbedaan. Satu: mereka tidak menamakannya pengasingan. Sekarang istilahnya ‘penjagaan untuk keselamatan’. Dua: kami dijauhkan dari istri kami. Dan tiga: kami berada di dalam lingkungan kawat berduri dua lapis dan antara rumah kami dengan kawat berduri enam orang pakai senapan mondar-mandir secara bersambung. Wanita yang memasakkan kami senang kepadaku. Di sore hari kedua kami di sana, dia menyelundup ke kamarku dengan gemetar ketakutan. ‘Pak’ katanya menggigil, “Saya tadi menanyakan, apa yang akan saya masak untuk Bapak besok dan opsir yang bertugas menyatakan, Tidak perlu. Soekarno akan dihukum tembak besok pagi.’ Malam itu penakluk kami menyadari, bahwa Berastagi tidak bisa di-pertahankan. Tiba-tiba berhembuslah perubahan yang besar dalam rencana dan esok paginya di waktu subuh mereka memindahkan kami. Belanda juga tidak menyediakan waktu untuk membunuhku. Berangkatlah rombongan orang buangan menuju Prapat yang ter-letak di pinggir Danau Toba. Semenjak aksi militer pertama Belanda telah menduduki daerah semenanjung kecil ini, yang ditumbuhi oleh pinus yang segar baunya dan sejak itu tetap bertahan di sana. Sebelum perang tempat ini telah dipergunakan sebagai tempat istirahat orang Belanda. Rumahnya indah dan cantik. Dan rumah kami letaknya di ketinggian di ujung semenanjung di atas tebing yang curam menghadap ke danau. Sangat indah pemandangan itu. Pun sukar untuk dimasuki. Di tiga sisi dia dikelilingi oleh air. Di belakang rumah adalah daratan dengan jalan yang berkelok-kelok.”
Agus Salim! Orang tua itu begitu tegar, diusia senjanya senyuman seorang revolusioner masih hinggap di raut bibir menyela di Jenggot dan kumisnya. Ratapannya yang sumringah tidak mencirikan pejuang yang lemah. Tanpa mengeluh pembuangannya bersama Soekarno di Muntok adalah bentuk strategi baru yang dimanfaatkan para tokoh ini untuk lebih dekat dengan masyarakat Sumatra. Kita juga melihat bagaimana sebelumnya Bung Karno juga menjadi anggota Muhammadiyah di Bengkulu dan mengajar di sana dengan syarat tidak boleh menyinggung politik. Maka demikian ketika Bung Karno dan Agus Salim di buang di Muntok mereka malah semakin dekat dengan masyarakat kecil. 
Belanda menempatkan Bung Karno di Pesanggrahan Muntok atau dikenal Wisma Ranggam, tak jauh dari pelabuhan Muntok. Pelabuhan ini menjadi saksi sejarah eksploitasi Belanda terhadap kekayaan dari perut bumi pulau itu. Di sudut belakang wisma itu, Bung Karno menempati kamar berukuran 5,5 x 4 meter. Kamar Presiden lebih kecil dari kamar Menteri Luar Negeri Indonesia Agus Salim. Agus Salim menempati ruangan 6 x 4 meter yang bersebelahan dengan kamar Bung Karno. Keduanya menempati ruangan di bangunan utama. Dua tokoh lain yang juga diasingkan di Pesanggrahan Muntok, Ali Sastro Amidjojo dan M Roem, menempati ruangan di sayap depan. Ukuran kamar mereka tidak berbeda dengan kamar Bung Karno. Kamar Bung Karno, selain dekat dengan teras belakang, juga bersebelahan dengan ruang tamu utama. Di tempat itulah, konsep perjanjian Roem-Royen dibahas. Terkait perjanjian itu, banyak diplomat asing mondar-mandir ke Pesanggrahan Muntok. (http://www.bangkabaratkab.go.id/node/790)

Di masa perjuangan kemerdekaan, ketika para pemimpin bangsa terlibat dalam pergolakan pemikiran, Bung Karno dan H. Agus Salim, sudah sering berpolemik panjang lebar soal poligami. Pada beberapa tulisannya, Bung Karno tampak tidak setuju lelaki berpoligami karena dianggapnya sebagai perendahan harkat dan martabat kaum perempuan. Sebaliknya Agus Salim setuju karena pengertian beliau yang mendalam mengenai hal ini. Namun, beberapa tahun kemudian, Bung Karno ternyata mengambil banyak istri banyak sementara Agus Salim tetap beristri satu. Namun demikian persahabatan mereka tetap terjalin karena mereka telah lama solid di pembuangan di Bangka. Soekarno walaupun poligami, adalah seorang laki-laki yang bertanggungjawab karena semua dinikahi. Soekarno memang seorang Don Juan namun diri soekarno bukanlah seorang playboy picisan.
Soekarno sangat menghormati Agus Salim sebagaimana dirinya menghormati Hos Tjokroaminoto. Mereka adalah sosok panutan saat muda Soekarno sekaligus pemimpin besar Organisasi SI saat itu. Dua tokoh yang memiliki pandangan visi sama tentang perlawanan Islam sosialisme. Walaupun awalnya Agus Salim ditugaskan Belanda untuk memata-matai Tjokroaminoto  di SI akhirnya Agus Salim menjadi sosok yang benar loyalis terhadap SI dan menjadi pejuang bersama Tjokroaminoto. Di tampat pengasingan dua tokoh yang berbeda umur itu merajut ketegaran dalam perasaan was-was antara hidup dan mati. Rakyat begitu mencintai Soekarno, Agus Salim, Hatta, Sjahrir dan lainnya. Agus Salim orang tua yang begitu cerdas dalam strategi-strategi diplomasi kenegaraan menjadi Guru sekaligus kawan bagi Soekarno di pengasingan.
“The Grand Old Man” Haji Agus Salim adalah seorang ulama dan intelek. Saya pernah meneguk air yg diberikan oleh beliau sambil duduk ngelesot di bawah kakinya. Saya merasa bahagia bahwa saya ini dulu pernah dapat minum air pemberian Tjokroaminoto dan air pemberian Agus Salim.” (Bung Karno) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here