FRUSTASI PELAJAR DAN MAHASISWA

0
77


Oleh : DHARMA SETYAWAN
Ketua Komunitas Hijau /
Mahasiswa Ekonomi Islam Sekolah Pascasarjana UGM
Negeri ini tidak henti-hentinya menuai banyak permasalahan mulai dari buruknya perilaku pejabat politik sampai pada perilaku buruk para pelajar dan mahasiswa. Peristiwa pada (19/9/2011) yang mencengangkan kita semua terjadi pada pelajar SMA 6 Jakarta yang melakukan penyerangan terhadap puluhan wartawan. Peristiwa biadab tersebut dilakukan oleh para remaja yang notabene adalah para pelajar yang masih diurus oleh orang tua. Apalagi SMA 6 Jakarta terkenal dengan sekolah elit yang disana banyak pelajar yang orang tuanya adalah pejabat dan artis. Di Bandar Lampung tawuran terjadi didua kelompok mahasiswa yang saling lempar. Dua kelompok mahasiswa Universitas Lampung yang berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Teknik (FT) saling melempar batu pada aksi tawuran di Universitas Lampung, Rabu (21/9/2011). Tawuran mengakibatkan puluhan mahasiswa terluka dan merusak sedikitnya 18 mobil. Selain itu pada kondisi daerah masyarakat kita juga sering terjadi kerusuhan antar warga. Ada yang hanya dipicu masalah sepele sampai pembunuhan salah satu warga etnis tertentu. Suguhan kekerasan hampir setiap hari ditampilkan di media kita, sebagai gambaran kondisi mental masyarakat Indonesia yag sedang sakit. Ada apa dengan bangsa ini?
Generasi Pendidikan Frustasi
Dari peristiwa di atas kita dapat melihat gejala-gejala yang timbul adalah indikasi generasi bangsa yang sedang frustasi. Sedikit sebab yang sepele dan sangat tidak substansi dapat memicu kerusuhan besar hingga klimaknya terjadi tawuran yang mengakibatkan luka, pembunuhan dan rusaknya fasilitas umum. Pelajar dan mahasiswa semestinya berfikir keras dan cerdas untuk masa depan bangsa telah menghianati amanah diri dengan melakukan tindakan anarkis yang merusak citra buruk hasil pendidikan. Pada kasus pengeroyokon yang dilakukan ratusan pelajar ke puluhan wartawan selayaknya hal itu tidak terjadi apalagi terjadi pada saat kewajiban menuntut ilmu wajib bagi mereka. Tindakan yang mereka lakukan merupakan cerminan frustasi yang terjadi akibat akumulasi buruk para pemangku kebijakan negeri ini. Pada hakekatnya manusia tidak menginginkan adanya ancaman satu sama lain. Untuk itu pendidikan semestinya membuat kita lebih baik dan menjauhkan sifat manusia pada sebelumnya yaitu homo homini lupus (manusia pemakan segala). Sifat inilah yang kemudian membuat manusia satu dengan yang lain saling sikut, saling berkelahi dan bahkan saling membunuh. Pelajar yang dididik untuk menjadi lebih baik faktanya tetap menjadi manusia yang berperilaku sama dengan orang yang tidak berpendidikan. Mereka yang masih pada usia belia pun sudah berani menyerang sejumlah wartawan lalu bagaimana nanti ketika mulai hidup di masyarakat dengan segudang permasalahan yang begitu kompleks.
Para pelajar dan mahasiswa sebagai pewaris intelektual dan agen of change telah berperilaku buruk bahkan offside dari koridor sopan santun. Para pelajar di SMA 6 Jakarta dan Mahasiswa di Universitas Lampung ini adalah sebagian contoh dari kondisi generasi frustasi yang gagal dalam menempa moral pendidikan. Selain itu kita juga patut prihatin dengan perilaku kehidupan bebas para pelajar dan mahasiswa di Indonesia yang telah mengidap penyakit hedonis dan apatis. Penyakit hedonis ini terbukti dengan banyaknya gaya hidup mewah para pelajar dan mahasiswa akibat dari tayangan televisi yang menyuguhkan hidup enak, harta berlimpah dan pola borjuis. Tayangan sinetron menyuguhkan pola hidup remaja yang berfashion mahal dan berkendaraan mahal. Hal ini yang membuat para generasi apatis dan bermimpi muluk tanpa kerja keras tapi malah sebaliknya hidup bermalas-malas dan menuntut orang tua untuk memberikan mereka fasilitas yang sama seperti kehidupan di sinetron.
