MEMESRAI KELUARGA AGUS SALIM

0
141

Oleh : DHARMA SETYAWAN
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
 Jika kita mencari sosok pahlawan bangsa yang sangat mencintai keluarganya adalah H. Agus Salim. Kenangan kita semua tentang sketsa wajah yang lebih menampakkan tampilan Pak Tua ini adalah sosok yang sangat peduli dengan keluarganya. H. Agus Salim memang tidak pernah memberikan kasih sayangnya kepada keluarga dalam bentuk harta kemewahan. Hal itu bukan karena H. Agus Salim tidak mampu, tapi sikap low Profile-nya tidak sanggup untuk menikmati kemewahan yang ditawarkan oleh para penjajah. Pasca kemerdekaan H. Agus Salim menjadi diplomat yang ulung, saat menjadi pejabat-pun tidak ada yang berubah. Sepeda tuanya tetap setia menemaninya. H. Agus Salim dalam hidupnya mampu untuk membentuk keluarga dengan karakter pejuang dengan penuh romantisme yang tidak pernah kita duga. 
H. Agus Salim ketika berada jauh dari keluarga, saat-saat menunaikan tugas kenegaraan sebagai diplomat di luar negeri tidak lupa megirimkan surat sebagai bentuk kepedulian tentang keberadaan masing-masing yang jauh di Negara berbeda. H. Agus Salim ketika sedang berdiplomasi untuk kemerdekaan RI agar diakui oleh Mesir pada 1947, beliau sempatkan menulis surat yang kemudian surat itu dititipkan kepada AR Baswedan (AR. Baswedan adalah Kakek Anis Baswedan), salah seorang anggota delegasi RI yang pulang lebih dulu. Kutipan surat kepada isterinya berbunyi:
Maace sayang! Surat pendek ini hendak saya tumpangkan kepada Abdurrachman Baswedan , yang besok pagi terbang pulang ke Indonesia…Sangat sibuk kami bekerja di sini, terutama oleh banyaknya kunjung-mengunjung dan menghadiri perjamuan. Kalau hari sudah malam, badan lesu ataupun pikiran bimbang, karena awak bekerja di negeri orang, kabar dari rumah hampir tidak ada. Awak hidup senang, serba cukup, di rumah entah bagaimana hidup anak dan isteri. Rindu hati tak dapat dikatakan… (17 Juni 1947).
Kata Maace sayang! Adalah bentuk sikap romantis seorang revolusioner. Disela-sela kecerdasannya dalam membangun semangat kemerdekaan lewat jalur diplomasi antar Negara Islam,  Agus Salim memperhatikan hal-hal kecil di dalam dunia mini-nya yaitu keluarga-nya dengan memberikan sejuta kasih sayang. Dalam bentuk dirinya yang berada di luar negeri dengan jamuan dari Negeri Mesir, Agus Salim masih memikirkan keadaan anak dan istrinya yang memang hidup mereka sangat-sangat sederhana. Kata sayang itu terucap lewat surat dengan perasaan rindu yang menggebu. Yang dihadirkan Agus Salim adalah semangat mencintai dengan penuh dan utuh. Kata Sayang yang menegasakan bahwa istrinya adalah bagian dari semangatnya yang terus untuk member yang terbaik untuk bangsa Indonesia.
Lalu kepada anak bungsunya, Mansur Abdurrahman Sidik, yang pada 1947 berusia delapan tahun, Agus Salim juga menulis surat kerinduannya: “Ananda Mansur Sidik! Papa sayang betul dan rindu sama Mansur Sidik, kangen mau pulang. Mansur Sidik musti mendoa biar lekas kita bisa berkumpul pula. Peluk cium papa — A Salim. (17 Juni 1947)”.
Agus Salim adalah contoh seorang ayah dan suami yang luar biasa. Tanpa kemewahan kebahagiaan dan kerinduan untuk berjumpa dengan keluarga adalah sebuah kesakralan. Menghadirkan cinta di dalam keluarga tentu bukan hal yang mudah di padatnya kesubukan Agus Salim yang harus selalu siap meninggalkan keluarganya dalam keadaan apapun. Seorang yang sangat baik terhadap keluarga, adalah bukti nyata kepemimpinan keluarga mempengaruhi sikapnya dalam memimpin dan mengelola bangsa ini. Maka Agus Salim sudah termasuk dalam golongan manusia baik sebagaimana rosul janjikan. Kebaikan yang tidak dapat dibeli dengan uang, kebaikan yang hadir begitu saja menjadi sebuah karakter, kebaikan yang selalu memberi harapan dan kenyamanan untuk orang-orang disekitarnya. Kebaikan yang terus menghantarkan optimisme bahwa yang terbaik adalah memiliki jiwa pengorbanan dalam hidup yang dipersembahkan untuk orang lain.
Sebagaimana Rosul juga menyampaikan,“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang terbaik terhadap keluargaku” (HR. Tirmidzi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here