MENGGAGAS PENDIDIKAN KARAKTER (Mendukung Siami dan Alif Awards)

0
68

Oleh : Dharma Setyawan
Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)

Kita sama-sama tercengang dengan kejadian yang menimpa Ibu Siami orang tua muruid Alifah Ahmad Maulana yang dipaksa gurunya untuk menyebarkan jawaban ujian nasional SD. Ny Siami (38) yang diusir ratusan warga setelah melaporkan guru SDN Gadel II yang memaksa anaknya memberikan contekan kepada teman-temannya saat ujian nasional, 10-12 Mei 2011 lalu, akhirnya menuruti kemauan warga. Siami telah meninggalkan rumahnya di Jl Gadel Sari Barat, Tandes lantaran tak tahan dengan tekanan dan gelombang demo warga. Mereka kini mengungsi di Solo. Mediasi yang dilakukan para tokoh masyarakat akhirnya sia-sia karena masyarakat lebih memilih mendengar orang tua murid yang takut ananknya tidak lulus dari pada membela kebenaran dari apa yang di gugat Siami atas perbuatan kotor oknum Guru yang menyuruh Al untuk menyebarkan jawaban kepada temannya saat ujian nasional.
Fenomena Gagalnya Pendidikan
Siapa yang salah? Pertanyaan ini sama-sama muncul di benak kita semua, ada beberapa hal yang perlu dilihat dalam kasus ketidakjujuran penyelenggaraan pendidikan kita. Pertama, jika meneliti apa yang diungkap Siami, semestinya bagi warga negara yang menginginkan kebaikan generasi, kita harus angkat kepala untuk mengatakan mana yang memang benar dan mana yang memang salah. Pada posisi ini Siami ingin mengajarkan anaknya tentang makna kejujuran dari setiap proses hidup yang dilalui. Siami ingin memberikan sifat baik  terhadap masa depan anaknya atas apa yan dilakukan gurunya untuk menyebarkan kunci jawaban. Kedua, warga masyarakat dan orang tua murid juga tidak bisa disalahkan begitu saja dalam perkara yang terjadi. Wajar jika orang tua takut anaknya tidak lulus ujian, wajar jika orang tua cemas terhadap masa depan anaknya karena dapat mengalami depresi jika ujian diulang karena dari pengulangan ujian tersebut ada yang tidak lulus. Namun juga tidak benar jika Siami disalahkan dan akhirnya mediasi berujung dengan pengusiran  dari rumahnya dan harus berpindah ke Solo. Ketiga, Pemerintah yang sampai hari ini terjadi polemik tuntutan dari berbagai pihak untuk menghilangkan ujian nasioanal bagi siswa. Pemerintah juga terkesan setengah-setengah dalam mereformasi system pendidikan.
Pendidikan merupakan sesuatu instrumen fundamental dalam memajukan negara. Dengan pendidikan manusia meningkatkan kapasitasnya dlam menjalankan profesionalisme kehidupan. Dengan pendidikan manusia dapat menemukan teknologi, menemukan etika moral, menemukan kebenaran dan menemukan banyak hal yang menjadi prasyarat manusia untuk mendapat tempat hidup yang lebih baik. Namun jika kita melihat fenomena pendidikan di Indonesia kita masih melihat pendidikan masih menjadi barang langka bagi rakyat. Pendidikan yang mayoritas dipahami oleh para elit dan masyarakat awam adalah sebuah ritualisme pendidikan bukan substansi pendidikan.
Kita harus mengakui bahwa pendidikan kita masih banyak hal-hal yang janggal dan banyak kita temui dilapangan kegagalan pendidikan kita. Orang tua jadi lebih takut anaknya gagal karena tidak naik kelas atau tidak lulus ujian. Orang tua lebih senang anaknya lulus walau dengan cara curang tanpa memandang nilai-nilai kejujuran. Pendidikan hanya menjadi formalitas tanpa menimbang output hasil pendidikan seperti skill (kemampuan) peserta didik. Bahkan kita masih banyak temukan pendidikan kita hanya menjadi lahan bisnis dari tingginya biaya pendidikan yang disediakan oleh pemerintah atau swasta. Lembaga pendidikan kita tidak ubahnya seperti lembaga penampung anak-anak yang dimandulkan kreatifitasnya. Pendidikan kita dikekang oleh para pendidik yang otoriter, kaku, tidak harmonis dan sangat membosankan.
Pentingnya Pendidikan Karakter
