MENCARI NEO”KARTINI”ISME

0
63

Oleh : DHARMA SETYAWAN
Ketua Komunitas Hijau Lampung 
dan Aktif di Kajian Strategis KAMMI Lampung

21 April hari yang spesial bagi wanita Indonesia. Hari dimana para wanita mengenang sosok pembaharu yang mengangkat harkat martabat wanita di Indonesia. Wanita dimasa penjajahan belanda mengalami berbagai ketidakadilan, perlakuan yang semena-mena oleh kaum laki-laki, dibiarkan terpuruk dalam kebodohan tanpa dunia pendidikan dan lain sebagainya. Kartini menjadi sosok pemecah kebuntuan peradaban zaman bagi wanita di Indonesia. Kartini menjadi sebuah representasiperjuangan kaum wanita di Indonesia yang memimpikan sebuah perubahan bagi diri dan derajat kaum wanita saat itu.
Namun peringatan Kartini yang setiap tahun dirayakan di negeri ini tidak menjadikan refleksi bagi kita semua akan masa depan bangsa Indonesia yang salah satunya bertumpu pada kaum Wanita. Maraknya Prostitusi, Pornografi, dan pornoaksi adalah gambaran hari Kartini hanyalah sebuah ritualismetahunan yang dilakukan tanpa ada sebuah makna untuk saling memperbaiki kondisi dan harkat martabat di Indonesia. Budaya Timur yang terkenal dengan sopan santun, tata krama, tepo sliro telah menjauh dan malah semakin mendekat dengan peradaban barat yang sangat mengagungkan prinsip Kebebasan (Liberalisme). Sosok Kartini sebenarnya sudah lama tidak menjadi panutan bagi bangsa ini dalam mengambil peran Wanita. Padahal Kartini dikenal sebagai sosok wanita pembaharu dalam Intelectualisme dan Budaya Bangsa.
Semakin menjamurnya Budaya Barat di Indonesia membuat wanita Indonesia semakin lupa dengan akar budaya yang kita miliki selama ini. Dan lebih dahsyatnya lagi kita terkadang masih saja berani melantangkan nasionalismeyang sebenarnya sudah lama hilang tergerus budaya barat yang semakin hari mencengkeram kita. Sebaiknya kita menengok kembali bagaimana sejarah peradaban barat dalam melihat makhluk yang bernama wanita. Philip J. Adler, dari East Carolina University, dalam bukunya World Civilizations (2000), menggambarkan bagaiman kekejaman barat dalam memandang dan memperlakukan wanita. Sampai abad ke- 17, di Eropa wanita masih dianggap sebagai jelmaan setan atau alat bagi setan untuk menggoda manusia. Seorang penulis jerman abad ke- 17 Adler menulis : It is fact that women has only a weaker faith (In God). Adalah fakta bahwa wanita itu lemah dalam kepercayaan kepada Tuhan. Dan itu sesuai dengan konsep etimologis mereka tentang wanita yang dalam bahasa mereka di sebut ‘female’ yang dalam bahasa Yunani ‘femina’. Kata ‘femina’ berasal dari kata ‘fe’ dan ‘minus’.‘Fe’ artinya ‘fides’, ‘faith’(kepercayaan atau iman). Sedangkan ‘mina’berasal dari kata ‘minus’ artinya kurang. Jadi femina artinya seseorang yang imannya kurang (one with less faith) karena itu barat di abad ke- 17 memandang wanita sebagai makhluk jahat.
Karenanya di Abad ke- 17 di barat banyak terjadi pembantain terhadap kaum wanita. Adler mengungkap data pada periode 1572-1629, ada 152 wanita yang dibantai dan dituduh tukang sihir, mereka dibantai dengan cara digantung dan dibakar hidup-hidup. Sebanyak 306 orang hampir semua wanita  dibantai hanya dalam tempo 6 tahun di desa-desa dekat kota Trier dan hanya ada 2 saja wanita yang tersisa.
Lain dengan Islam sejak abad ke- 7 Islam sudah memberikan garis yang tegas bagaimana dalam memandang dan mendudukan posisi wanita baik secara individual, keluarga dan masyarakat. Islam begitu menghargai wanita ketika dulu para orang tua harus mengubur hidup hidup karena malu memiliki anak perempuan. Islam menghargai wanita yang haid dan tidak mengusirnya seperti yang dilakukan Yahudi bahkan Islam tidak menyuruh Istri harus bunuh diri mengikuti suami yang telah meninggal seperti pernah terjadi di India. Bahkan di Islamlah wanita mendapatkan hak warisan ketika saat itu wanita tidak memiliki hak sedikitpun. Islam juga mengatur Poligami hanya sampai empat ketika dulu banyak para raja mengambil istri dan selir sesuai keinginannya.
Pembantaian wanita di Eropa itu terjadi pada abad ke- 17 , jadi 1000 tahun atau 10 abad setelah islam menyelesaikan konsepnya tentang Wanita dan mangangkatnya menjadi makhluk terhormat. Setelah Barat terjatuh kedalam satu kutub Ekstrem, mereka sekarang terjatuh dalam kutub ekstrem yang lain. Jika dulu Barat menindas wanita sekarang Barat melepaskan wanita sebebas-bebasnya.Dengan konsep Liberalisme dan relativisme para wanita dipandang sebagai keindahan dan harus dinikmati. Budaya Barat sekarang lebih melegalkan bahwa kecantikan harus diumbar, Maka tidak heran jika persepsi barat bahwa manusia di nilai dari segi penampilan. Media yang telah memberikan transformasi budaya Barat menjadikan bangsa kita mengikuti Budaya mereka. Kontes kecantikan Putri Indonesia, Take him/me/selebriti out, miss waria, dan acara syahwat lainnya merupakan produk-produk budaya barat. Wanita dihargai bukan karena kecerdasan atau usahanya tapi karena Fisiknya. Fisik adalah sesuatu yang ‘Given’.Jika hal ini menjadi paradigma semua kalangan maka tidak ada tempat bagi orang-orang yang di karuniai Tuhan dengan fisik yang kurang. Acara seperti take me out tentu tidak akan berlaku jika manusia lebih mengedepankan isi dari pada tampilan.
Dan jangan heran jika Negeri ini lebih menghargai Artis dari pada para tokoh Pendidikan. Negeri yang tergila-gila dengan budaya lain yang akhirnya lebih menempatkan Fisik dan tampilan dari pada isi. Negeri yang mengangkat para penebar syahwat ke tempat terhormat. Lihat saja dari kontroversi Inul, Trio macan, Dewi persik yang merusak moral para wanita.
Semangat perubahan yang dilakukan Kartini perlu kita bangkitkan kembali untuk mengobati pola fikir masyarakat kita yang sudah sakit dan lupa akan budayanya sendiri. Sikap baik dari Individu maupun Kolektifakan menjadi penyembuh bagi para generasi masa depan yang semakin tidak menyadari bahwa dulu nenek moyang kita memiliki peradaban yang lebih baik dari pada peradaban syahwat yang selama ini di konsumsi bangsa ini. Spirit kartini akan menjadi penggerak bangsa untuk menuntaskan perubahan bangsa yang lebih baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here