MASJID, MARKAS DAN MEDIA

0
48


Oleh : DHARMA SETYAWAN
Mahasiswa Ekonomi Islam Sekolah Pascasarjana UGM
Tulisan ini hadir dari hasil pengamatan di balik ritualisme para aktivis menjalani tradisinya menjanlankan gerak langkah. Sebelum menuliskan panjang lebar terkait dengan tema di atas, saya ingin menceritakan seorang kawan mahasiswa baru yang tinggal di sekretariat (baca : markaz) KAMMI UIN Jogja. Sebut saja namanya Hari, pertama melihat saya kurang simpati dengan tampilannya yang berambut gondrong, kurus ceking. Walaupun belum masuk KAMMI, namun siapa sangka dari sekian penghuni markas dia yang paling rajin membaca dan paling cepat bangun pagi. Beberapa kali saya mengamati dan mencoba mengenal lebih dekat, sosok Hari memberi inspirasi bagi saya untuk mengkaitkannya dengan tema tulisan di atas. Hari berasal dari Ponorogo, sempat berhenti 1 tahun setelah lulus SMA dan tahun ini melanjutkan kuliah di salah satu Universitas di Jogja. Hari pernah mengatakan ingin membuktikan ekstensi Tuhan lewat Fisika yang sekarang menjadi fokus jurusan kuliahnya. Yang membuat saya tertarik dengannya adalah dia mau menahan lapar dan makan sehari satu kali demi mengumpulkan uang untuk membeli kebutuhan buku. Sesekali pagi sebelum subuh saya mengintip di kamarnya ternyata dia sudah duduk di depan meja kamarnya dan kusyuk membaca buku. Kemudian saya masuk dengan alasan membangunkannya untuk ke masjid sholat subuh.
Cerita di atas hanya sekedar preambul untuk mengurai permasalahan kusut yang selama ini terjadi pada aktivis gerakan KAMMI. Dalam hal ini saya mencoba membandingkan antara KAMMI Jogja dan KAMMI Lampung. Pada point pertama, saya mencoba menggali sejenak bagaimana masjid menjadi titik tolak perubahan bagi sebuah gerakan. Posisi Masjid sebagai tempat bertemunya kesadaran Tauhid (monoteisme islam). Dari sanalah pemikiran genuin tentang perubahan itu dimulai. Maka Masjid menjadi rumah peradaban pertama yang aman untuk membangkitkan kesadaran kita dalam banyak hal, BerTuhan, berjamaah, berdiskusi, berta’awun dan lain-lain. Maka fenomena salah satu Komisariat di Jogja yang masjid kampusnya tidak boleh dilakukan aktivitas di atas menjadi problem tersendiri karena organisasi gerakan lain sudah melakukan hegemoni untuk memacetkan kesadaran tauhid para mahasiswa. Mereka membuat aturan pelarangan masjid untuk tempat diskusi. Kita kemudian tersadar kenapa Rosul membangun masjid pada awal hijrah di madinah sebagai bentuk pembangunan Monoteisme Islam.
Kedua, sekretariat (baca :markas), menjadi begitu penting dimana ketika masjid pada awal tadi menjadi tempat pembangunan Monoteisme Islam. Markas ternyata menjadi tempat yang nyaman untuk membentuk kader produk rumah peradaban. Dari beberapa pengamatan yang penulis lakukan baik di Komisariat KAMMI di Lampung dan Jogja. Fakta menunjukkan bahwa komisariat yang tidak memiliki markas mereka akan kesulitan mempertemukan ide-ide yang terkadang muncul dari individu. Ide-ide ini pun kemudian hanya berserakan karena tidak pernah bertemu pada kutub yang saling memagnet. Komisariat yang tidak memiliki markas mereka hanya sibuk bertebaran tanpa meneguhkan gerakan yang sebenarnya memerlukan tabiat berjamaah.