Socrates berpendapat bahwa tugas utama negara adalah mendidik warga negara dalam keutamaan (arete). Maka Socrates menyerukan “Gnooti Seauton” (kenalilah dirimu), dalam hal ini pendidikan Socrates menginginkan peserta didik lebih mengenal siapa diri kita, apa bakat kita dan apa yang kita lakukan di masa depan. Anis Matta menjelaskan dalam bukunya “Delapan Mata Air Kecermelangan : 2009”, bahwa akar dari semua tindakan, perilaku, kebiasaan dan karakter kita adalah lintasan pikiran yang bertebaran dalam benak. Lintasan pikiran itu menyerbu benak kita, maka ia berkembang menjadi memori, dan memori itu secara perlahan berkembang menjadi ide gagasan atau pikiran. 
Pikiran itu selanjutnya menukik lebih jauh dalam diri kita, dalam wilayah emosi dan membentuk keyakinan, maka keyakinan berkembang menjadi kemauan dan secara perlahan kemauan berkembang menjadi tekad. Begitu ia menjadi tekad, pikiran itu telah memperoleh energi atau tenaga agar ia terwujud dalam kenyataan. Setelah itu, tekad menjalar ke dalam tubuh dan menggerakkannya. Maka, lahirlah tindakan. Bila tindakan tersebut dilakukan secara berulang-ulang, maka terbentuklah kebiasaan dan bila kebiasaan itu berlangsung dalam waktu lama, terbentuklah karakter.
Salah satu cara yang tepat dalam mengelola pendidikan kita seharusnya adalah membebaskan peserta didik untuk memilih apa yang akan dilakukannya sehingga muncul karakter peserta didik di masa depan. Proses ujian nasioanal yang diterapkan oleh pemerintah untuk beberapa mata pelajaran tidak memberi jaminan peserta didik memiliki kemampuan karakter. Pendidikan karakter yang seharusnya bukan saja menilai peserta didik dari angka-angka tapi dinilai dari bakat, apa yang mereka minati dan berkembangnya karakter yang berguna bagi masa depan. Jelas dalam hal ini pendidikan bukan untuk mematikan kreativitas  dan memaksa peserta didik untuk menghafal hal yag tidak menjadi bakat karakternya. Kesalahan pendidikan kita adalah peserta didik merasakan perbedaan yang cukup signifikan antara materi yang disampaikan disekolah dengan dengan realitas yang terjadi dilingkungan nyata. Pada satu kondisi kita mengakui bahwa para peserta didik kita sangat tidak siap dan bahkan terombang-ambing delam kehidupan nyata karena miskin skill dan karakter.
Kita perlu mencontoh dari Dr. Irina Pramong Pradja seorang pendiri sekolah KAMI bagi anak-anak pemulung di Jakarta. Apa yang dilakukan ibu Ina panggilan akrabnya mampu merubah anak-anak pemulung menjadi anak-anak yang mampu menemukan karakter dan skill yang sangat berguna bagi kehidupan realitas. Ibu Ina mendirikan pendidikan gratis bagi anak-anak pemulung dengan konsep yang sangat luar biasa. Dalam konsep pendidikan di sekolah KAMI anak-anak pemulung diberikan pelajaran sekolah pada umumnya yang langsung menyentuh pada karakter anak. Pelajaran yang berikan pun sangat disukai dan anak-anak dibiarkan untuk memilih kreatifitas yang mereka inginkan. Bahkan di dalam kurikulumnya juga diajarkan beberapa kelas yang menarik untuk memantik bakat anak-anak pemulung dengan menyediakan kelas penjahit, pertukangan, dan lainnya. Disekolah KAMI juga ada pengajar dari asing yang sukarela mengajarkan bahasa inggris untuk anak-anak pemulung. Siapa yang akan menyangka kalau dari sekolah itu telah banyak menghasilkan karya-karya dari anak-anak pemulung yang kreatiif mulai dari tas, dompet, kursi, seragam baju dan lainnya. Di sekolah tersebut juga menyediakan musik tradisioanl untuk membuat anak-anak rileks dalam belajar.
Pada intinya sekolah yang didirikan Ibu Ina adalah bukti bahwa tidak ada anak yang bodoh dan takut akan masa depan yang suram. Pendidikan yang diberikan seharusnya menjadi pembebasan bagi anak-anak untuk menemukan karakternya masing-masing. Nilai ujian yang baik tidak menjamin seorang anak akan sukses di masa depan. Pendidikan karakterlah yang akan membawanya pada suatu bakat yang dimiliki sehingga menjadikan para generasi tahu dan mampu untuk berkembang secara baik bukan untuk belajar berbohong hanya karena nilai. Mari memulai membangun pendidikan yang berkarakter!
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here