MENDONGKRAK PENDAPATAN NASIOANAL

0
46


Oleh : Dharma Setyawan
Directur Eksekutif KEPAL (Komite Pemantau Anggaran Lokal)
dan Mahasiswa  Ekonomi Islam Sekolah Pascasarjana UGM
           
            Indonesia adalah negara yang memiliki sumber kekayaan alam yang berlimpah. Dengan banyaknya kekayaan alam, Indonesia semestinya bangkit menjadi negara yang maju dalam bidang perekonomian. Mulai dari kekayaan laut, hutan, daratan dan  dalam perut bumi hampir Indonesia menempati negara yang berlimpah ruah kekayaan. Bahasa jawapun menyatakan bumi Indonesia disebut sebagai “gemah ripah loh jinawi toto tentrem kertaraharjo”. Mulai dari kekayaan laut Indonesia berada pada wilayah yang memiliki laut sangat luas. Terbentang dari sabang sampai merauke laut Indonesia menyimpan berjuta kekayaan yang bernilai ribuan triliun rupiah. Mulai dari rumput laut, ikan, terumbu karang sampai pada minyak bumi di dasar laut yang hari ini belum dikelola dan dimanfaatkan secara baik.
            Daratan Indonesia juga sangat subur dan hidup berbagai tanaman pokok dan palawija untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Mulai dari tanaman padi, jagung, singkong, sagu dan berbagai tanaman pokok lainnya. Selain itu tanaman palawija, buah-buahan Daratan Indonesia juga terhampar hutan yang memiliki satwa berjuta jenis dan menambah kekayaan alam kita. Kekayaan hutan Indonesia pun disebut sebagai paru-paru dunia. Kayu, rotan, hutan mangrove, sawit, karet termasuk komoditas yang jika dikelola dengan tepat akan menghasilkan devisa bagi negara. Dalam perut bumi Indonesia, kita juga harus bersyukur karena banyak kekayaan alam kita tersimpan berjuta ton kekayaan alam. Seperti emas disejumlah titik wilayah di Papua, Nusa tenggara timur dan lainnya. Gas alam kita juga sangat melimpah salah satunya di Aceh. Lebih dari itu di dalam bumi Indonesia tersimpan kekayaan lain mulai dari bijih besi, nikel, timah, batu bara, tembaga, uranium dan lainnya.
Quo Vadis PNB atas PDB
Namun pertumbuhan perekonomian Indonesia berada pada wilayah yang sangat lambat. Dari jumlah penduduk rentang waktu 10 tahun dari tahun 2000  Indonesia berpenduduk 205,132,458 jiwa hingga tahun 2010 Indonesia berpenduduk 237,556,363 jiwa, ternyata Indonesia sangat lambat dalam mensejahterakan manusia di dalamnya. Hal ini bisa kita lihat dari sumber (http://www.bi.go.id) yaitu pada tahun 2000 PDB(produk domestik bruto) per kapita pada tahun 2000  sejumlah 6,774,988.3 rupiah. Dan pada tahun 2010 PDB per kapita hanya naik 9,726,912.7 rupiah. Sedangkan PNB(Pendapatan Nasional Bruto) tahun 2000 sejumlah 6,325,707.9 rupiah dan mengalami kenaikan berkisar 9,335,119.3 rupiah pada tahun 2010.
Pada angka di atas kita dapat melihat bahwa dalam ekonomi Indonesia yang lebih menerapkan ekonomi kapitalis maka terjadi fenomena yang mengejutkan. Dimana PDB dan PNB per kapita bukanlah angka jawaban yang rill untuk menunjukkan sebenarnya pendapatan perkapita penduduk sesuai kenyataan. Pertama, PDB atau PNBbukanlah ukuran nyata pendapatan per kapita penduduk. Karena kenyataannya kesenjangan sosial sangat tinggi di negeri ini. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya penduduk miskin di Indonesia. Ekonomi yang terlalu tunduk pada pasar mengakibatkan peran negara lumpuh dalam tingkat postulat (kebijakan). Perhitungan itu bisa dibuktikan kesalahannya dengan contoh menghitung pendapatan kekayaan Aburizal Bakrie dengan penduduk Lampung. Maka akan terlihat tinggi jika dibagi jumlah penduduk Lampung. Sehingga hasil data menunjukkan kekayaan masyarakat Lampung tinggi, hal itu karena ada satu orang kaya yang melebihi kekayaan penduduk Lampung. Sayangnya perhitungan tersebut tidak membedakan mana penduduk miskin dan mana penduduk elit kaya.