Ketiga media, point satu ini sangat penting dalam memantik tingkat progesifitas kader dalam menghadapi isu-isu yang berkembang baik di lingkungan lokal maupun nasional. Setelah Komisariat memiliki markas semestinya kesadaran bergumul dengan media ini menjadi kebutuhan fundamen. Media dalam hal ini banyak ragam mulai dari Buku, Internet, Koran bahkan televisi di tiap sekretariat. Di Lampung sendiri KAMMI Komisariat yang tidak memiliki sense of information, berakibat pada kurangnya progresifitas kader dalam meneguhkan gerakan KAMMI. Komisariat STAIN Metro, IAIN Raden Intan dan UNILA sudah memiliki point di atas dengan Masjid kampus tempat Monoteisme Islam. Kader-kader komisariat di atas cukup responsife dan tanggap isu. Komisariat di atas memiliki Markas sebagai tembat diskusi, fasilitas perpustakaan, berlangganan koran dan lain-lain. Sedangkan di KAMMI Komisariat ZAPA (Zaenal Pagal Alam) baru sampai pada meneguhkan jati diri di Masjid. Komisariat Zapa belum meliliki markas dan pada problem selanjutnya adalah kurangnya akses informasi. Yang lebih memprihatinkan di Universitas Muhammadiyah Metro (UMM) menikmati kondisi intervensi oleh statuta organisasi Muhammadiyah, yang melarang KAMMI beratribut di Kampus. KAMMI UMM bahkan tidak memiliki 3 point di atas Masjid, Markas dan Media. Media seperti koran sangat penting sebagai informasi up-date kader. Di STAIN berlangganan 2 koran Tribun Lampung dan Lampung Post dan kader juga sudah mulai sadar pentingnya kemampuan jurnalistik, begitu juga di IAIN kader-kader komisariat tersebut cukup masif bermedia. Kalau UNILA tidak perlu di ragukan lagi karena sebagai kawah candradimuka gerakan di KAMMI Lampung, walaupun sekarang terjadi permasalahan minimnya angka jumlah perekrutan tapi ini bisa kita diskusikan di forum lain.
Di Jogja sendiri KAMMI Komisariat UGM memiliki kelengkapan 3 point diatas Masjid, Markas dan Media, begitu juga di UNY. Namun pengamatan saya di UIN Sunan Kalijaga menjadi lain, kondisi kader di sini mengalami berbagai intimidasi baik fisik maupun psikis dimana rezim lawan belum pernah tumbang. Masjid tidak boleh digunakan aktivitas monoteisme Islam, bahkan di depan Masjid UIN bertuliskan Labolaturium Agama. Saya kemudian bertanya apa agama menjadi sebuah penelitian untuk percobaan? Namun beruntug KAMMI UIN sudah memiliki markas yang saya bilang cukup mewah karena saya untuk sementara waktu tinggal di komisariat UIN tersebut. Walaupun masih perlu yang banyak dibenahi dari markas berlantai 2 tersebut, namun kesadaran untuk bermedia belum muncul di KAMMI UIN.  Buku di markas minim bahkan tidak ada langganan koran untuk bacaan . Kemudian saya yang sekarang tinggal sementara di KAMMI UIN mensiasati dengan saya berlangganan koran Tribun jogja yang seharga 1.000 rupiah per koran. Paling tidak ini membuka kesadaran para kader komisariat betapa sebenarnya mereka butuh informasi baru di setiap hari-hari mereka yang harus di hadapi. Jika di survei, tingkat kesadaran dan kepekaan kader terhadap bacaan media antara UGM dan UIN cukup jauh. Ketika saya masuk komisariat UGM buku disana lumayan bermutu dan ada koran kompas. Harapan ke depan KAMMI Komisarian UIN harus berlangganan koran dan minimal menargetkan pembelian buku Mantuba. Kedepan perlu bagi KAMMDA Kota Yogyakarta untuk memberi Dauroh kehumasan bagi AB 2 sebagai kelanjutan training jurnalistik ketika AB 1. Juga perlu merumuskan kembali manajemen markas yang di atur oleh KAMMI sehingga yang tinggal di Markas KAMMI UIN adalah kader KAMMI yang siap membangun gerakan bukan orang lain yang menumpang tinggal di markas.
