MONOTEISME CINTA

0
44

Oleh : Dharma Setyawan Amatya
Cinta itu kata yang ruwet, dengannya kita bisa menjadi hamba dan dengannya pula kita bisa menjadi tuan. Betapa banyak makhluk yang ingin menjadi pencinta. Ia selalu menghadirkan makna pengorbanan, tangisan, kerinduan bahkan kekecewaan akibat cinta yang tidak bersambut. Mencintai juga pilihan, gejolak pikir dan kegelisahan hati menjadikan cinta berdiri mengakar dibenak hidup para pencinta. Bukan hanya manusia, Hachiko seekor anjing jepang pun telah membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi pencinta yang tulus kepada tuannya. Hachiko menunggu bertahun-tahun tuannya pulang di terminal kereta di waktu sore. Walaupun takdir berkehendak lain bahwa sang tuang telah lama meninggal tanpa diketahui oleh hachiko.
Hachiko mengekspresikan cinta tanpa keluhan, tanpa prasangka dan tanpa tendensi bahwa cintanya akan dikhianati sang tuan. Hachiko adalah gambaran rill sebuah cinta yang yang selalu memihak dan berharap tuannya pasti akan kembali. Dalam hal ini Hachiko sampai pada titik kebodohan, nalarnya tak sanggup berfikir karena otaknya tidak diberi akal. Baginya apa yang dilakukannya adalah kesetiaan yang tiada akhir. Orang banyak yang ingin menjelaskan bahwa tuannya telah tiada, percuma dia akan menunggu sampai kematian hachiko tiba. Tapi cinta tetap menjadi alasan tegar bahwa harapannya takkan pupus walau waktu tidak kunjung berpihak.
Begitulah hewan ia mampu menjadi pecinta tapi tidak mampu meraih logika cinta. Kesempatan untuk menjadikan cinta sebagai keberuntungan hanya sampai pada titik pengorbanan. Cintanya menjadi rumit tatkala organ disekitarnya tak mampu memberikan pengertian, menginformasikan kesungguhan kebenaran dan membuat kenyataan apa yang sebenarnya terjadi. Jangankan berdialektika, hewan hanya mampu menjadi pecinta yang terlalu taklid untuk dimengerti. Tapi setidaknya cinta hachiko tulus kepada tuannya yang dulu menemukannya dan merawatnya. Bagi kita manusia, hachiko sudah layak untuk menjadi pecinta tapi tidak cukup cerdas untuk menjadi pecinta dalam segi love behaviorisme (perlilalu pecinta).
Manusia lebih holistik, dalam kesempurnaan akal dan hati cinta dapat hadir dalam wujud rasa dan fikir. Cinta dapat menghujam kedalam dan mendasar pada titik kulminasi perasaan. Cinta juga sanggup menggerakkan sel-sel semangat sampai mengantarkan manusia ke gerak revolusi. Cinta manusia memang sulit diukur, tapi cintanya dapat dirasakan. Sebagai contoh, Cinta orang tua kepada anak tentu sangat besar dirasakan dan absolut tanpa pragmatisme kepamrihan. Manusia pun banyak sikap, banyak kata, banyak air mata untuk meraih cinta. Takdir cinta memang tidak pernah mampu kita raba, tapi kita selalu mengemis penuh harap. Bahkan mungkin kita terlalu yakin, kita terkadang bodoh, terkadang ambisius sampai keharusan dibalasnya cinta menjadi titik keseimbangan (equilibrium) bahwa cinta itu tidak bertepuk sebelah tangan. Sebagai pecinta kita diberi akal yang melebihi karakter cinta hachiko kepada tuannya. Namun kita bisa terkalahkan jika akal kemudian membalikkan cinta kita menjadi karma bagi takdir cinta yang tidak mampu kita raih. Akal kemudian tumpul karena rasa cinta kita terlalu dominan terhadap siapa yang layak dan harus kita cintai. Akal yang layaknya menjadi penyeimbang rasa terbungkus oleh dominasi hati dan melupakan alur cinta yang sesungguhnya.
Jika cinta kemudian menjadi peluru yang membunuh kita, maka cinta menjadi ancaman yang pahit. Tapi jika cinta menjadi ketenangan bagi kita maka cinta menjadi medan juang untuk kita mencari cinta yang lebih kekal dan sanggup mencintai kita lebih tanpa apapun. Cinta pada diri manusia akhirnya bersandar kepada logika yang sesunggguhnya bahwa dari sekian cinta yang hadir akal menuntun kita untuk terus berfikir siapa yang perlu kita cintai dengan hati kita yang paling tulus.
Jika akal membisikkan cinta kepada yang kekal maka cinta hanya bersandar sementara kepada jiwa-jiwa yang tidak kekal. Jika jiwa-jiwa yang tidak kekal menghilang dan tiada, maka cinta yang berakal akan mencari cinta pembaharu yang dia tangkap dan direngkuh dengan harapan keabadian cinta. Bahkan cinta sebenarnya sadar bahwa kenikmatan perasaan cinta itulah yang wajib untuk dicintai. Bahwa kenikmatan mencintai itu harus dikembalikan kepada yang memberi kenikmatan mencintai. Bahwa selama ini kita baru menyadari dan salah memberi kekekalan cinta kita pada yang bukan memberi kita kenikmatan cinta. Kita harus kembali berlogika dan menjadi pecinta yang cerdas.
Bukan seperti cinta hachiko kepada tuan yang ternyata tidak menciptakan perasaan cinta pada diri hachiko. Cinta hachiko hanyalah kewajiban balasan tulus atas kebaikan tuan yang telah merawatnya. Bukan cinta yang hadir karena tuan menciptakan cinta. Maka akal menuntun kita untuk mencintai Zat yang menciptakan cinta dan memberi kita ruang untuk mencari cinta dan berharap cinta itu kekal tanpa pamrih juga sebagai kewajiban menggunakan dan mengembalikan cinta kepada pemilik cinta yang sesungguhnya.   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here