Pergaulan bebas juga sudah terjadi pada pelajar dan mahasiswa kita di kota-kota di Indonesia. Mulai dari seks bebas hingga narkoba hal ini bukan hal baru bagi generasi bangsa ini. Kita merasakan benar bagaimana kota-kota besar malah menjadi magnet buruk bagi generasi sehingga melupakan local wisdom (kearifan local) yang sepatutnya dijaga bangsa ini sebagai bangsa timur yang penuh dengan sopan dan santun. Narkoba pun terus mengintai dan menjadi momok berbahaya bagi otak generasi bangsa ini. Mulai dari hal-hal yang ringan pelajar merokok, minuman keras, dan sampai narkoba pelajar indonesia menjadi surga uang bagi pemilik produksi barang haram di atas. Bahkan pelajar wanita di kota-kota juga tidak asing dengan barang haram tersebut. Imbasnya yaitu pada kasus pemerkosaan yang terjadi kepada pelajar kita adalah akumulasi dari disorientasi hidup yang berawal dari kehidupan bebas yang mereka jalani. Sayangnya di Jakarta malah terjadi aksi dengan memakai rok mini dan menyudutkan pihak yang ingin memperbaiki perilaku bebas para generasi frustasi ini. Rokok, minuman keras, narkoba, fashion yang memancing birahi tidak pernah dipersalahkan tapi hal yang lain yang malah dipersalahkan.
Mengobati Pendidikan Frustasi
Pendidikan kita perlu banyak mendapat koreksi oleh berbagai pihak. Pendidikan yang seharusnya memberikan nilai-nilai moral pada generasi pada faktanya hanya menjadi titik jenuh para pelajar dan mahasiswa. Hal ini dapat disebabkan bebarapa hal. Pertama, bahwa pendidikan kita hanyalah ritualisme tuntutan semata dan bukan pola kewajiban setiap warga negara untuk membangun sumber daya manusia yang unggul dari pendidikan. Pendidikan juga tidak menarik karena kurangnya penghargaan pemerintah kepada kaum intelektual di negeri ini. Maka wajar kurangnya perhatian pemerintah kepada karya hasil riset pendidikan menyebabkan dunia pendidikan menjadi instrumen yang tidak menarik. Sehingga orang akan beralih pada instrumen lain dan menghindari pola pendidikan yang seharusnya mampu mengikat moral dan menanamkannya ke pemikiran generasi bangsa. Pada akhirnya kondisi pendidikan yang mengalami stagnasi atau status quo akan ditinggalkan. Sehingga para generasi lebih memimih untuk masuk ke dunia instan seperti ingin menjadi artis yang berlimpah uang. Nilai etika pendidikan yang semakin kabur ditambah semakin meningkatnya dunia entertainment menjadi terbalik fungsi pendidikan telah digantikan oleh para artis. Para artis ini kemudian mengajarkan pola hidup mereka yang serba mewah dengan uang berlimpah.
Kedua, Negara terkesan cuci tangan dengan gejala buruk yang terjadi pada pendidikan kita. Negara dengan segala instrumennya seharusnya lebih fokus pada proteksi untuk menyelamatkan moral bangsa ini dari fenomena degradasi moral. Pemerintah perlu mengambil alih kebijakan dengan mengatur kebebasan para pelajar dan mahasiswa agar kembali kepada jalur naturalnya sebagai seorang peserta didik. Regulasi tentang tayangan media bagi pelajar perlu mendapat sanksi bagi media yang bertujuan hanya untuk merusak para generasi kita. Tayangan yang menayangkan tantang pola tingkah pelajar yang urak-urakan harus segera dihentikan dan pelajar harus kembali pada pola kehidupan yang benar-benar realistis dan nyata.  Bukankah Socrates juga berpendapat bahwa tugas utama negara adalah mendidik warga negara dalam keutamaan (arate). Socrates pun menyerukan “Gnooti Seauton” (kenalilah dirimu). Pelajar yang mengenali dirinya diharapkan mampu untuk dapat mengemban amanah sebagai generasi penerus yang baik di masa depan. Semoga!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here