Kondisi kader di Jogja pun kemudian terjawab pada tingkat progresivitas gerak. Pada diskusi yang diadakan oleh KAMMI Komisariat UGM di Jogja Muslim Fair 2011, 3 point yang saya sebutkan di atas cukup berpengaruh pada pola fikir kader dimana kepekaan kader KAMMI UIN dan UGM sangat berbeda terhadap realitas politik yang terjadi. Kader KAMMI UIN cenderung defensif terhadap diskusi siyasi dan cenderung memainkan peran ke LDK-an pada ritualisme gerakan. Pada diskusi tersebut saya melihat sedikit anak KAMMI UIN yang tertarik untuk hadir dalam diskusi publik tersebut. Pada posisi demikian, sebenarnya KAMMI UIN tidak menjadi permasalahan namun untuk menghadapi hegemoni rezim kampus yang sudah berkuasa sejak lama kondisi hari ini masih sangat berat jika KAMMI UIN ingin memenangkan pertarungan. Pola gerak kader perlu mendapat gayung hangat dari komisariat lain seperti UGM dan UNY yang lebih siap bergerak di ranah publik, terkait dengan masifnya komisariat tersebut tanggap terhadap isu lokal dan nasioanal. Dampaknya pasti terjawab, bahwa komisariat yang sadar akan bacaan media akan melahirkan kader-kader yang progresif dan tidak defensifdari sisi isu yang berkembang di sekitar gerakan KAMMI.
Tulisan ini bukan bermaksud untuk membandingkan kader antar komisariat tapi bermaksud mensinergikan plaform gerak KAMMI agar satu sama lain saling melengkapi dan tidak bersifat elitis satu sama lain. Pada akhirnya seorang kawan bernama Hari tadi mengajarkan kita pentingnya arti berkorban, bahwa Hari memberi inspirasi pada diri pribadi tentang asupan otak yang jauh lebih penting dari asupan perut. Hari menyadari dengan dia menahan lapar dan sedikit memberi kemewahan pada makanan otak jauh lebih penting dan berakibat pada harapan meningkatnya progresifitas langkah-langkah dakwah kedepan. Bahkan rutinitas harinya terbiasa dengan makan sekali di angkringan dengan Rp 3000,- / hari. Sungguh angka kebutuhan makan yang sangat kecil untuk menegakkan tulang badannya. Tapi demi media bacaan Hari mau melakukan hal tersebut. Media seharusnya menjadi kebutuhan wajib bagi kader yang sering di sematkan kata aktivis pada pribadinya. Betapa kemudian kita harus sadar akan pentingnya Masjid, Markaz dan Media sebagai agregat gerak fundamen yang seharusnya menjadi capaian-capain komisariat untuk dapat memilikinya. Bahkan tidak mustahil di kemudian hari rumah peradaban KAMMI se-Indonesia memiliki bangunan permanen mandiri yang siap mencetak kader-kader yang siap berjalan dengan system yang baik. Kita berharap kesadaran media kader akan membangun kesadaran media tulis. Media tulis diharapkan akan mampu membangkitkan dakwah publik KAMMI, sebagaimana semangat founding fathers seperti Soekarno yang dulu pernah mendirikan Jurnal Indonesia Moeda, M.Hatta dengan jurnalnya Indonesia Merdeka dan Sjahrir dengan jurnalnya Daulat Rakyat. Media tulis mengingatkan kembali semangat tradisi penalaran yang pernah di rintis oleh Pemikir negeri ini. Kita pernah memiliki sosok Buya Hamka sebagai seorang Ulama yang juga sebagai penulis. Kita juga pernah memiliki M. Natsir sebagai seorang Politikus juga Penulis.Kita harus percaya bahwa system yang baik akan melahirkan kader yang baik. Semoga!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here