Kedua, Bahwa kapitalisme telah  mengatur kebijakan negara sesuai kehendak para pemilik modal. Regulasi yang dibuat negara adalah cerminan dari para keinginan pemilik modal. Kita bisa lihat beberapa contoh pada Undang-undang Penanaman modal dan undang-undang lainnya. Regulasi tersebut lebih pro terhadap kepentingan asing dan tidak pro terhadap rakyat Indonesia yang jumlahnya mencapai 200 juta lebih.
Ketiga, Bahwa jumlah PDB Indonesia lebih besar dari pada PNB. Hal ini terjadi sampai tahun 2010 dimana posisi PDBselalu diatas PNB. Kita mengetahui bahwa jumlah PDB adalah nilai produk warga negara sendiri di dalam negeri ditambah nilai produk warga negara asing di dalam negeri. Sedangkan jumlah PNB adalah  nilai produk warga negara sendiri di dalam negeri ditambahnilai produk warga negara sendiri di luar negeri. Dari data yang dihimpun Bank Indonesia kita bisa melihat bahwa angka menunjukkan PDB Indonesia selalu lebih besar dari PNB Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa PDB kita bukan didomonasi produk dalam negeri tapi produk luar negeri yang lebih mendominasi. Angka PDB yang lebih besar di negara ini pada faktanya memang terbukti bahwa negara ini sangat welcome dengan produk impor. Mulai dari kendaraan, Handphone, Alat elektronik yang mayoritas berasal dari Cina, Jepang dan Amerika.
Disisi lain Indonesia adalah negara pengimpor terbesara di dunia dalam produk makanan seperti beras, garam, buah, kedelai dan bahan makanan lain. Seharusnya dengan keadaan wilayah daratan Indonesia yang luas ini Indonesia mampu bersaing dalam meningkatkan produktivitas pertanian, sehingga Indonesia tidak perlu lagi impor bahan makanan dari luar negeri. Yang terjadi pada ekspor Indonesia pun masih mengecewakan. Masih banyak barang dalam negeri yang di ekspor dalam bentuk barang mentah atau setengah jadi. Kita bisa melihat ini dalam sektor hutan kita yang lebih banyak mengekspor kayu dan rotan yang masih utuh. Selain itu ekspor minyak bumi kita juga dalam bentuk mentah sehingga Indonesia harus membeli minyak jadi yang kita ekspor ke negara lain.
Membangun Industri Dalam Negeri
Indonesia perlu merumuskan kembali jalan ekonomi yang harus ditempuh untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Indonesia harus menguatkan instrumen yang jelas untuk menumbuhkan PNB di atas PDB. Dalam menumbuhkan PNB, Indonesia harus berani mengambil langkah untuk membangun industri pengolahan dalam negeri sehingga kita bisa membuat barang dalam negeri memiliki nilai jual tinggi dibanding dengan mengekspor barang mentah. Industri dalam negeri juga perlu didukung sumber daya manusia yang terampil dan disiplin. Indonesia perlu mencontoh Cina dan India yang memanfaatkan jumlah penduduk yang sebar untuk menciptakan produk dalam negeri yang mampu membanjiri produk barang di pasar global. Pemerintah Indonesia harus memiliki target kepastian untuk membangun kerajinan masal pada rotan dan kayu yang melimpah ruah menjadi barang jadi yang bernilai tinggi. Ekspor buah yang harus dikemas dengan kebersihan yang terjamin. Pengolahan dan peningkatan pertanian dan kelautan sehingga Indonesia tidak perlu lagi impor barang seperti beras dan garam. Membangun kemandirian industri dalam negeri secara otomatis akan menyerap tenaga kerja yang cukup signifikan. Dan terakhir kita perlu menegaskan bahwa kebijakan impor akan menurunkan PDB dan PNB Indonesia. Saatnya Indonesia menata ulang Kemandirian Ekonomi berbasis Industri Kerakyatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here